
Dinda kini sudah berada di rumah, dan dia tiba-tiba ingin melihat kembali rumah tetangganya dari teras kamar miliknya..
Suku aku sering bertanya,siapa gerangan penghuni baru rumah ini.. saat mengetahui siapa orang tersebut, membuat aku kaget, gak nyangka bisa dekat dan jalan-jalan, dia orang yang perduli, walau awalnya dia sangat cuek, Kaku dan tidak berperasaan" ucap Dinda sambil menatap rumah yang sudah lama tidak di datangi sang guru tersebut...
"Brummmm..brumm" Sebuah mobil terparkir di depan rumah sang guru, dsn mobil itu oun sangat mirip dengan mobil sang guru yang dulu ikut kecelakaan...
Dinda menatap sendu mobil tersebut, dsn semua jadi kenangan, dulu sangat kenal dan peduli, sekarang Tidak mengenal sama sekali, walau dengan kejadian ini orang Tua Sinda kembali seutuhnya dan seperti yang Dinda ingin kan, namun orang yang juga Dinda harap kan yang kini zidal lagi bersamanya...
Ada dua orang yang keluar dalam sebuah mobil yang terparkir itu, yang membuat Dinda sedih, memang sang guru yang dulu Dia kenal yang turun dari sana, bersama Seorang Gadis mudah yang menggandeng tangan sang guru tampan, bereka terlihat akrab, dengan sang huru yang ikut mengenggam tangan sang gadis dan sama-sama tersenyum...
"Apakah benar itu kekasih pak Gibran, dari sekolah aku melihat mereka cukup mesrah" gumam Dinda sambil cemberut...
"Dinda..Dinnn...???" sang mama memanggil Dinda lalu maauk ke kamar miliknya
"Dinnnn..., kenapa belum ganti baju nak, ayok kita makan dulu," ajak sang mama Dan Dinda mengganti seragam sekolah dengan baju biasa...
Lalu Dinda ke bawah untuk makan bersama keluarga siang itu...
Ma, Dinda mau jalan-jalan sore ini" ucap Dinda pamit pada mama, Dan mama Dinda cukup kaget, tumben-tumben Dinda pamit kalau mau keluar rumah, biasa nya Dinda mau kemna oun tidak ada yang berani melarang atau oun Dia oamit pada siapa pun kecuali Mbok Darmi
"Apa perlu mama temenin" jawab sang mama....
"Tidak ma, Dinda sendiri aja, jawab Dinda, habis melahap makanan nya...
Tapi jangan lama-lama ya nak, Kan Dinda masih ujian, dsn oerlu belajar" ucap sang mama dan di jawab anggukan oleh Dinda, dan sang mama tersenyum bahagia....
Diam-Diam Dinda mendatangi rumah sang guru dan ingin melihat-lihat apa yang gurunya lakukan di dalam rumah bersama gadis itu...
Dinda tidsk bisa berpikir jernih, saat pintu rumah tertutup rapi dan suara apapunntidsk terdengar...
Dinda Yang kepo menguping dari pintu depan dengan menempel kan telinganya...
Cukup lama melakukan itu, namun tidak ada suara yang di tangkap oleh telinga Dinda...
Tak lama kemudiannn.....!!!!!!
Traakkkk..dugggg....!!!, Awwwww...."
Suara seseorang membuka Pintu dan Dinda terjatuh ke lantai dan merintih kesakitan...
Ternyata yang membuka Pintu adalah gurunya sendiri...dengan ekspresi marah dan muka sangar, Mata tajam bak elang dari sang guru, yang tidak terimah dengan sikap Dinda...
"Apa yang kamu lakukan Di sini... menguping di rumah orang... tidak di sangka ternyata kamu mengikuti seorang guru sampai ke kediaman nya" ucap sang guru marah sampai urat di lehernya terlihat...
"Ma'af pak, Dinda tidak maksud seperti itu, sungguh" ucap Dinda dengan muka bersalah dsn ketakutan akan kemarahan sang guru yang luar biasa itu...
"Sudah ketahuan masih mengelak," ucap kembali Sang guru yang benar-benar seperti sangat tidak suka dengn Dinda... mendengar ucapan cukup kasar itu membuat Dinda sakit hati walau Dia memang salah telah menguping, tapi harus kah dia sudah jatuh di bentak sekasar itu.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca dengan sakit di lututnya, Dinda bangkit dengan Paksa, dan membuat dia mengeluar kan emosi yang tertahan itu...
Dasar laki-laki kasar, tidak berperasaan, tidak pantas di sebut seorang guru...!!!! Saya kira selama ini anda memang baik, ternyata seperti ini tqbiat asli anda jika tidak mengenali orang, lebih tempat nya saat sudah tidak mengenali saya.." ucap Dinda dengan keadaan sudah menangis, dia membalikkan tubuhnya lalu berjalan pelan...
Dan sang guru masih melanjut kan satu kalimat, membiat Dinda semakin membuka apa yang Dia ingat tentang gurunya..
"Dasar manusia angkuh, berbulan-bulann saya mencari anda sejak kecelakaan enam bulan lalu, bertanya ke sana- kemari untuk memastikan keadaan anda apa masih hidup atau mati... bahkan saya mencari kehidupan anda di internet, tqpi sedikit pun tidak ada kabar, Tiba-tiba anda muncul di sekolah,sebagai guru baru, dengan ingatann yang hilang itu, Apa saya benar-benar membuat anda membenci saya, sehingga seratus persen anda melupakan saya.
Ingat sampai kapan pun saya tidak akan pernah ingin kenal dan tau anda lagi" ucao Dinda berlalu dan meninggal kan guru tersebut...
Apa maksud dengan ucapannya, apa yang sudah lakukan sehingga dia berani melawan ku sebagai gurunya... ahhhhhkkk... apa yang sayah lupakan..." teriak Sang guru sambil memegang kepalanya yang sakit karena sebuah bayangan kecelakaan bersama seseorang gadis yang tidak bisa dia ingat wajahnya, kembali membuat Gibran sakit.....
Dinda berlari pulang dan langsung menuju kamar miliknya, Niat mau jalan-jakan sebentar, jadi gagal karena ulah keponya yang menguping pembicaraan sang guru yang kembali ke rumah tersebut...
"Dinda, ada apa nak" mama Dinda yang melihat Dinda menangis menaiki tangga tanpa melihat mamanya yang berada di ruang tamu, kini mengikuti Dinda sampai ke kamar, mendengafmr itu Dinda menghapus air matanya..
"Tidak ada apa apa ma"Jawab Dinda singkat lalu membaring kan tubunya di ranjang luas milinya.
"Ohhh.....ya sudah kalau ada apa-apa cerita sama mama ya sayang, mama siap dengar curhatan Dinda" ucap sang mama lembut sambil mengelus punggung anak gadisnya...
"Iya ma" jawab Dinda dan sang ma keluar dari kamar milik Dinda...
Mama Dinda tidak ingin memaksa putrinya menceritakan apa yang Dinda tidak ingin ceritakan... dia menunggu waktu agar Dinda lukuh sendiri dsn merasa sang mama selalu ada untuk dirinya...
Kini Di kamar miliknya Dinda berpikir, untuk apa menangisi orang yang tidak pantas untuk air mata berharganya, Kini dia turun dari ranjang luas nan emuk itu, lalu membersikan diri, dan menghilang kan penak dan mata sembabnya...
Mending aku bersih-bersih lalu belajar, untuk apa menangisi orang seperti itu, dia bukan siapa-siapa dan tidak penting" gumam Dinda saat berendam air sangat di kamar mandi pribadinya...
"Untuk ke depannya, mari seperti dulu Dinda.... yang tidak peduli akan siapa pun" ucap Dinda memberi dia semangat kepada diri sendiri......
Kini Dinda duduk dengan serius di depan meja belajarnya, membuka buku pelajaran untuk persiapan ujian besok...
Sang mama kembali memasuki kamar Dinda membawa beberapa cemilan dan cake coklat berukuran sedang untuk Dinda, agar sang anak tidak terlalu bosan, lalu sang mama pun duduk agak jauh dari Dinda untuk menemaninya...
Dinda yang tadinya sedikit pusing membolak balik kan buku, kini menoleh ke arah bauk harus yang menuduk hidung Dinda..
"Dinda tersenyum dan melahap cake coklat itu...
waktu telah berganti malam, Dinda yang cukup lama dengan buku pun mulai menutup buku tersebut, lalu membaring kan tubuhnya untuk beristirahat dan persiapan untuk besok...
Pagi pun tiba, Dinda yang beristihat cukup puas pun, kini sudah siap dengan seragam lalu turun untuk sarapan bersama keluarganya.... setengah jam berlalu,Dinda di antar sang mama menuju sekolah...
Saat di parkiran Dinda berpapasan dengan sang guru dan juga ada sahabat-sahabat Dinda yang datang untuk mengajak Dinda ke kelas, Dinda tidak menyapa atau oun menatap sang guru seperti sebelumnya
Dinda benar-benar berusaha seperti tidak mengenal sang guru dan hanya sebatas guru dan murid yang tidak saling mengenal kevmcuali saat belajar di kelas....
Sahabat-sahabat Dinda menyapa sang guru
"Pagi pak" ucap mereka barengan kecuali Dinda,
Sang guru membalas dengan anggukan sambil melewati geng Dinda
"Din kenapa kamu gak ikut nyapa pak Gibran....???"tanya sahabat Dinda..
"Lagi gak mau aja" jawab Dinda mendahului sahabat nya
"husssd....." udah deh gak usah bahas pak Gibrann di depan Dinda, kita kan gak tau dia gimna dan perasaan dia gi mana, biarin aja kalau dia tidak mau nyapa..." ucap sahabat Dinda mengejar Dinda yang sudah duluan pergi...