
Laras membawa Al-Ghazali duduk di atas sofa. Gadis cantik itu memilih duduk di lantai, lalu ia ambil kaki kanan suaminya, diletakkan atas pahanya, kemudian Laras pijat dengan lembut.
"Ras, nggak usah!" larang Al-Ghazali tak enak hati melihat istrinya.
Laras tersenyum manis. Dia menggelengkan kepalanya lemah, terus memijat kaki suaminya.
"Nggak apa-apa, itung-itung biar sakit kepalamu reda, Mas," balas Laras polos membuat Al-Ghazali tergelak.
"Yang sakit kepala aku, Ras. Kenapa yang kamu pijitin kami aku? Laras … Laras … ada-ada aja kamu."
Al-Ghazali mengelus pipi istrinya yang merona. Laras tersenyum malu, dia kelepasan khawatir tadi, sehingga tidak bisa berpikir jernih. Inginnya memijat kepala suaminya, tapi, malah memijat kaki Al-Ghazali.
"Hehe, ya sudah aku pijat kepala kamu aja, Mas."
Sang gadis bangkit duduk di sofa, ingin memijat kepala suaminya. Namun, Al-Ghazali lebih dulu mencekal tangan Laras, pria itu malah menyandarkan kepalanya di pundak Laras.
Dia benar-benar lelah dengan rasa sakitnya. Mungkin tidak akan lama lagi Al-Ghazali akan pergi dari dunia ini. Hatinya berkata demikian.
Laras mengelus kepala suaminya, namun lagi-lagi rambut Al-Ghazali rontok.
"Mas, sebenarnya kamu sakit apa?" tanya Laras lembut seraya menggenggam rambut rontok suaminya.
Wanita itu mengecup puncak kepala suaminya lembut. Dada Al-Ghazali terenyuh dengan perlakuan lembut istrinya.
Dia merasa sedang butuh pelukan dan perlindungan dari istrinya. Batin Al-Ghazali menyuruh pria itu jujur.
"Ras, kalau aku meninggal, apa kamu bakal menikah lagi?"
Al-Ghazali tidak menjawab pertanyaan Laras. Malahan dia bertanya balik pada istrinya. Suara Al-Ghazali terdengar serak seperti sedang menahan tangis.
Dada Laras terasa nyeri dan sakit mendengarnya. Sungguh, dia tidak pernah berharap Al-Ghazali pergi meninggalkan nya.
"Mas, kamu ngomong apa, sih? Jangan aneh-aneh, deh," balas Laras kesal dengan suara tak kalah serak.
Gadis itu menahan air matanya agar tak turun membasahi pipinya. Sekuat mungkin dia untuk tegar.
"Aku sakit, Ras."
"Kanker otak stadium akhir. Dokter memprediksi hidupku cuma tersisa 99 hari lagi. Itu artinya aku akan pergi jauh, dunia kita akan berbeda," jelas Al-Ghazali mengakui bahwa dirinya sakit parah.
Suara pria itu bergetar dan serak. Dia mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya pada dada Laras. Takut kalau gadis itu pergi darinya.
Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Mengapa takdir begitu kejam pada gadis yang baru saja bahagia?
Mengapa semua orang yang disayang olehnya, pergi begitu cepat?
Orang tuanya sudah meninggal dan sekarang suaminya juga divonis oleh dokter takkan lama lagi hidup di dunia ini.
Benar-benar sangat menyedihkan takdir gadis cantik itu.
"Kamu nggak bohong, 'kan, Mas?" tanya Laras dengan suara parau.
Cairan bening yang menumpuk di matanya, meluncur cepat membanjiri pipinya.
Nafasnya seperti tercekat di tenggorokan. Seperti ada tangan yang mencekik leher gadis itu.
"Aku berharap apa yang aku katakan juga kebohongan, Ras. Faktanya aku memang benar sakit," balas Al-Ghazali tak lama kemudian, pria tampan itu menangis dalam pelukan istrinya.
"Aku mau hidup, Ras … hiks … aku mau hidup!" tangis Al-Ghazali pecah dalam pelukan istrinya. Rasa sakit yang telah lama ia rasakan sendirian, kini dia bagi dengan istrinya.
Pria itu tak mampu lagi pura-pura kuat. Biarlah dunia menganggapnya lemah, nyatanya pria juga manusia yang punya tawa dan air mata.
Takdir memang sulit ditebak, orang baik selalu dipanggil cepat oleh Allah.
"Mas," lirih Laras ikut menangis sesenggukan mengeratkan pelukannya. Tubuh Laras dan Al-Ghazali sama-sama terguncang, karena menangis.
Tangisan pasangan suami istri itu terdengar memilukan. Keduanya, sama-sama menderita.
"Aku mau hidup, Ras … hiks … aku tahu kematian itu pasti, tapi, aku ingin umur panjang, aku ingin menikmati masa tuaku bersamamu dan anak-anak kita nantinya! Tapi … tapi … nggak bisa!" tambah Al-Ghazali menumpahkan segala rasa sakitnya.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️