
Hari-hari Dinda, selalu di sibuk kan dengan kegiatan sekolah dan belajar, demi keberhasilan dan masa depan nya yang cemerlang, Dinda Tidak lagi sibuk kan dengan cerita laki-laki, mereka hanya membahas tentang pelajaran, tentang persiapan ujian, dan masa depan mereka nanti, saat sudsh lulus, dan begitu juga sahabat Dinda, tidak pernah lagi sibuk kepo dengan siapa dan apa di sekolah itu, kecuali pelajaran dan makanan enak...
Dinda sekarang berikap Dingin dan tidak pernah peduli dengan nama nya sang guru tampan bernama Gibran itu, Dan juga sekarang, sang guru jarang terlihat di sekolah dan masuk untuk sekedar mengajar di kelas Dinda.
Guru itu, tidak pernah terdengar kemana saja dia dan di mana, memang sih, Dinda pun tidak mau tau dan tidak pernah lagi mencari tau tentang itu, mendengar berita nya pun Dinda tak ingin.
Mungkin ada berita-berita tentang guru di lingkungan sekolah, kenapa sangat jarang menampak kan diri di sekolah, namun Dinda juga tidak pernah dekat dengan siapa pun kecuali, sahabat-sahabat nya, dan juga sahabat-sahabat Dinda hampir sama dengan kini lebih fokus ke pelajaran dan persiapan ujian nanti nya.
"Seminggu berlalu sejak sikap Dinda berubah, sang guru saat ini benar-benar tidak pernah lagi datang ke sekolah, terdengar oleh mbok Darmi, bahwa rumah di samping Rumah Dinda kini ada tulisan di sewa dan sang pemilik rumah sudah menjual nya..
Mbok Darmi melapor kepada Dinda, yang terlihat cuek dan tidak mau tau tentang pria itu lagi
"Non, rumah tetangga yang dulu di huni oleh guru Non, sekarang sudah di sewa kan dan penghuni rumah sudah menjual nya non" ucap mbok Darmi yang menghampiri Dinda di ruang tamu sambil nonton baca buku dsn makan cemilan...
"Ohhhh...!!, biarin aja mbok, apa hubungan nya sama Dinda" ucap Dinda tak menoleh masih konsen dengan buku nya kadang dia menonton sambil makan cemilan.
"Bukannnya non dekat ya sama guru non, sapa tau non pengenn tau gitu" ucap mbok Darmi menjelas kan.
"Gak lagi mbok, Dinda sudah tidak dekat lagi sama pak Gibran" jawab Dinda yang menatap ke arah mbok Darmi sambil tersenyum...
"Oh gitu to non, oyya non, kalau begitu mbok ke belakang lagi ya non" ucap mbok Darmi lalu di balas dengan mengangguk oleh Dinda, kemudian konsen kembali melihat ke arah tv dsn kadang melihat buku.
Beberapa bulan berlalu....
Kini Dinda sudah menghadapi hari-hari yang mnegang kan yaitu ujiann akhir sekolah, yang menentu kan kelulusan dan masa depan murid kelas tiga.
Dinda sebenar nya cukup yakin dengan kemampuan nya, tapi dia juga tidak tau dengan nama nya nasib, bisa mengubah yang sudah dia lakukan semaksimal mungkin selama ini.
Dia tetap optimis dan belajar di mana pun dia berada dan ada kesempatan.
Saat lonceng sekolah berbunyi dan menanda kan ujiannakan segera di mulai pada jam ini juga..
Dinda pun memasuki ruangan dan mulai mengambil napas pelan, agar tidsk terlalu gugup, Dinda kini berpisah dari para sahabat-sahabat nya, dan sahabat Dinda tak kalah jauh berbeda mereka tidak lagi berkumpul dalam satu geng di ruangan mereka.
semua nya terpisaha, namun tidak memata kan semangat mereka untuk terus belajar dengan giat,
Saat kelas sudah di mulai, satu orangbguru masuk duluan ke ruangan ujian Dinda, baru lah di susul kembali oleh satu orang guru lagi.
Dan itu adalah Pak Gibran yang sudah lama tidsk lagi menampak kan diri di sekolah, namun pas hari pertama ujian, dia datang...
"Selamat pagi anak anak" ucap pak Gibran mengaget kan satu ruangan itu, dan para murid sedikit bergumam, namun tidak terlalu berani.
"Untuk awal ujian hari ini bapak akan jadi pengawas kalian, sampai selesai, sudah itu kita akan berpisah selama nya,Kalian akan melanjut kan pendidi kan yang lebih tinggi, dan bapak juga tidak lagi mengajar di sekoah ini, dan juga masuk ke tahap-tahap terakhir bapak Di sini" ucap nya dan membuat mereka sedih, dsn mulai memulai ujian mereka.
"Semangat dan yakin kan pada diri kalian, kalian bisa" ucap Pak Gibran mulai berkeliling.
Waktu hampir satu jam, mereka cukup serius mengikuti ujian mereka, dengan di kumpul kan kertas ujian tepat waktu.
Dan waktu untuk beristirahat sejenak menenang kan pikiran.
Sinda benar-benar melupa kan sang guru,bukti nya saat sang guru menyampai kan kata perpisahan, Sikap Dinda biasa saja, dan tidak terlalu sesih seperti murid lain nya.
Teng....teng..teng.. bel sekolah kembali berbunyi,Menanda kan jam kedua telah di mulai, dan siap tidak siap mereka harus menghadapi itu..
Dan kini konsetrasi di mulai dengan soal-soal ujian yang cukup sulit bagi sebagain murid..
Dinda tetap mengumpul kan kertas ujian mikik nya tepat waktu saat sudah yakin dengan jawaban milik nya.
Jam pulang pun telah terdengar dan semua murid murid nampak keluar dari ruanan mereka, dan mulai berkumpul kembali dengan geng-geng masing masing, dan tidsk tertinggal geng Dinda yng mulai menceri takan bagai mana ujian yang mereka hadapi tadi.
samaoi di parkiran mereka kembali berpisah dan pulang dengan jemputan masing-masing, Namunnhari itu Dinda tidsk melihat jempitan nya yang biasa nya ada di parkiran itu,
Dan Dinda pun mengecek Hp milik nya, namun Honnya mati.
"Aduhh kok gini sih, mama kemana lagi, pake acara belum datang, Dinda mau cepat-cepat samapai, Hp pake acara mati lagi...
"Dinda, kenapa belum pulang" tanya sang guru tampan kepada Dinda yang masih betah berdiri di parkiran yang mulai sepi itu.
"Jemoutan belum datang pak, mau telpon hp juga mati" ucap Dinda menjawab pertanyaannsang guru.
"Ya sudah pulang bareng bapak saja, takut nya mama kamu gak datang," ucap sang guru menawar kan.
"Pak, Dinda boleh pinjam Hp sebentar gak, biar bisa telpon mama" ucap Dinda.
Sang guru pun mengeluar kan Hp milik nya dari saku celana nya dan lansung memberi kan kepada Dinda.
"Pasword nya pak," Tanya Dinda melihat Hp sang guru terkunci itu.
"Tsnggal kecelakaan kita" ucap sang guru, membuat Dinda menatap sang guru dengan cukup serius.
"Kenapa bapak kasih itu, apa bapak mengingat nya .??" tanya Dinda, yang saat uni penasaran.
"Iya... selama bapak tidak masuk sekolah, bapak mengikuti terapi dan benar-benar ingin mengingat kembali semua kejadian itu, Dan tentang kita yang utama" jawab pak Gubran sambil menelan oasar saliva nya.
" Untuk apa bapak mengingat itu, kan kita juga tidak punya hubungan apa oun oak, menurut Dinda tidak ada yang harus di ingat tentang kejadian tentang kita...
Jangan membuat Dinda berpikir lebih pak, nanti takut nya saya salah paham dan akan membuat cerita lain dari sisi Dinda, sedang kan bapak dudah punya kekasih" ucap Dinda tegas, lebih jelas nya mempertegas diri nya sendiri dan hati nya yang sedikit tergelitik oleh ucapan sang guru, seoerti memberi Dinda sinyal untuk mengungkit kenangan mereka yang telah lama usai.
Dinda tidak lagi melanjut kan ucapan nya dan berusaha membuka Hp sang guru lalu menelpon sang mama...
Namun aneh nya nomor yang di tujuh tidak juga terhubung, ntah apa yang terjadi, lalu Dinda menelpon ke telpon rumah.
Dan tidak di angkat oleh orang di rumah.. dan Dinda tidak outus asa, dia menelpon nomor mbok Darmi, dan juga tidak di angkat, lalu nomor sang ayah dan beberapa Art di rumah, namu memang tidak ada satu pun nomor mereka yabg bisa menerima telponndari Dinda itu, atau mereka tidak mau mengangkat karena bukan nomor Dinda.
Dinda gelisa dan crmemas dan tidak lagi bisa berpikiran jernih, tidak biasa nya oran datu rmah tidak mengangat telpon dari nya.
"Pak tolong antar kan saya pulang," ucap Dinda yang menarik tangan sang guru menuju mobil milik Pak Gibran itu...
" Kenapa tidak ada yang angkat telpon Dinda ya, apa ada apa-apa di rumah" gumam Dinda saat di dalam mobil sang guru, sang guru pun membawa mobil dengan kecepatan cukup cepat.
"Pak jangan cepat-cepat gitu, nanti kita kecelakan lagi kayak dulu" ucap Dinda kepada sang guru.
"Ok..." jawab sang guru lalu kembali diam dan terasa sunyi di dalam mobil itu Dan sang guru memepan kan kecepatan mobil milik nya dan cukup santai ke arah kediamnan Dinda.