
"Siapa yang datang?"
Keduanya tampak bingung. Laras memutuskan untuk bangkit dari pangkuan suaminya. Dia segera beranjak untuk membukakan pintu rumah mereka.
Terlihat dua sosok wanita dewasa berdiri di hadapannya. Kedua orang itu menatap datar Laras. Tanpa memberi salam dan menghiraukan Laras, keduanya segera masuk. Bahkan, salah satu di antaranya menabrak pundak Laras, membuat gadis itu nyaris terjatuh.
"Auch … dasar tidak sopan santun," ketus Laras kesal seraya memegang pundaknya.
Vira dan Rini tak lain adalah Tante Al Ghazali, keduanya sengaja datang ke rumah Al Ghazali untuk merecoki pria itu agar mau menceraikan Laras keduanya punya rencana tersendiri agar Al mau berpisah dengan gadis yang tidak sesuai kriteria jodoh Al Ghazali menurut mereka.
Mereka tidak sadar telah menjadi perusak rumah tangga orang lain, keduanya merasa paling baik dan paling benar Vira saat mendengar cerita Rini merasa sangat marah karena Laras bisa-bisanya bersikap tidak sopan pada kakaknya.
"Al, di mana kamu?" Keduanya masuk ke area ruang tamu terlihat Al ghazali sedang selonjoran di depan televisi, tadinya pria itu masih berada di dalam kamarnya namun saat tahu ada tamu datang dia segera keluar kamar.
"Al, di sini kamu rupanya. Kenapa tidak jawab saat Tante panggil?" tanya Vira dengan nada kesal membuat Al-Ghazali memutar bola matanya malas.
Pria itu sudah menebak maksud kedatangan kedua tantenya, karena dia tahu betul Bagaimana karakter Fira dan Rini mereka pasti ingin mendesak Al Ghazali lagi untuk poligami atau menceraikan Laras, pria itu tetap kukuh pada pendiriannya.
Bajunya laras adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya di sisa-sisa umur Al Ghazali yang tak panjang lagi.
"Maaf, tumben Tante kemari! Ada apa?" Al Ghazali bertanya dengan nada santai pada Vira, karena yang biasanya mendatanginya adalah Rini, dia pura-pura kebingungan karena ingin mendengar jawaban langsung dari Rini dan Vira. Pria itu sedang berbaik sangka karena bagaimanapun kedua wanita dewasa di hadapannya adalah adik kandung ibunya.
Vira langsung berdetak pinggang, wanita dewasa itu segera menumpahkan setelah kekesalan yang tersimpan di dalam hatinya.
Laras berdiri tak jauh dari Vira dan Rini Gadis itu ingin mendengar maksud tujuan kedua wanita dewasa yang tidak sopan santun padanya ini datang bertamu ke rumah sang suami.
"Kamu menikah dengan gadis liar itu kenapa tidak bilang-bilang dulu sama Tante, huh?! Apa kamu tahu kalau kami sudah punya calon terbaik untuk kamu, Al?! Tante Rini sudah capek-capek membujuk temannya agar mau menjodohkan anak gadisnya yang lulusan pesantren ternama di Mesir agar mau menikah dengan kamu. Tapi, apa yang telah kamu lakukan?! Kamu telah mensia-siakan gadis berbudi luhur hanya untuk mendapatkan gadis liar sepertinya."
Vira mengeluarkan semua isi hatinya membuat Laras yang mendengarnya ikutan geram. Sang wanita tidak suka dengan kata-kata Vira, karena begitu merendahkan dirinya.
Segera dia berjalan mendekati Vira. Tanpa rasa takut sama sekali, gadis cantik itu berdiri di hadapan Vira. Dia berdecak pinggang.
"Saran saya, sebelum Anda mengkritik saya yang minim ilmu agama. Alangkah baiknya, Anda mengintrospeksi diri agar sadar kalau adab sebelum ilmu lebih penting untuk dipelajari?!"
Laras menumpahkan kekesalannya. Dia tidak mau kalah, tak mau lemah dan ditindas lebih hebat lagi oleh Rini dan Vira. Gadis itu tahu kalau dirinya minum ilmu agama, tetapi, dia tidak pernah merendahkan orang lain.
Begitulah manusia, mereka yang ahli maksiat saat melihat orang Sholeh, maka akan berkata dalam hatinya, "Alangkah beruntungnya mereka punya iman sekuat itu, aku malu sekali."
Berbeda dengan orang sholeh meski tidak semuanya, saat.bertemu dengan tukang maksiat. Hati mereka akan berkata, "sungguh neraka adalah tempat berpulang mereka. Tidak selevel denganku."
Kembali lagi pada Vira. Dia tampak sangat terkejut mendengar ucapan Laras. Tampaknya benar apa yang diceritakan oleh kakaknya tentang Laras. Gadis di hadapannya benar-benar berani menyanggah atau membalas ucapan mereka dengan kata-kata yang lebih sarkas.
Al-Ghazali tersenyum tipis, kata-kata Laras sungguh tajam dan penuh makna. Dia tidak melarang, selama itu tidak menghina fisik.
Istrinya harus menjadi wanita tangguh, agar saat dia pergi nanti. Laras bisa menjaga dirinya sendiri.
"Aku tidak salah pilih istri, Laras memang sangat cocok menjadi istriku," batin Al-Ghazali bahagia.
*
*
Kalau author up 10 bab hari ini mau nggak? 🤭🤭 Yuk komentar di bawah yang banyak. Biar author semangat up.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰