
"Mas, kamu kenapa? Aku takut … hiks …" Laras meneteskan air matanya saat melihat sang suami tampak kesakitan. Al-Ghazali merasakan kepalanya berdenyut nyeri seperti ingin pecah rasanya, dia mencengkram kuat rambutnya sendiri.
"Wajah kamu pucat sekali, Mas. Lebih baik kamu buka puasa saja," bujuk Laras dengan suara serak. Dia berusaha menenangkan suaminya yang tampak kesakitan.
"Nggak apa-apa, Ras. Aku kuat, kok."
Al-Ghazali menjawab dengan suara pelan. Pria tampan itu berusaha untuk kuat, rasa sakitnya perlahan menghilang. Hatinya terasa sangat sesak, bayang-bayang kematian menghantui pikirannya.
"Kamu sakit apa sih, Mas? Kenapa bisa pucat begini … hiks … tadi sahur aku lihat kamu minum obat … obat apa yang kamu minum, Mas. Kamu sebenarnya sakit apa … hiks … jujur sama aku, Mas. Aku ini istri kamu!"
Laras menumpahkan tangisnya, dia memeluk lengan Al-Ghazali erat. Sang gadis sangat takut suami tercintanya sakit, sudah cukup orang tuanya yang dipanggil Allah untuk pulang. Dia tak mau Al-Ghazali juga ikut dipanggil pulang.
Izinkan Laras egois untuk sekali ini. Dia telah lama menderita karena hidup sebatang kara. Sekarang, saat dia mendapatkan cinta, gadis itu tampak tak mau melepaskannya.
Dia ingin selalu bersama Al-Ghazali, di sisi pria itu. Biar pun mereka harus berpisah, cukup Laras saja yang pergi dari dunia ini, atau mereka pergi secara bersamaan. Sunguh, Laras tak sanggup lagi hidup sendirian.
"Huwaa … ngomong, Mas. Kamu sebenarnya sakit apa? Kenapa harus minum obat? Dan kenapa rambut kamu rontok?"
Laras bertanya di sela-sela tangisnya. Dia mengeratkan pelukannya pada lengan Al-Ghazali. Pria itu termangu, lidahnya kelu membuatnya membisu.
Sangat sulit untuknya menjawab pertanyaan Laras. Pria itu sedang berusaha berdamai dengan penyakitnya, sehingga tak berharap orang-orang tahu tentang penyakitnya.
Setelah dia bisa berdamai, barulah Al-Ghazali akan menceritakan pada semua orang. Dia memang pria yang Sholeh, tetapi, bukan berarti tidak punya sisi gelap nya.
Al-Ghazali masih ingin hidup panjang, terlebih lagi dia telah beristri. Pria itu ingin bahagia bersama istrinya, berharap punya anak dan mereka menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Ahh … membayangkan semua itu membuat dada Al-Ghazali terasa sesak.
"Apa yang aku pikirkan, tidak layak orang yang mau mati memikirkan masa depan," batin Al-Ghazali tersenyum getir.
Pria itu mengelus puncak kepala istrinya. Dia memutuskan untuk jujur pada Laras, agar wanita itu tidak berharap banyak katanya dan siap hidup sendiri bila dirinya tak lagi ada di dunia ini.
Al-Ghazali berbicara dengan lembut pada istrinya. Laras menganggukkan kepalanya, dia menghapus jejak air mata yang mengalir membasahi pipinya. Dia benar-benar merasa sangat takut, tak.mah dirinya di tinggal pergi oleh Al-Ghazali.
Tak rela bila pria itu sakit.
"Janji kamu bakal cerita semuanya sama aku, Mas. Aku nggak mau jadi istri bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang suaminya," balas Laras menatap lekat wajah pucat suaminya.
Ucapan Laras membuat Al-Ghazali tersenyum tipis. Dia segera mengusap pipi mulus istrinya. Hati pria itu terasa sangat sakit melihat istrinya menangis untuknya. Dia merasa sangat bersalah, mereka baru menikah beberapa hari, tetapi sudah banyak air mata Laras keluar karenanya.
"Iya, Sayangku. Makanya jangan menangis lagi, ya. Aku nggak suka lihat kamu nangis," balas Al-Ghazali lembut membuat Laras menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua segera pulang, Al-Ghazali membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasa sakit itu perlahan menghilang, namun masih membekas. Tubuh Al-Ghazali sampai gemetar.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah. Laras yang turun pertama kalinya, dia membuka pintu mobil untuk sang suami. Lalu dia bangun memapah suaminya, meski Al-Ghazali telah menikah berkali-kali.
"Kamu ini … aku berat loh, Ras. Biarkan aku jalan sendiri saja," kata Al-Ghazali tak membuat Laras peduli. Gadis cantik itu tetap kekeh membantu suaminya jalan.
*
*
Yuk vote nya yang banyak 🌹🙏
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️