
Guys, mohon bantuannya agar karya ini masuk ke dalam rangking karya baru dengan cara like, Komentar, vote dan beri rating 5
*
Mendengar cara Laras mendeskripsikan sosok Al-Ghazali membuat jantung ketiga manusia yang berada di sana bergetar. Setiap kata yang keluar dari mulut Laras sangat bermakna. Sontak saja sang nenek dan sang kakek saling beradu pandang.
Sang nenek menghela nafas berat. Dia sangat ingin melihat cucunya menikah dengan wanita Sholeha, tetapi, saat mendengar jawaban dari Laras dia mengerti. Kalau Laras mungkin sangat membutuhkan Al-Ghazali untuk membimbing gadis ini ke jalan yang benar. Begitupun, Al-Ghazali yang butuh Laras untuk menambah pahala nya.
"Baiklah, Nenek beri restu untuk kalian berdua dan kamu Laras. Harus bisa berubah menjadi lebih baik setiap saat! Nenek tidak minta kamu harus jadi istri yang baik. Tapi, nenek minta kamu harus menjadi muslimah yang baik, sesuai dengan syariat Islam. Karena muslimah yang baik, sudah pasti menjadi istri yang baik. Tetapi, istri yang baik, belum tentu menjadi muslimah yang baik! Mengerti?!" tegas sang nenek membuat Laras tersenyum cerah.
Dia menatap wajah tua sang nenek dengan sorot mata berbinar. Ternyata nenek dan kakek Al-Ghazali tidak segalak yang dia kira.
"Mengerti, Nek. Terima kasih banyak karena sudah memberi restu untuk kami berdua!" Laras menjawab dengan suara meninggi. Dia sangat bahagia. Bahkan sampai loncat-loncat dan bertepuk tangan saling girangnya.
Melihat tingkah laku Laras membuat Nenek dan Kakek, juga Al-Ghazali terkekeh kecil.
"Dasar bocah," gumam mereka serempak.
Laras tersenyum manis, dia menoleh ke arah Al-Ghazali yang juga menatap lembut ke arahnya.
"Kamu hebat," gumam Al-Ghazali pelan tanpa suara. Laras tersenyum senang. Dia mengangguk kepalanya cepat.
Al-Ghazali kembali menatap nenek dan kakeknya dengan serius.
"Tapi, Kek, Nek. Jangan bilang-bilang sama Bunda dan Om! Al yakin kalau mereka nantinya tidak akan setuju. Rencananya Aku besok akan menikah di KUA. Al dan Laras sepakat kalau yang hadir cuma nenek dan kakek saja!"
Al-Ghazali berbicara dengan nada serius. Nenek dan kakek menganggukkan kepala mereka, mengerti maksud permintaan Al-Ghazali.
Bunda dan Om, sangat pemilih. Mereka sangat mendoktrin Al-Ghazali harus melakukan ini dan itu. Sampai jodoh pun mereka berusaha menjodohkan Al-Ghazali dengan Syarifah atau Cut.
Maklum saja Al-Ghazali keturunan Arab-Aceh, keluarga mereka bila menikah juga dengan keturunan Arab-Aceh. Tetapi, tidak dengan Al-Ghazali, dia ingin memilih jodohnya sendiri.
"Kalian tenang saja! Selama ada kakek dan nenek. Tidak akan ada dan tidak akan kami biarkan, rumah tangga kalian di ganggu nanti! Kalau sampai mereka nekat mengganggu kalian, laporkan saja pada Nenek dan kakek!"
Sang kakek berbicara dengan nada tegas. Dia cukup bijaksana dalam menguapi masalah. Melihat Al-Ghazali tumbuh kembang di bawah tekanan para anak-anaknya yang lain pun membuat nenek dan kakek kesal. Mereka ingin Al-Ghazali bebas, selama masih di jalan syariat. Mereka membiarkan Al bebas.
Al-Ghazali yang mendengarnya pun tersenyum senang. Dia sangat bahagia dan bersyukur, karena nenek dan kakeknya mau membela Al-Ghazali.
"Terima kasih, Nek, Kek. Al bisa tenang kalau begitu!" balas Al-Ghazali bahagia.
"Kalian berdua pasti lapar!" tebak sang nenek membuat wajah Al-Ghazali merah merona.
"Iya, Nek," jawab pria itu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Kryukk.
Perut Laras berbunyi membuat mereka semua tertawa. Sedangkan,Laras hanya bisa menutup sebagian wajahnya dengan hijabnya.
"Dasar cacing nol akhlak." Laras mengumpat kesal dalam hati.
"Pergilah ke dapur, Al. Nenek tadi sudah masak keumamah dan kuah asam pedas kesukaan kamu! Ajak juga Laras makan, kalau dia tidak suka dengan masakan nenek. Beli lah kuwah di warteg buat dia!" suruh sang nenek membuat Al-Ghazali tersenyum cerah.
"Siap, Nek!" balas Al-Ghazali.
"Ayo, ikut aku!" ajak Al-Ghazali pada Laras. Gadis itu pun mengekor di belakang Al-Ghazali.
Nenek dan kakek kemudian berbicara dengan serius. Mereka saling beradu pandang.
"Menurut kamu bagaimana si Laras?" tanya Nenek pada kakek.
"Sepertinya dia gadis yang baik, hanya saja dia seperti nahkoda yang kehilangan arah di tengah lautan! Dia butuh bimbingan dari cucu kita! Kalau menurut mu?" tanya sang kakek balik pada istri tercintanya.
"Sama, dia sepertinya gadis yang baik. Kepribadian nya bertolak belakang dengan Al-Ghazali. Tapi, tidak masalah. Kalau memang mereka cocok!" balas sang nenek serius.
Mereka adalah pasangan yang taat agama. Mereka tidak pernah merasa menjadi manusia yang paling baik, oleh karena itu. Mereka tidak banyak neko-neko dengan Laras.
*
*
"Kamu suka?" tanya Al-Ghazali saat melihat Laras menyantap makanannya dengan lahap.
Gadis cantik itu tersenyum. Dia memberikan jempol kirinya.
"Mantap polll … aku udah hampir sepuluh tahun, nggak pernah makan masakan rumah! Dan hari ini, pertama kali aku makan setelah delapan tahun. Rasanya enak banget!" ujar Laras seraya tersenyum manis membuat Al-Ghazali merasa sedih.
"Kamu belum cerita tentang masa lalu kamu padaku!" balas Al-Ghazali membuat Laras tersenyum kecil.
"Mas Al, juga belum cerita masa lalu, Mas Al, sama aku!" kata Laras membuat Al-Ghazali terkekeh kecil.
"Ya sudah, kita cerita nanti saja! Waktu malam pertama kita!" jawab Al-Ghazali membuat Laras menggelengkan kepalanya cepat.
Dia tidak mau kalau malam pertamanya mereka habiskan untuk sekedar bercerita. Sedangkan dirinya sudah sangat ingin melakukan mantap mantap dengan Al-Ghazali.
Ada-ada saja calon suaminya ini.
"Nggak mau! Malam pertama seharusnya kita main kuda-kudaan, bukan malah cerita tentang masa lalu!" celetuk Laras membuat Al-Ghazali tersedak. Sontak saja Laras segera menuangkan air ke dalam gelas, lalu ia berikan kepada Al.
Al-Ghazali meneguknya hingga tandas. Pria tampan itu tidak tahu harus berkata apa, karena tenggorokan nya terasa sangat perih.
"Aduh, Mas. Kamu ini kalau makan hati-hati, dong. Nah, kalau tersedak kayak gini, 'kan, sakit banget pasti tenggorokan kamu. Mana kuahnya pedas lagi!" Laras menggerutu kesal.
Al-Ghazali yang mendengarnya pun tersenyum tipis. Dia merasa sangat senang, karena mendapatkan perhatian dari Laras. Gadis ini memang sangat berbeda. Dia begitu baik dan perhatian. Meski ilmu agamanya minim, tetapi, dia punya sifat kasih sayang.
"Uhuk … ekhm … habis kamu main bahas malam pertama!" jelas Al-Ghazali membuat Laras terkikik geli.
"Hi hi … benar, Mas. Aku nggak sabar! Besok pagi kita menikah, berarti malam besok adalah malam pertama kita!" balas Laras membuat Al-Ghazali malu.
Pria itu segera menyantap habis makanan nya. Kalau bangkit dari kursi. Diikuti oleh Laras yang sudah menyelesaikan makanannya.
"Biar aku saja yang cuci, Mas!" pinta Laras membuat Al-Ghazali menolak.
"Kamu duduk saja! Nanti tangan kamu kasar kalau cuci piring!" tolak Al-Ghazali membuat tubuh Laras terhenyak.
Seolah merasakan Dejavu. Dia teringat masa lalunya saat bersama dengan orang tua kandungnya.
Saat itu ayah Laras sedang mencuci piring.
"Biar aku saja yang cuci, Mas!" pinta ibu Laras, sedangkan Laras kecil sedang memakan apel duduk di kursi dapur.
"Kamu duduk saja! Nanti tangan kamu kasar kalau cuci piring!" tolak sang ayah membuat ibu Laras tersenyum manis
"Bunda … ayah … hiks … Laras rindu," gumam gadis itu pelan tanpa sadar meneteskan air matanya.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰