
Laras menatap lekat wajah pucat suaminya. Tubuh kekar yang dulunya gagah dan perkasa, kini tak lebih dari tulang terbungkus kulit. Semakin hari keadaan Al-Ghazali semakin parah. Terkadang sampai drop tak sadarkan diri selama beberapa hari pasca kemoterapi.
"Kenapa bukan aku saja yang sakit?" gumam Laras pelan seraya mengusap pipi kurus suaminya.
Sang wanita tersenyum miris. Dia merasa sangat sedih melihat keadaan suaminya. Laras tak sadar kalau dirinya juga sudah kurus. Selama Al-Ghazali sakit, dia lebih memprioritaskan suaminya.
Bahkan, dirinya hanya makan sedikit. Bagaimana mungkin Laras bisa makan dengan kenyang, sedangkan suaminya sakit parah terbaring di atas brankar.
Jangankan makan, lapar saja tidak.
Perlahan pemilik bulu mata lentik itu terbuka. Al-Ghazali tersenyum lemah ketika melihat wajah cantik istrinya pertama kali saat sadar.
Hatinya menghangat melihat sang pujaan hati yang masih betah merawat dirinya. Puji syukur tak henti-henti Al-Ghazali lantunkan dalam hati. Bersyukur sekali dia memiliki istri sebaik Laras.
"Hai istriku," sapa Al-Ghazali dengan suara lemah.
Al-Ghazali ingin menyentuh pipi Laras. Namun, tak sanggup menggapai karena tenaganya begitu lemah. Laras segera menggenggam tangan sang suami, lalu ia letakkan pada pipinya.
Al-Ghazali tersenyum manis. Dia bahagia bisa menyentuh pipi istrinya.
"Syukurlah, aku masih bisa menyentuh pipimu," ujar Al-Ghazali parau membuat hati Laras terasa sangat sakit.
"Kamu bisa menyentuh semua yang ada pada tubuhku, Mas. Asalkan kamu sembuh," balas Laras parau membuat Al-Ghazali tersenyum getir.
"Semalam aku mimpi jumpa sama orang tuaku … mereka bilang kami akan bertemu dalam waktu dekat," cerita Al-Ghazali polos dengan sorot mata lemah.
Degg.
Jantung Laras bagai ditusuk ribuan jarum. Dia benar-benar sangat sakit mendengarnya. Wanita itu masih sangat mencintai suaminya. Dia ingin bersama dengan Al-Ghazali selalu.
"Bilang sama orang tua kamu, kalau bertemu nya nanti saja. Saat kamu bisa bawa aku untuk mereka bertemu," balas Laras dalam menanggapi cerita suaminya.
Dia merasa kalau suaminya benar-benar akan pergi jauh. Sungguh, Laras tidak sanggup akan hal itu.
Dia meneteskan air matanya, menatap lekat wajah tampan suaminya.
"Emang kamu mau pergi bersamaku untuk bertemu dengan orang tuaku?" tanya Al-Ghazali lembut membuat Laras tersenyum kecil.
Dia menganggukkan kepalanya semangat. Beriring dengan cairan bening keluar dari mata Laras. Dia tersenyum manis melihat sang suami yang ikut tersenyum.
"Tentu saja aku mau," balas Laras mantap.
Dia sudah bertekad untuk selalu bersama dengan Al-Ghazali. Siang dan malam dia berdoa semoga Allah bisa mempersatukan nya dengan sang suami. Laras ingin selalu bersama dengan Al-Ghazali. Di manapun itu.
Dia tidak sanggup untuk berjuang di dunia yang kejam ini sendirian. Selama ini yang menyayangi Laras dengan sepenuh hati hanya Al-Ghazali.
Al-Ghazali adalah dunianya, Al-Ghazali adalah rumahnya. Lantas mau ke mana perginya bila rumah dan dunia Laras lenyap?
"Tapi, aku yang duluan jumpa sama Ibu dan Bapak. Nanti kamu baru ikutan!" tandas Al-Ghazali membuat Laras menggeleng kepalanya cepat.
"Aku tidak sanggup berpisah sama kamu. Kamu itu rumahku, Mas. Kalau rumah ku hancur, ke mana lagi aku harus pergi?" tanya Laras dengan suara serak.
Al-Ghazali terkekeh kecil mendengarnya.
"Kamu bisa cari rumah baru," balas Al-Ghazali.
"Rumah baru belum tentu senyaman rumah lama, Mas," balas Laras membuat Al-Ghazali tersenyum lemah.
*
*
Maaf baru up lagi, novel ini hampir tamat ya, guys. Tamat malam ini. Sisa tiga episode lagi 🙏❤️ maaf kalau pendek, karena ini sad ending. Jadi author nggak sanggup buat cerita panjang kalau sad hehe.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏