
Seminggu berlalu, Dinda dan sang kekasih, memang semakin lengket saja, karena sudh mendekati hari-hari menegang kan bagi mereka.
Dinda dsn Gibran sepakat tidsk melakukan pertunangan, karena akan menghabis kan waktu yang sangat berharga mereka, mereka akan segera menikah dan pesta Besar-besaran di dua kediaman besar kedua sejoli yang sangat sibuk saat ini.
Dengan Gibran yang mulai sibuk dengan urusan kantor yang harus kelar sebelum acara pernikahan, dan Dinda yang sibuk dengan kelanjutann study nya saat sudah menentu kan kelulusan.
Dinda memang jarang berkomunikasi kepada para sahabat-sahabat nya, karena mereka memang masing-masing sangat sibuk dengan kegiatan setelah lulus mereka.
Dinda bersikap terbuka dan sudah memberi tahu semua tentang Dia yang akan menikah itu, dan para sahabat Dinda pasti nya mendukung juga ikut bahagia, karena di umur tujuh belas tahun nya, Dinda sudah menemuh kan tambatan hati, yang sudah matang dalam umur, kedewasaan berpikir dan juga pekerjaaan pasti nya.
"Sayang, sudh siap belum, aku sudah di jalan mau jemput kamu nih" ucap Gibran menuju rumah Dinda, mereka ingin pergi ke tempat butik untuk mencoba baju pernikahan yang sudah mereka pesan.
"Iyaaa... sudah kok tinggal turun aja lagi, ini aku keluar dari kamar, kamu masuk dulu ya, kita sarapan dulu" ucap Dinda sambil menutup telpon dari Gibran.
Gibran pun menuju rumah sang kekasih, Sepuluh menit kini Gibran sudah berada di depan rumah dan langsung masuk ke Dinda.
Hai sayang..!!!" sapa Gibran melihat Dinda sudah duduk di meja makan dan menyiap kan makan unyuk mereka.
"Yuk sarapan dulu, biar ada tenaga saat kita melihat baju pengantin nanti, siapa tau ada kejutan lain saat datang ke sana" ucap Dinda asal.
Gibran pun duduk dan mulai menyantap sarapan mereka dengan hikmat, memang makan di rumah tidak terlalu enak, dsn terasa sangat nikmat jika makan bersama kekasih tercinta dan di siap kan langsung oleh sang pujaan hati...
"Gimana sayang??, enak kan." tanya Dinda sambil melihat ekspresi sang kekasih yang terlihat menikmati sarapan di piring nya itu..
"Iya sayang.. enak banget, mbok Darmi kayak nya punya resep baru nih, kok setiap aku makan di sini, tidak pernah lihat makanan yang ini.??" ucap Gibran menyantap makanan itu hingga habis...
Mendengar ucapan sang kekasih, Dinda tersenyum segar dan menatap sang kekasih dengan bahagia, karena seperti nya Gibran cukup menyukai masakan tersebut...
"Makasih sayang... pujian nya, itu aku yang masak, untuk bahan percobaan dan belajar, jika kita nikah nati,setidak nya aku sudah punya satu resep yang bisa aku msakin dan bikin kamu suka.
"Wooowww....!!, benaran kamu yang masak sayang" Gibran merasa seperti Dinda sedang berakting dan sedang menguji diri nya.
Cukup tidak percaya jika sang kekasih kecil nya itu, belajar memasak dan masakan pertama Dinda se enak itu dsn Gibran begitu sangat menikmati makanan tadi tanpa percaya jika itu masakan pertama sang ke kasih.
Beberaa menit kemudian, sesi sarapan dua anak manusia yang sedang kasmaran itu, akhir nya usai juga dan mereka pun lansung bersiap untuk pergi mencoba baju pengantin yang sudah mereka pesan.
"Ayok sayang... ucap Gibran menyambar tangan Dinda lalu mereka keluar dari rumah dengan bergandengan tangan, menuju mobil milik Gibran.
Gibran membuka ointu mobil lalu di sambut dengan senyuman manis oleh Dinda.
Mereka kini sudah menuju tujuan mereka hari ini, yaitu ingin melihat baju pengantin mereka, sekalian mencoba baju pengantin tersebut.
setengah jam berlalu, kini mereka sudsh ada di butik itu, dengan Dinda yang mulai mencoba beberapa baju pengantin yang begitu cantik.
Saat Dinda ingin mencoba Gaun pengantin yang terakhir, setelah mencoba cukup banyak gaun pengantin, dsn Dinda kembali ke ruang ganti untuk kembali memakai gaun itu sendiri..
"Aduhhh, kok kancing belakang nya bisa macet gini sih, manangak bawak karyawan butik ini lagi" gumam Dinda pelan, tidak ingin merasa malu, karena kancing gaun itu macet.
Setiap gaun yang Dinda coba, selalu terlihat cantik dan pas di tubuh Dinda.
"Gimana ya, mau keluar dengan punggung terbuka gini, mau ganti baju lagi, bikin lama waktu" ucap Dinda kesal dengan kancing baju yang dia pakai.
Gibran yang menunggu cukup lama di kuar merasaa ada yang tidak beres dengan Dinda saat ini, dan tanpa pikir panjang Gibran langsung masuk ke ruang ganti, tanpa mengata kan apa pun kepada pemilik butik.
Dsn yang benar saja, Dinda sibuk melihat ke arah belakang, dengan tangan yang berusaha menggapai sesuatu di punggung nya.
Melihat itu Gibran langsung menghampiri Dinda yang terlihat sedang kesusahan itu.
"Sayang, kenapa??, ada apa??" tanya Gibran yang langsung ikut melihat ke arah punggung Dinda, dan panggilan Gibran membuat Dinda kaget dan ingin menghindar, namun sudah telat, karena Gibran sudah berada di belakang Dinda dengan ekspresi tak karuan.
"Kamu apaan si??, datang tiba-tiba gitu,aku kaget tau gak" ucap Dinda yang merasa canggung dan cukup malu, melihat Gibran yang menatao punggung mulus milik Dinda itu..
"Emmmm... itu..itu sayang...ehhh ap..apa sebaik nya aku keluar saja,"Ucap Gibran gugup, karena detak jantung yang meningkat dengan muka yang memerah.
Gubran memang oernah pacaran, namun tidak pernah sampai melihat ounggung pasangan nya, jadi saat ini Gibran malah tidak tau harus berekpresi seperti apa...
"Ya ampun sayang, aku ini lagi kesusahan, malah kamu mau keluar, dan ngomong gagap begitu, kamu kenapa sihh, Bantuin kek, kok cuma di liahtin aja" ucap Dinda kesal.
Namun di pendengaran Gibran, Dinda seperti mengoda nya dan merayu Diri nya.
"Malah melamun lagi, Buruan, nanti kelamaan lagi kita di sini, malah di kirain kita malah ngapa-ngapain" uvap dinda yang menepuk bahu Gibran yang masih belum juga bermaksud membantu Dinda.
"Ahhh.., iya sayang, Biar aku bantu, aku samapi lupa lagi, abis punggung kamu mengoda gitu" ucap Gibran mendekat dengan mata ja lang nya, yang membuat Dinda berpikir yang iya-iya tentang eksoresi Gibran saat ini.
Melihat itu, tanpa pikir panjang, Dinda mengambil satu gantungan baju yang cukup keras itu, lalu memukul kepala Gibran tanpa berpikir Gibran akan marah nanti nya atau tidak.
"Takkk... Rasain tu, biar otak nya gak terlalu ngeres,, minta bantuan malah cari kesempatan" ucap Dinda yang ingin keluar dari ruangan itu namun kesadaran Gibran kembali dan menarik pelan sang kekasih dsn membujuk nya.
"Auuuu..!!!, Sakit sayang, kamu apaan sih" ucap Gibran seperti tidak merasa bersalah, namun jarak beberapa detik, Gibran langsung mengejar Dinda yang bermaksud keluar dari ruangan itu, dengan punggung terbuka.
Dan pasti nya, Gibran tidak akan mengizinnkan Pria-pria di luar sana menimkamti pemandangan indah itu, cukup hanya dia mulai hari ini samapai nanti.
"Stop..stoopp...stoopp... sayang.., Ma'af sayang, aku agak khilaf tadi, pliss jangan marah dan ngambek ya, plisss" ucap Gibran memohon dan menarik pelan tangan Dinda agar tidak melanjut kan jalan untuk keluar dari ruangan itu.