
Kini yang di tunggu-tunggu pak Gibran dan Dinda sudah nampak di depan mata
"Dinda coba Lihat..!!!" Panggi pak Gibran menunjuk ke arah matahari yang mulai terbenam dengan sangat indah sambil membuka Hp miliknya......
"Woooooowww.....!!!" Ucap Dinda kagum sambil tersenyum Indah menatap sang matahari yang indah di core hari itu...
Dinda dan pak gibran sibuk memotret pemandangan indah dan jarang mereka nikmati secara langsung, apa lagi bagi Dinda ini sangat special, bukan cuma pemandangan nya, tapi orang yang menemaninya...
Dinda bahagia, walau sudah tidak ada harapan untuk dekat lebih jauh pada sang guru, Karena ternyata sang guru hanya mencari teman saja.....
Dinda secara Diam-diam memotret Sang guru dengan oemandangan Indah itu
"Sangat tampan" ucap Dinda dalam Hati sambil tersenyum, Dinda lupa akan masalah-masalah yang memekak kan kepalanya, Kini dia berusaha bahagia dsn sebahagia mungkin, karena ada orang Special yang hadir menemani harinya yang sepi dan Duka.
Wlau Tidak harus tiap hari, tapi bagi Dinda itu sudah cukup.....
Saat sang guru mulai menoleh ke arahnya, Dinda mengalihkan Hp milik nya ke objek yang sebenarnya...
"Kamu memotret bapak, bukan mataharinya, pemandangan seperti ini jarang dan Susah di dapat kan Dinda, ayo potret sebanyak mungin" ucap sang guru yang menepat kan kamera hp miliknya ke arah Dinda, dan Dinda tidak sadar akan apa yang di lakukan gurunya
...
"Ternyata tak kalah indah....."dan sang guru pun mendekat ke arah Dinda...
"Ayo foto bareng untuk kenangan indah ini" ucap sang guru, dan hal itu membuat Dinda tersenyum...
Sambil membelakangi Matahari yang hampir terbenam sepenuhny, mereka berfoto bersama, layak nya sahabat dekat, dengan guru di belakang Dinda memasang gaya khas seorang Pria berkarisma...
"wah..... bagus juga ya pak" ucap Dinda yang memotret dengan Hp milikny sambil tersenyum..
"Pastinya..." jawab sang guru dengan sangat PeDe...kirim fotonya sama bapak"ucap sang guru...
"Gak mau lah, bapak pelit bangett sihhh...!!!!" ucap Dinda cemberut dan lansung menyimpan Hpnya....
"Lah.. kenapa pelit.. kan bapak Minta foto yang tadi aja sama kamu" ucao sang guru yana agak risih dengan ucapsn Dinda..
"Ya pelit lah... masa cuma gitu aja minta di kirimin, kan bapak punya, fotoin lagi secara lansung di Hp bapak" ucap Dinda sewot..
Hal itu membuat sang guru tersenyum kecil, ternyata itu yang di maksud Dinda, bukan yang lainnya...
"Ohhh gitu.. Ok... ucap guru Dinda, Tanpa di duga-duga dan tidak merasakan perasaan apapun, Sang guru menarik Dinda pelan lalu merankul Dinda dan memotret dengan ekspresi Dinda yang Kaget dan tidak siap sama sekali...
Membuat hasil dari jepretan pak Gibran terlihat lucu...dan pak Gibran tertawa lepas tidak seperti biasanya
Meembuat Dinda kesal"Ihhhh.. bapak apaan si, hapus..hapussss..pasti hasilnya jelek bangett, aku bis merasakan itu" ucap Dinda yang brusaha merebut hp dari tangan Pak Gibran..
Tapi itu tidak mungkin, dengan sekali Pak Gibran mengangkat sebelah tangan, Hp itu sudah begitu tinggi dan sulit di gapai oleh Dinda...
Malah ekspresi Dinda membuat sang guru gemas dan mulai menurun kan tangan dan Hp miliknya.Membuat Dinda tersenyum.
Dinda Kira Pak Gibran memberi hp itu padanya tapi malah....
"Trittt..."Suara jepretan mengarah kembali pada Dinda dan hal itu membuat Dinda kesal dan melotot pada sang guru, Tidak ada lagi sikap sopan atau menghormati sang guru, Dinda berusaha keras merebut Hp sang guru, dengan mencengkram erat lengan Pak Gibran..
Tapi Usaha itu tetap akan Sia-sia karena tubuh pak gibran yang tinggi dan badan yang tegap dan kekar itu, membuat tenaga pak Gibran sangat Kuat dan itu tidak mungkin bisa di kalah kan Oleh Dinda, dengan postur tubuh yang tinggi dan lansing itu...
"Pak Hapus donggg... jangan curang gitu, bapak hasil fotonya bagus-bagus loh, masa Dinda kayak gitu" ucao Dinda yang tidak tau lagi bagai mana cara merebut Hp dari sang guru, Karena Dinda cukup kewalahan dengan usahanya namun tidak membuahkan hasil...
"Suka-suka bapak dong mau motoin seperti apa, kan Hp bapak yang punya" jawab Pak Gibran cuek dan mulai menjauh dari Dinda...
"Dasar guru kumprettz..."teriak Dinda sambil mengejar Sang guru menuju arah mobil...
"Dinda bapak dengar,Bapak bisa kurang kan nilai kamu" ucap pak Gibran bercanda...
"Biarinnn, kurangin aja, sekalian kasih Dinda nilai nol, biar puas, Sekalian Dinda gak maauk lagi jam Bapak" ucap Dinda mengancam karena kesal dengan pak Gibrann
Sang guru masuk ke mobil sambil tersenyum mendengar omelan Dinda yang tidak takut akan ancaman darinya...
Tak berapa lama Dinda menyusul dengan muka cemberut dan kusutnya. namun sang guru acuh...
"Hiyatttz..." ucap Dinda berusaha merebut kembali Hp sang masih di pegang pak Gibran, Karena menurut Dinda itu adalah kesempatan agar bisa mengambil Hp sang guru, Karena dia sedang tidak berdiri.. tanpa berpikir apa pun Dinda bangkit dari duduknya dan memeluk satu tangan pak Gibran yang memegang Hp, Dengan posisi Dinda duduk di pangkuan Pak gibran...
Dinda yang tidak peduli akan sikapnya saat ini, dan hanya konsen dengan hp di tangan oak Gibran dan ingin menghapus nya...
"Dinda jangan seperti ini, cepat turun" ucap sang guru yang melihat Dnda masih beta dan masih memeluk tangan dan ingin merebut Hp di tangan nya...
"Tidak akan, sebelum Hp itu berada di tangan ku" ucap Dinda dengan sekuat mungkin dan tak berniat melepas kan...
Cukup lama hal itu terjadi, ntah solusi dari mana, yang membuat Pak Gibran membaring kan tubuh Dinda di kursi mobil lalu memegang kedua tangan Dinda dan meletak kan di ataas kepala Dinda...
Dengan jarak yang cukup dekat dan wajah mereka saling berhadapan...
Mereka Tidak mengeluar kan kata-kata apapun hanya saling tatap dengan napas besar mereka masing-masing... cukup lama terdiam dan mulai mengambil napas pelan, sang guru kembali menarik dan menduduk kan Dinda....
Llalu membuang muka menghadap Kaca jendela.....
Dinda akan sadar dengan sikap yang tadi dia lakukan, membuat Mukanya memerah dan cuma diam,tidak berniat untuk memulai pembicaraan
Hari sudah cukup Gelap, namun keheningan si antara mereka masih terasa.. apa lagi rasa canggung di antara mereka...
Tiba-tiba....!!!!
"Jangan lakukan sikap seperti itu kepada pria manapun, kamu akan menjadi mangsa mereka" ucap sang guru yang masih menoleh ke arah kaca mobil dan menelan kasar salivanya...