
"Dinnn" Panggil sahabat Dinda yang paling belakang, dan membuat dinda yang asik dengan canda melihat ke belakang....
"Ya..???" jawab nya singkat
Ada yang perrhatiin kamu dari tadi" ucapnya jujur, walau dia yang fans berat seorang pemain basket dan juara sekolah tersebut.
Di anatar mereka tidsk ada yang nama nya permusuhan, jika terjadi hanya gara-gara cowok, akan di keluar kan dari geng... dan sipat jujur harus ada oada diri mereka, dsn juga rasa iri tidak boelh menghancur kan persahabatan yang sudah lama terjalin..
"Tadi pas kita lewat kantin paling ujung, Ada si Aldo tu, yang lihatin kamu" ucapnya.
"Aldo siapa" Tanya Dinda yang tidak terlalu kepo dengan murid-murid laki-laki di sekolah mereka...
"Itu loh, anak basket dan juara di sekolah kita" Jawab sahabat Dinda yang lain nya....
"Ohhhh... terus kenapa,??? karena di punya mata di bisa lihat kan, kalau tidak ya dia pakai tongkat ke sekolah" jawab Dinda acuh dan tidak ingin tahu lebih banyak lagi...
"Gini nih, kalau sudsh bucin sama si pria tua itu..... uppffff" ucap sang sahabat dengan nada mengejek dan candaan garing...
"Din dia lihatinn kamu itu, kayak naksir gitu, bukan sekedar lihat-lihat aja, itu maksud ku..." jelas sang sahabat yang melihat aldo menatap Dinda cukup intens tadi...
"La bukan nya kamu yang fans Aldo, gak usah bilang-bilang dia naksir Dinda deh," timpal yang lain...
"Bukan gitu, aku memang cukup suka sama tu cowok, tapi kan bukan berarti cinta kan ,cuma sekedar suka." jawabnya memperjelas
"Ohhhh gituuu..."
"Sudah...sudah... ngapain jadi bahas cowok,jadi kita yang kayak mau berantem, mending kita ke kelas sekarang nunggu guru masuk kelas, atau melanjut kan jam kosong" ucap Dinda menengah kan..
"Ok..ok..." jawab mereka serempak
"Tapi Dinn masih jam kosong, apa kita masih lanjut ke kantin dan makan lagi" sahut sahabat Dinda berlagak bodoh....
"Huhhhh.... Makan aja di otak kamu, Hati-hati, ntar Obeaitas baru tau rasa" ucap Dinda mengejek...
"Jangan dong Din,Jahat banget dah doa kamu, masa sahabat sendiri di doin seperti itu, Taoi tenang din berapa belas tahun umur ku sekarang, dari dulu makan gini-gini aja, taoi gak pernah gendut, kira-kira kenapa ya???..." Bertanya kayak minta di ejek.
"Cacingan kalinkamu nya" balss mereka barengan...
"Alah sudah ku duga, kalian akan jawab gitu, aku sengaja kok ngmong kayak gitu, biar kalian bully" jawab nya tertawa lalu mendahului Dinda dan tiga teman lain menuju ke kelas...
"Haaah... kenapa dia" ucap Dinda bingung dengan sikap sahabat nya yang satu ini..
"Kurang minum obat kali Din, makanya gitu" timpal sahabat Dinda..
"Bisa jadi juga sih, harus nya aku yang dutin minum obat karena masih dalam penyembuhan total, tapi kenapa dia yang sakit ya" sambung Dinda..
" Din tadi aku lihat Pak Gibran pergi ke arah perpust saat kamu di perpust tadi, Kamu ketemu dia gak, dan tumben-tumben banget dia masuk perpust, biasa nya selalu di kantor kecuali mengajar" ucap sahabat Dinda yang melihat pak Gibran tadi...
" iya ketemu pas aku keluar dan mau nyari kalian ke kantin, dan cuma sekilas aja" bohong Dinda"
"Kali aja pak Gibran boring di kelas terus, jadi dia pengen aja ke perpust untuk mencari angin" jawab yang lainnya...
"Cari angin kok ke perpust, noh lapangan basket luas tu, ada pohon yang bikin teduh sama tempat duduk juga, mau cari angin yang gimananlagai dia" jawab sahabat Dinda...
Dinda Tidak menyambung apapun dari topik pembicaraan sahabat-sahabat nya, Dia cukup jadi pendengar, seakan tidak tau Apa-apa, walau tadi bertemu di perpust dan pak Gibran sempat berbicara padanya, namun Dia tidak mau melayani ucapan guru kaku nan sombong itu lagi...
Cukup lama mereka duduk santai sambil bercerita di dalam kelas, belum juga ada tanda-tanda kalau sang guru akan masuk, apa mungkin kelas Dinda melewati pelajaran lagi, dengan tidak hadir nya sang guru, atau guru memang belum mau masuk ke kelas mereka..
Dinda sibuk dengan bermain Hp, walau tak telihat oelh guru, jika guru tiba-tiba datang, secara sembunyi-sembunyi Dinda membuka Hp untuk menghilang kan rasa bosan menunggu guru, danbtidak ada lagi topik yang harus mereka bahas, saking lama nya mereka menunggu guru datang
"Kenapa gak ada informasi ya, ada atau tidak nya guru yang datang" ucap seoraNg Siswi yang juga ikut bosan menunggu
Tak berselang lama, seorang murid yang mengintip dari pintu melapor kepada angota-angota di kelas mereka.
"Waduhhh...!!! Gawatt nih, pak Gibran mengarah ke kelas kita" ucap nya, membuat semua menjadi cukup tegang dan bersiap diri lalu menyimpan Hp milik mereka masing-masing...
"Kalain menunggu Guru jam saat ini bukan" tanya sang guru dengan muka berkarisma nya
"Iya pak" jawab mereka berbarengan..
"Guru jam ini juga tidak masuk, tapi dia meninggal kan materi yang akan kalian tulis samapai jsm nya habis, Dinda kamu kedepan dan dikte kan kepada teman-teman sekelas mu..." ucap pak Gibran, membuat Dinda begitu kaget namun tetap menurut ucapan sang guru.
pada hal di kelas itu ada ketua kelas, wali kelas dan juga sekretaris kelas, namun yang di panggil adalah Dinda...
Kini Dinda maju ke depan dan mendekat ke arah guru tampan nya.
Cukup dekat, karena pak Gibran ingin menjelas kan batas-batas mana saja yang harus mereka kerja kan...
Sampai--Sampai tangan mereka saling bersentuhan, membuat jantung dua insan itu berdetak tak karuan walau tak terlihat oleh murid-murid lain nya, namun sebagai pria Dewasa, Pak gibran menyadari kegugupan sang murid saat dia mendekati Dinda dengan telinga yang me merah...
.Semakin Dinda berusaha menjauh, sang guru mencari celah untuk mendekat kembali.
"Gimana Dinda, sudah paham bukan,?? jika nanti selesai, kumpul kan tugas itu kepada Dinda lalu antar ke meja, jika terlalu banyak, nanti tolong di bantu" ucap sang guru menjauh
"Iya paham pak" jawab Dinda dan sang guru pun keluar dari kelas...
"Huhhh" Dinda menhembus kan napas kasar dan mulai menenang kan dirinya yang tidak tau cara mengatur nafas itu. untung saja
"