GURU ES KU

GURU ES KU
KELULUSAN DAN IDENTITAS GIBRAN


Seminggu berlalu, kini ujian akhir sekolah, akhir nya selesai juga... Dinda dan sang guru tampan yang sekarang sudah seminggu menjadi pasangan kekasih..


Mereka hampir setiap hari bertemu, apa lagi saat ini mereka sudah tidak lagi menghadapi ujian sekolah, Tapi sebelum kelulusan di umum kan, Finda dan sang kekasih belum seoenuh nya terbuka kepada publik tentang status mereka saat ini.


Mereka masih sembunyi-sembunyi atau bisa di kata kan mereka masih belum membuka diri untuk keluar ke tempat ramai, tidak ke mall, ke pantai yang rame pengunjung, atau pun ke tempat wisata-wisata lain nya, yang akan mengundang banyak pertanyaan jika ada darinoihak sekolah yang melihat mereka.


Mereka hanya sekedar ke pantai saat mata hari terbenam dengan muka yang tidak terlalu terlihat, seperti memakai kaca mata dan topi contoh nya.


Jalan-jalan ke villa di hari yang bukan hari libur, tapi mereka lebih sering di rumah Dinda lebih tepat nya tempat persembunyian Dinda yang dulu pernahereka kunjungi...


Namun pada saat ini, sang kekasih belum membawa Dinda ke rumah orang tua nya, untuk bertemu orang tua Pak Gibran.


Bukan sang guru tampan bernama Gibran itu yang belum ingin membawa Dinda, namun Dinda lah yang belum siap dan tidak ingin duu bertemu orang tua Gibran.


Karena bagi Dinda masih terlalu cepat untuk menemui kedua orang tua Gibran.


kelulusan pun belum belum ada tanda-tanda, masih cukup lama.


"Sayang... jadi kapan kamu siap ketemu orang tua aku??" tanya Gibran penasaran dengan sang kekasih, yang dulu antusias untuk bertemu orang tua nya, namun sekarang belum ada tanda-tanda Dinda ingin membahas tentang berkenalan dengan orang tua Gibran...


Mereka pacaran memang masih sangat baru, belum juga sebulan, Namun Gibran begitu ingin mengenali sang kekasih dengan keluarga besar nya, Tapi Gibran tidak ingin terlalu memaksa Dinda, takut nya Dinda jadi tidak menyuksi nya lagi karena memaksa kehenda Dinda.


"Sabar dong sayang... tunggu kelulusan dulu, kalau sudah lulus, bukan nya kamu akan bangga memperkenal kan aku kepada keluaga besar mu, bahwa kekasih mu ini baru saja lulus dan ingin melanjut kan pendidikan ke jenjang berikut nya. walau sudah menikah" jawab Dinda dengan penuh kelembutan kepada kekasih nya itu.


Dinda tau ketakutan si tukang bucin itu kepada nya, yang dulu Dinda kira hanya Dinda yang menyukai guru tampan itu, namun sekarang sangat berbedah, hampir setiap hari dan jam sang kekasih menanya kan kabar dan daan mnelpon Dinda... Kadang hal yang tidak terlalu penting pun Dia tanya,Seperti menanya kan sudah makan apa belum, menanya kan sudah mandi apa belum.


Yang menurut Dinda hal seperti itu tidak perlu di tanya kan, karena sudah pasti akan di lakukan jika waktu nya tiba.


Namun yang nama nya memcari tahu dan menanya kan kabar, apapun alasan nya yang penting ada.


Berapa minggu berlalu, kini saat nya pengumuman tentang kelulusan SMA dinda sudah menemui titik terang, dengan datang nya surat untuk orang tua siswa-siswi mnerimah surat kelukusan dsri hari esok...


Pagi pun Tiba, Dinda sudah siap dengan seragam putih abu-abu untuk datang melihat nilai Dinda yang sebenar nya...


Dan juga hari memasti kan apa Dinda sudah siap atau belum menemui sang calon mertua, seperti yang sangat di harap kan Gibran. selama ini...


Dsn Dinda bersama kedua orang tua nya, dengan sang guru menyusul dari belakang, dsn tidak satu mobil, takut menimbul kan gosip yang dengan mudah bertebaran di SMA Dinda.


Perasaan was-was semua murid kelas Tiga SMA Dinda masih berlanjut hingga menerima amplop kelukusan dsn keputusan terdapat di dalam amplop itu....


Dinda bersama kedua orang Tua nya duduk di antara wali murid lain nya. saling menunggu dsn ikut was-was akan keputusan nanti nya yang mereka terimah...


Dan satu persatu. mereka di panggil untuk mengambil amplop itu.. terlihat keceriaan di setiap wajah wali murid saat membuka amplop tersebut.


Yang menanda kan bahwa keputusan lukus lah yang terdapat di dalam amplop itu.


Dan beberapa menit kemudian terdengar panggilan atas nama Dinda. dan membuat orangvtua Dinds mewakili untuk oengabilan amplop itu.


Rasa nya rasa deg-degkan Dinda semakin besar saat amplop itu sudsh berada di tangan sang ayah...


Sang ayah Duduk di tengah-tengah antara Dinda dan sang mama dan Ayah Dinda oun membuka Amolop itu...


Dinda menahan napas dan juga menelan saliva nya kasar dengan mengngemgan cukup erat tangan nya sendiri.


Sang kekasih yang ada di kursi bagian depan juga ikut was-was hingga dia tidak bisa menanhan rasa penasaran nya terhadap amplop Dinda itu. tanpa pikir panjang Dia pun menghampiri Dinda dann kedua orang tua Dinda.


Dan bersama membuka amplop itu..


.Saat Isi amplop itu di keluar kan, Sinda menutup mata nya...


beberapa detik tidak ada suara apa pun dari kedua orang tua Dinda dengan ekspresi datar mereka menatap Dinda secara bersamaan.


Dan Dinda yangbtak mendengar ucapan apa oun dari mulut orang tua nya, Dinda perlahan membuka mata lalu menatap ke arah orang tua Dinda yang Diam tanpa ekspresi itu..


Dinda juga menatap sang kekasih yang berekpresi sama dengan kedua orang Tua Dinda...


Dinda langsung menetes kan ait mata nya sedih...


"Ma'af ayah. mama dan pak Gibran.. aku mengecewa kan kalian" ucap Dinda dengan isak tangin yang mulai terdengar pilu...


"Selamatttt sayangggg...!!!! Kamu salah satu murid dengan nilai tertinggi di sekolah dan nilai tertinggi untuk kelas tiga" ucap orang Tua Dinda mengaget kan...


Dan Dinda mengedip kan mata bodoh, mendengar ucapan itu...


"Ap..apa..!?? Apa mungkin ma??, yang bener...??" ucap Dinda sambil merebut kertas itu dari tangan ayah nya...


Dinda menganga terperangah seakan benar-benar tidak percaya akan semua itu...


Semau nya menjadi kejutannterindah bagi diri Dinda, hal iyu membuat Dinda meningkat kan rasa percaya diri pada diri nya sendiri....


"Ahhhhhhkkkkk" pekik Dinda pelan sambil lompat-lompat kegirangan dan kekuar lah sipat anak-anak dari seorang Dinda..


Tanpa sadar Dinda memeluk sang kekasih di depan semua orang...


""Iya sayang... aku tahu, tapi apa nkamu tidak sadar sedang memeluk ku di deoan orang banyak dan mereka melihat ke arah kita, apa kamu mau membuka identitas kita sekarang??." ucap sang guru membuat Dinda terdiam kaku da perlahan melepas pelukan nya itu....


Dinda bersikao seolah tidak terjadi apa-apa dia hanya tersenyum bodoh sambil menggaruk kepala yang tidak gatal itu...


"He..he..he..he..heeeee.." ucao Dinda lalu menoleh ke arah sang guru kembali sambil mengedip kan mata, dan ingin minta tolong kepada kekasih nya itu...


Namun dari sang kekasih tidak memberi resopon apa pun, hal itu membuat Dinda berpikir bahwa sang kekasih saat ini malu atas sikap nya dan ilfil akannkelakuan Bodoh Dinda.


Dinda langsung merubah raut wajah yang tadi ya berusaha acuh dan menyembunyi kan sikap yang membuat dia membuka identitas mereka, sekarang Dinda perlahan tertunduk dan duduk di kursi nya tadi dengan muka malu dan bukir bening mengalir di antara keheningan Dinda.


"Nak..??, Sudah lah, tidak akan ada yang terjadi kok, mereka tidak akan berpikir apa pun tentang kamu" ucap sang mama memeluk putri nya.


Sang ayah yang merasa putri nya begitu malu dan sang guru Tidak merespon apa pun. membuat Dia berdiri lalu maji ke depan...


dan mengambil sebuah pengeras suara.


"Untuk kalian yang berpikir buruk tentang putrinku, akan aku pidana kan, apa lagi bagi kalian smyang berani menyebar gosip Tidak baik, jadi sebelum itu terjadi pada kalian semua, jangan pernah keluar ucapan yang membuat kalian hidup di dalam jeruji besi" ucap sang ayah lalu kembali ke belakang. menarik pelan sang putri yang masih sedih itu, untuk kembali ke rumah..


Namun saat mereka sudah akan keluar dari tempat itu. Satu suara mengehentin kan, hetak jalan mereka.


"Untuk kekasih ku Dinda, yang akan segerah ku nikah kan, ma'af tidak membela mu. bukan tidsk ingin, hanya ingin melihat cara mu membuat ku terluka" ucap sang kekasih yang berlari menuju Arah Dinda lalu membawa Dinda bergi dari sana.


"Ma'af Om tante aku minta ijin bawak Dinda sebentar, sebelum jam Delapan malam, kami pasti kembali" ucap sang guru lalu menarik pelan Tangan Dinda.


Saat Dinda sudsh di bawak sang kekasih, sebenar nya ayah ingin mengejar mereka dsn membawa Dinda pulang, namun sang mama Dinda menahan tangan Ayah nya, untuk tidak mengejar mereka.


"Ma Dinda di bawa oaksa sama guru nya itu, suku aku sangat setuju dengan guru nya itu, tapi melihat Dinda menangis karena ukah Pria itu, ayah jadi emosi dan tidsk berniat merestui mereka." ucap sang ayah kepada mama Dinda.


"Yah... jika Dinda terpaksa, tidak mungkin dia mau ikut semudah itu kepada bmnak Gibran, pasti dia minta tolong Kita, ini kan gak Yah, jadi jangan berpikir buruk dulu" ucap sang mama kepada ayah Dinda...


Gibran memasuk kan Dinda ke dalam mobil nya, dengan Dinda yang masih berekpresi seperti tadi, hanya air mata nya yang tidak lagi mengaliir di pipi nya....


Dan sang kekasih memeluk erat Tubuh Dinds namun Dinds menolak dengan mendorong kaut tubuh kekar sang kekasih.


Namun Gibran tetap menahan pelukan nya.


"Lepas kan" ucap Dinda berteriak cukup keras di mobil itu, namun sang kekasih tidsk mau melepas nya nya.


"Lepas kan saya pak Gibran, apa pantas seorang guru seperti anda memeluk saya" ucap Dinda yang memang sangat marah dan Dinds kembali melawan dsnningin lepas, dan akhir nya sang Guru melepas kan nya namun tiba-tiba sang guru mengangkat Dindake pangkuan nya. lalu dengan menahan Tangan Dinda pak Gibran langsung menyambar bib ir Dinda dengan rakus nya di dalam mobil itu...


Dengan Dinda yang tidak mau menerimah ci umant itu dan mengigit Bib ir Gibran, dan ci umant itu terlepas dan juga pegangan tangan Gibran yang cukup Kuat tadi...


"Plakkkkkk...!!!!" Satu tamparan mendarat di wajah tampan sang kekasih, sebenar nya Dinds cukup kaget dengan apa yang dia lakukan, namun ntah lah gara-gara tadi emosi nya meluap atas sikap Gibran yang tidak menolong nya.


Dengan suara bergetar dan sebenar nya bukan kehendak hati, Dinds memanksa kan auara yang tidak ingin Dinda ucap kan kekuar dari mulut Dinda...


"Ayo kita putus" ucap Dinda dengar air mata yang kembali mengalir itu.


Namun kembali tidak ada respon dan pergerakan dari sang kekasih dan membuat Dinda semakin kesal sehingga Dinda berniat keluar dari mobil itu.


Namun saat Dinda menbuka pintu mobil itu, tenyata di kunci dari dalam oleh Gibran..


"Apa yang kamu lakukan, bukak ointu nya" ucap Dinda menatap Gibran dengan mata kesal nya.. masih tidak ada respon dari Gibran, dan Gibran malah menjalan jan mobil tanpa menunggu persetujuan Dinda.


"Turun kan aku" paksa Dinda, namun Hal itu tidak di gubris oleh Gibran, malah dia membawa Dinda ke tempat yang Dinda tidak pernah ketahui sebelum nya.


"Kamu mau bawak aku kemana sih, kamu mau celakain aku ya??" tanya Dinda dengan tuduhan-tuduhan tidak jelas itu.


"Sayang... ini villa aku, tempat aku selama ini tinggal setelah rumah lama aku jual, dan di dalam sana ada keluarga dan para Art aku, dan niat aku ajak kamu ke sini, hanya ingin mengenal kan kamu ke orang tua aku, dan aku tidak pernah berpikir untuk putus dan juga meninggal kan mu" jelas Gibran lembut sambil menatap Mata Dinda.


Dinda tak merespon, hanya Diam dan juga mengikuti kemana Gibran mengajak nya, dengan Gibran menggenggam tangan Dinda dengan mesra.


Dinda cukup kaget melihat villa mega di depan mata nya, karena selama ini yang Dinda tau Gibran seorang guru dengan lulusan S2, Tapi siapa mengira, sang kekasih memounyai villa mewah seperti di depannmata Dinda saat ini.


Dinda juga merasa was-was saat gibran mengatakan ingin mempertemu kan Dinda dengann keluarga besar Gibran.


"Apa tidak terlalu cepat, aku bahkan tidak ada persiapan apa oun, masih pake seragam" ucap Dinda yang masing mengikuti Gibran.


" Tidak ada masalah apa oun, dan tidak akan ada yang berani berkomentar apa pun tentang kamu, karena kamu pilihan hati aku" ucap Gibran meyakin kan.


Dinda hanya mengangguk mendengar ucapan sang kekasih yang sudah meyakin kan dia bahwa tidak akan terjadi apa pun kepada diri nya. saat sudah bertemu keluarga besar Gibran.


Kini mereka memasuki pintu besar villa mega itu, saat berada di dalam, terdapat beberaoa goto-foto yang terpajang di dinding villa itu, salah satu nya foto keluarga besar Gibran yang cukup banyak dan di sana gibran memakai pakain bak seorang ceo muda yang gaga dan di incar oleh perempuan-perempuan matre di luar sana.


Dalam hati Dinda bertanya-tanya.


"Siapa sebenar nya pria yang saat ini menjadi kekasih nya itu.


.