Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Doa Tulus Laras Untuk Al-Ghazali


Laras perlahan mendekati Rini dan Vira. Segera saja dia mencium punggung tangan dua wanita dewasa itu. Rina dan Vira hanya bisa menurut pada permintaan Al-Ghazali. Mereka tidak tega melihat wajah sendu sang keponakan.


"Jadi, istri yang baik. Awas kalau tidak?!" tegas Rini membuat Laras menganggukkan kepalanya takut-takut.


"Baik, Tan."


Mereka mengobrol sejenak, terlihat Al-Ghazali begitu dimanjakan oleh kedua wanita itu membuat Laras tersadar, kalau mereka berdua benar-benar menyayangi Al-Ghazali seperti anak kandung sendiri.


Pantas saja mereka ingin yang terbaik untuk Al-Ghazali.


"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu ya, Al. Lain kali kamu bawa istrimu bertamu ke rumah kami, biar kalau bosan nanti dia bisa main ke rumah Tante dan Tante Vira!" ujar Rini lembut pada sang keponakan membuat Al-Ghazali menganggukkan kepalanya semangat.


Dia sangat bahagia, karena sang Tante telah merestui pernikahan nya dengan Laras. Ternyata bila berbicara dari hati ke hati pasti akan menemukan titik terang.


"Baik, Tan. Hati-hati di jalan."


"Iya …dan kamu Laras! Belajar sama Al agar lebih paham agama dan jangan pakai celana kalau keluar rumah. Pokoknya harus berpakaian syar'i!" titah Vira tajam pada istri keponakannya itu.


Laras dengan patuh menganggukkan kepalanya. Dia tidak akan membantah perintah Vira, karena memang sudah selayaknya dia berpakaian sesuai syariat Islam.


"Siap, Tante!" jawab Laras tegas penuh kesungguhan membuat Vira tersenyum kecil.


"Gadis baik," batin Vira memuji.


Setelah selesai bersilaturahmi. Keduanya segera kembali ke rumah masing-masing. Hati mereka lebih tenang setelah memberikan restu pada Al-Ghazali dan Laras. Keduanya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka agar selalu bahagia di dunia maupun di akhirat.


*


*


Tengah malam Al-Ghazali terjaga saat rasa sakit menyerang kepalanya. Kali ini benar-benar sakit, lebih sakit dari biasanya. Dia memegang kepalanya yang terasa nyeri dan berat.


"Akk … Astaghfirullah ya Allah." Al-Ghazali terus beristighfar, cairan bening keluar dari pelupuk matanya membasahi pipi gara-gara rasa sakit itu amat kentara.


Suara Al-Ghazali membuat Laras terjaga. Dia segera menyalakan lampu kamar. Lalu Laras beralih melihat Al-Ghazali yang duduk bersandar di tepi ranjang dengan tangan yang terus memegang kepalanya.


Rasa panik menyerang Laras. Sang gadis menyentuh pundak suaminya.


"Mas, kamu kenapa lagi?" tanya Laras panik.


"Sakit, Ras … sakit," lirih Al-Ghazali tak mampu menahan tangisnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya!" ajak Laras membuat Al-Ghazali menganggukkan kepalanya lemah.


Huwekk.


Cairan bening keluar dari mulut Al-Ghazali. Dia memuntahkan cairan itu di atas ranjang, rasa sakitnya sudah benar-benar parah membuat Laras panik dan menangis.


Rasa takut memenuhi hatinya. Dia tidak sampai hati melihat sang suami sekarat seperti sekarang.


"Kamu punya obat, Mas? Minum obat dulu saja, biar sakitnya lumayan reda!"


Al-Ghazali menunjuk ke atas laci meja panjang di samping kanannya. Laras segera turun dan mengambil obat-obatan milik Al-Ghazali dari sana.


Dia ambil masing-masing satu butir lalu ia bangu Al-Ghazali meneguknya. Laras memberikan air putih pada sang suami membuat pria itu meneguk air putih hingga tandas.


"Ras, sakit …" Al-Ghazali mengadu pada sang istri membuat Riska sesak.


"Iya, Mas. Sebentar yah … aku panggil Pak Mamat dulu buat antar kita ke rumah sakit!" Laras mengecup kening suaminya.


Dia segera keluar dari kamar berlari kencang memanggil sekuriti yang bertugas menjaga rumah Al-Ghazali.


Gadis itu tidak bisa mengemudi, itu sebabnya dia meminta tolong orang luar.


"Ada apa, Buk?" tanya sang sekuriti khawatir.


"Tolong bantu suami saya."


Keduanya segera masuk ke dalam rumah. Mereka bergegas ke dalam kamar, mata Laras terbelalak saat melihat sang suami sudah tergeletak di atas lantai. Sepertinya Al-Ghazali ingin menyusulnya.


"Mas!" pekik Laras panik.


"Ya Allah, Pak," seru Pak Mamat khawatir.


Sang sekuriti langsung menggendong tubuh Al-Ghazali dengan susah payah berlari kencang menuju garasi mobil.


Laras mengambil kunci mobil lalu segera berlari keluar mengikuti Pak Mamat dari belakang.


Dia membantu membuka pintu mobil. Al-Ghazali diletakkan atas kursi penumpang. Laras menyerahkan kunci mobil pada Pak Mamat.


Laras masuk ke dalamnya lalu memangku kepala sang suami. Dia menangis sesenggukan melihat wajah pucat suaminya. Tubuh Al-Ghazali berkeringat dingin, bahkan baju kaos yang ia pakai sudah basah oleh keringat.


"Pak, cepetan, Pak," punya Laras membuat Pak Mamat segera mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Dalam hati Laras hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk sang suami. Takut sekali bila hal buruk terjadi padanya.


"Mas, aku mohon bertahanlah … kamu harus kuat … hiks … kita baru saja bahagia. Bahkan, Tante Vira dan Tante Rini sudah merestui pernikahan kita."


Laras terus berbicara seolah-olah sang suami sadar dari pingsannya. Laras menggenggam tangan sang suami yang terasa sangat dingin dan basah oleh keringat.


Dia menggigit bibirnya berusaha sekuat mungkin untuk kuat dan tegar. Padahal hatinya rapuh sekali.


"Hiks … Mas, aku mohon … kamu harus kuat," lirih Laras pelan.


Berulang kali dia mengecup kening suaminya. Berharap Al-Ghazali sadar dari pingsannya.


Di tidak sanggup kehilangan pria yang telah mengangkat derajatnya. Laras bisa gila bila sang suami pergi begitu cepat.


Bayangkan saja, hanya Al-Ghazali yang memperlakukan Laras dengan baik meski telah tahu jati diri Laras.


Selama hidup Laras selalu merasa hina, karena banyak orang yang mengatakan hal hina padanya. Berbeda dengan Al-Ghazali.


Pria Sholeh yang mampu membuat wanita hina seperti Laras begitu mulia.


Laras mendongak seolah dia melihat Sang Pencipta di atas sana. Hatinya terus melantunkan doa untuk sang suami.


"Duhai Sang Pencipta, Duhai Sang Pemilik Cinta. Hamba-Mu yang penuh dosa ini datang untuk meminta. Duhai yang Maha Penolong, hamba bermohon pada-Mu untuk menolong suami hamba. Sembuhkan lah suami hamba ya, Rabb. Seperti Engkau menyembuhkan Nabi Ayyub as dari penyakitnya. Duhai Yang Maha Mendengar, hamba mohon dengarkan doa hamba. Duhai Yang Maha Mengabulkan, mohon kabulkan doa hamba. Hanya kepada-Mu kami meminta, hanya kepada-Mu kami bermohon, karena hanya diri-Mu Yang Maha Pengasih, bila Maha Pengasih mengabaikan doa hamba yang hina ini. Lantas, kepada siapa lagi hamba bermohon, Ya Rabb!"


Laras berdoa dengan kata-kata yang indah. Dia menyebut Asma Allah dalam rangkaian doa yang begitu indah dan tulus.


Lihatlah, betapa tulusnya ia meminta pada sang pencipta. Menandakan sang suami sangat berharga baginya.


*


*


Ada yang mewek nggak? 🥺🥺


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰