
Tak..tak...Takkk,Sepatu mahal milik Gibran menapak Di villa itu, dengan mengandeng seorang anak SMA memasuki ruangan mega villa milik seorang putra pewaris sebuah perusaan besar di kota itu..
Kini Gibran sudah berada di ruang tamu keluarga besar Gibran, dan Di sana juga sudah ada kekuarga besar Gibran bercengkrama dengan seluru keluarga termasuk Saudara-suadara Gibran...
Hati Dinda mulai tidak tenang, karena bertemu orang baru dan mereka cukup rame di villa tersebut...
Namun Dinda berusaha menekan rasa was-was nya demi mempercayai ucapan yang di kata kan Gibran tadi, walau Dinda tidak terlalu yakin dengan ucapan Gibran.
Bisa jadi itu hanya ucapan Gibran agar Dinda mau bertemu keluarga besar nya.
.Kini Dinda sudsh di hadap kan dengna keluarga besar Gibran yang sudah siap menilai Dinda dari ujung kepala Hingga kaki Dinda..
"Haiiii ma...pa.." ucap Gibrann dengan gaya santai nya.
"Ehhhh anak mama,sudsh dstang kamu, mana yang katanya mau kenalin calon mantu buat mama, kok malah bawak anak SMA sayang" ucap sang mama yang terlihat tidak terlalu bersahabat itu.
Dinda menyenggol pelan Tangan Gibran, saat Dinds mendengar sambutan pertama dari mama Gibran... yang seperti nya tidak telalu menyukai Dia di sana..
"Ma..?!!! jangan gitu dong, suruh dulu mereka duduk" uvap sang papa dengan rama..
."Ayok dududk dulu sini" sahut seorang gadis mudahbyang pernah Dinda lihat dulu sering bersama Gibran dan gadis kecil yang datang untuk memasak di rumah Gibran dulu.
Dan gadis mudah itu adalah adik kandung Gibran..
Karena Gadis mudah iyu Tidak melihat ada pergerakan dari Dinda dia berdiri lalu mengajak Dinda untuk duduk.
"Ma...pa..." ini kalau gak salah salah satu murid kakak yang dekat sma kakak, karena dulu aku oernahnliat dia bantuin kakak masak ma" ucap sang adik menjelas kan dan mengata kan bahwa dia pernah bertemu dengan Dinda sekali.
"Ohhh gitu..!!!" ucap sang mama agak ketus...
"Ma..pa..., ini pacar Gibran sekaligus calon istri Gibran yang akan Gibran nikah kan dlam waktu dekat.
Gibran tidsk butuh penilaian dan keputusan kalian, Gibran ke sini hanya untuk mengenali dia kepada kalian semua, agar kalian semua melihat dan mngenali dia, calon istri Gibran" ucap Gibran yang tidak ingin keluarga nya terutama kakak perempuan dan sang mama yang sering berkomentar pedas tentang orang lain, tanpa ingin mengenali terlebih dahulu orang tersebut...
"Sang mama yang tadi nya ingin menambah kan komentar namun di urung kan melihat seorang gibran yang terlihat agak emosi dengan ucapan dia tadi.
Sang kakkak yang bersikap dingin,kini mengeluar kan suara nya.
"Apa pun keputusan kamu, itu yang terbaik dan akan menjadi tanggung jawab mu Gibran, maka jaga dan lindungi lah calon istri mu dari orang-orang yang menyakiti nya di kemudiam hari. Dari yang kakkak Lihat dia tidak jauh berbeda umur dari adik bungsu mu yang masih bawel tiap hari itu." ucap sang kakkak rama. sambil menatap Dinda yang sudah duduk di samping sang adik bungsu.
"Siapa nama mu.??" tanya sang papa menatap lembut Dinda yang masih beta diam itu...
"Din..dinda Om" ucap gugup Dinda saat sang calon mertua bertanya pada nya....
Ok Dinda, tolong jawab pertanyaan om yang satu ini..Apa kamu benar-benar suka dengan anak om yang sudah tua ini" ucap sang papa yang mendatang kan gelak tawa keluarga Gibran.
"Pa...apaan sih nanya gitu" ucap Gibran sedikit tidsk suka dsn malu dengan ucapan sang papa.
Dengan wajah gugup nya, Dinda menjawab pelan.
"Su..suka om" ucap Dinda gugup namun sang ayah dari Gibran merasa curiga dengan jawaban Dinda yang gugup dan tidak berani menatap Gibran.
"Nak.. jawab jujur, jangan takut-Takut, jika Gibran berani macam-macam sama kamu, akan Om marahi dia, masa maksa kamu datang dengan masih memakai seragan, apa tadi kamu di cukik oleh Gibran di jalan" ucap sang papa Gibran kepada Dinda.
Dinda dengan berani menegak kan kepala nya lalu bekata dengan cukup lantang kepad a papa Gibran.
"Tidsk ada paksaan apa.lahi penculi kan Om, Ini memnag kemauan Dinda, Dinda yang amsih pakai seragam, karena memang kesepakatan kami, Saat Dinds sudsh lulus kami akan segera bertemu Keluarga Gibran untuk membukti kan keseriusan om" ucap Dinda tanpa jedsh dsn jalas itu..
"Ternya kamu baru lulus, selamat ya nak" ucap sang papa Dinda yang mulai tersenyum melihat Dinda yang tidak terlalu tegang seperti tadi.
"Iya pah, dengam nilai tertinggi dan terbaik di SMA" sambung Gibran memuji sang kekasih.
"Wowwww hebat dong..!!?? calon mantu ku" ucap sang mamma yang mulai masuk dalam percakapan mereka yang dari tadi hanya diam saja.
Keluarga Gibran tersenyum melihat sang mama yang ckup antusias dengan verita yang baru di crita kan oleh Gibran dan mulai mengajak Dinda mengobrol tenang...
"Kamu yakin mau nikah sama Gibran dan tidak mau kulya dulu gitu" tanya sang mamma kepada Dinda.
"Mungkin kulya sambil ngurus keluarga tan, kan sekarang baru rencana aja" jawab Dinda singkat tanpa menambah kan ucapan yang membuat sang mama bahagia di awal dan kecewa di akhir.
Ya sudah gimnana baik nya kalian aja, kami nurut aja gimana dengan rencana kalian ke depan nya...
" Oh iya Gibran, kamu sudsh urus surat menguduran kamu sebagaibguru kan, kamu siap menganti kan papa di perusaaan kan nak" ucap sang papa kepada Gibran. dsn membuta Gibran langsung menoleh Kepada Dinda yangbtidak tau menahu tentang perusahaan yang di bahas oleh sang papa Gibran.
Benar saja dugaan Gibran, Dinda terklhat kaget dsn menoleh kepada nya dengan muka bingung nya. namun tidak mau membahas dan bertanya tentang hal itu di depan keluarga Gibran jika sebenar nya dia tidsk mnegtahui itu.
Dinda tidak mau di bilang terlalu ikut campur,Sat dia belum menjadi apa-apa di keluarga besar Gibran..
Dan Gibran takut Kalau Dinds merasa di bohongi jika tidak segera di beri tahu secar perlahan terhadap nya dan Gibrannyakut Dinds merasa di permainnkan oleh nya nanti.
Gibran menarik pelan tangam Dinda untuk pergi dari sana dsn ingin segera memberi penjelasan dan pengertian nya kepada Dinda.
Dinda yang bingung pun langsung mengikuti gibran yang mengajak nya keluar dari villa mewah tu.
"Om.. tan.. kakak dan kamu, kami keluar dulu" ucap Dinda yang berpamitan kepada keluarga Gibran, karena Gibran tegesa-gesa membawa dia keluar dari villa itu...
Belum sempat melewati Pintu keluar villa itu pun, Dinda sudah menoleh dengan mata yang penuh pertanyaan.
Dan Gibran memang langsung menyadari oandangan mata Dinda yang penuh pertanyaan itu....
"Sayang..!!! gin.." ucap Gibran terpotong oleh ucapan Dinda yang kesal..
"Jadi selama ini kamu bohongi aku, dan tidsk berniat jujur sama aku" ucap Dinda pelan karena masih di lingkungan villa itu.
"Sayang dengerin aku dulu...Sumpahh aku gak ada maksud mau bohongi kamu atau pun
gak mau jujur sama kamu...tapi aku nunggu waktu yang tepat untuk cerita semua nya sama kamu, dan mau kamu lukus dulu, dsn mau beri kamu kejutan, tap siapa sangka aku belum bekerja sama sama mama dan papa tentang semua ini, jadi kamu nya kagetan mendengar itu, dan merasa di bohongi oleh ku.
"Tolong oercaya sayang, aku benar-benar tidak ada niat sedikit oun untuk bohong sama kamu, beneran... serius, seserius-rius nya" ucap Gibran menoleh dsn menatap Mata Dinda untuk meyakinnkan sang kekasih untuk percaya pada nya.
Dan saat ini mereka sudah berada di luar dan menaiki mobil menuju ke rumah Dinda.
"Oke akan aku tunggu kejutan yang kamu maksud itu, dan ingat jangan pernah ada kebohongan atau yangbdi sembunyiin dari kita.
Jika salah satu dari kita berbohing dsn mengikari semua nya, cuma satu jalan nya, Putus." ucap Dinda menatap serius kepada Gibran.
Mendengar ucapan Dinda itu, Gibran jadi melemas, ntah lah kenapa jiwa Gibran begitu lengket kepada Dinda yang baru lulus SMA itu, pada hal jika dia ingin mencari yang lrbih, sangat banyak di kuar sana, Namun memang susah mencari gadis yang jujur dengan keadaan semua nya, tidsk di buat-buat untuk memikat pria dan juga tidak berniat mendekati pria lebih dulu..
Semua yang ada di diri Dinda sangat sussh di cari kan pada diri wanita lain nya, mungkin yang Dewasa, yang kaya dan berpendidikan tinggi banyak di luar sana, apa lagi jika para wanita di luar sana mengetahui Gibran pewaris perusaan besar, pasti nya banyak yang bermuka dua.
Namun itu tidak berpengaruh pada gadis mudah yang bernama Dinda tersebut. Dia lebih suka ketenangan yang alami, tidak suka yang nama nya dunia kecantikan atau oun dunia hiburan. yang menjadi kegilaan sang gadis mudah itu, Adalah makan banyak dan Enak yang membuat perut tirus nya kenyang-sekenyang nya..
Jika banyak gadis kaya seunuran Dinda memilih makanan dan juga menjaga tubuh dari jenis makanan di pinggir jalan. namun tidak dengan seorang Dinda yang memakan makanan itu, yang penting halal dan mengenyang kan perut tirus nya.
"Sayang jangan bilang putus-outus terus dong, nanti aku bisa gila kamu tinggalin. aku janji gak ada yang di tutupin antara kita terutama dari aku" ucap Gibran cukup memohon kepada Dinda dengan menggenggam tangan Dinda guna meyakini gadis mungil itu.
"Gak usah janji-janji nanti di ingkari, buktiin aja, semua orang cuma btuh bukti nyata di depan mata bukan janji, kalau janji bisa di percaya, semua Di dunia ini akan berjanji"ucap Dinda menatap Mata sang kekasih yang sendu itu.
Mata yang dulu biasa nya tajam bak mata elang memakan mangsa nya, jika menatap murid yang berprilaku tidak mengikuti aturan sekolah termasuk Dinda.
Namun tidak dengan sekarang, tatapan Karena begitu Cinta terhadap Dinda itu, membuat keras nya hati dan angkuh nya Gibran yang dulu, kini seperti ayam di dalam kurungan, yang lemah di depan Dinda....
"Iya sayang, akan aku buktikan dsn tidak dengan janji-janji lagi. udah ya, kita cari makan duku baru aku natar pulang ya" bujuk Gibran kepada Dinda yang emosi itu...
"Jadi maksud mu, kamu menyogok aku dengan makann, biar hati aku aman gitu.... Oke ayok kita makan" ucap Dinda yang membuat sang kekasih tersenyum geli dengan sikap Dinda yang memang tidak bisa menolak yang nama nya makanan.
"Gak dong sayang, kan abis lihat kelulusan kamu, kita belum ada makan apa oun kan, jadi hari ini kita meraya kan itu dengan makan sepuas nya di tempat dulu,saat sehari kita kecelakaan itu.
Kan tempat makanna itu favorit aku dsn di sana makanan nya segar-segar dan enak, dan juga banyak pasti nya, kita akan pesan sepuas nya" ucap Gibran mulai mengidup kan mobil dan melaju pelan ke tempat favoriit Gibran..
"Hati-hati, kita mau nikah loh, nanti ke ulang lagi, kamu jadi hilang ingatan lagi, masa iya aku harus kembali nyari kamu kemanna-mana. mending cari laki-laki lain dari pada nambah kerjaan." ucap Dinda sarkas jepada dang kekasih agar tidak lagi membawa mobil dengan kecepatan rata-rata, pelan saja yang penting selamat..itu maksud dari ucapan Dinda kepada sang ke kasih...
"Iya Sayang, aku pasti hati-hati dan tidak lagi bawak mobil seperti kita dulu, walau trauma kita sudah hilang" jawab Gibran yang melaju pelan ke arah tempat makan yang mereka ingin kan, dengan sangat hati-hati....
Kini di dalam mobil itu penuh keheningan tidak ada satu percakapan pun yang terdengar. hanya deru nafas pelan mereka yang tenang terdengar di dalam mobil itu...
Beberapa menit kemudian kini mereka sudah berada di parkiran rumah makan itu.
Lalu mereka turun untuk mencari meja kosong untuk mereka makan.
Saat sudah menemukan meja untuk mereka makan, Dinda yang menunggu di sana sambil melihat pemandangan indah nan sejuk itu, sedang kan Gibran pergi memesan makanan mereka......, tidak lama Gibran pun kembali, dan mendekati sang kekasih yang sedang melihat- lihat pemandangan di sana...
"Permisi mas, Dinda dan Gibran pun menoleh karena pesanan mereka sudah tersediah cukup banyak di meja itu. dan mereka pun mulai duduk dan siap menyantap makanan tersebut...
"Woowww...!!!" Ucap Dinda saat baru satu cuap memasuk kan makanan tersebut ke mulut nya...
Kenapa sayang??" tanya Gibran mendengar ucapan Dinda itu.
"Ternyata rasa nya lebih enak dari yang dulu kita makan sayang" ucap Dinda melahap dengan suapan besar masuk ke mulut nya.
"Oke sayang, nikmati lah dan makan sampai kenyang ya sayang, biar empuk sedikit" Canda Gibran, membuat Dinda menoleh dengan mata sengit seperti melihat musuh.
Namun tidak begitu lama, Dinda kembali melahap makanan di atas meja itu dengan lahap dan hampir tidak meninggal kan sisa di piring tersebut.