Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Kisah Cinta Tragis


Perlahan pemilik bulu mata lentik itu terbuka. Lingkaran coklat mengitari pelupuk matanya, tampak kantung matanya cekung. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya mengering. Rambut hitam legamnya telah dicukur habis. Tubuhnya kurus kering, seperti tulang terbungkus kulit saja.


Sudah sebulan Al-Ghazali dirawat inap rumah sakit. Dia juga bersedia untuk kemoterapi. Meski kata dokter semuanya akan sia-sia. Bahkan, Al-Ghazali berulang kali menolak kemoterapi, namun Laras terus mendorongnya agar mau melakukan kemoterapi.


Seluruh keluarga besar Al Ghazali terpukul mengetahui keadaan Al yang sebenarnya. Mereka tidak menyangka kalau pemuda baik hati yang ceria, ternyata menderita penyakit mematikan.


"Ras," panggil Al-Ghazali dengan suara lemahnya membuat Laras yang sedang melamun tersadar.


Buru-buru gadis itu menghapus air matanya agar sang suami tidak melihat tangisannya.


"Eh Mas … kamu sudah bangun. Mau pipis?" tanya Laras lembut dengan senyuman manis tersemat di wajahnya.


Al Ghazali tahu kalau sang istri menangisi keadaannya setiap kali dirinya tertidur. Laras benar-benar takut akan perpisahan, dia belum sanggup berpisah dengan Al-Ghazali.


"Iya, tolong bantu aku," pinta Al-Ghazali lemah membuat Laras menganggukkan kepalanya.


Dia segera memapah sang suami ke toilet. Laras ikut membersihkan tubuh lemah suaminya. Dia juga membantu Al-Ghazali menyikat giginya.


Setelah selesai, Al-Ghazali kembali duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Sarapan dari rumah sakit telah dibawa oleh perawat.


"Kamu makan dulu ya, Mas. Aaaa!" Laras menyuapi sang suami dengan telaten. Hanya beberapa suap, Al-Ghazali sudah tak mau menghabiskan sarapannya lagi.


"Sudah cukup, Ras. Aku nggak mau lagi."


"Kamu harus makan banyak buat cepat sembuh," balas sang istri lembut membuat Al-Ghazali tersenyum getir.


"Yang ada aku makan banyak bakal muntah-muntah setelahnya, Ras," ujar Al-Ghazali tertawa kecil menutupi kesedihannya.


Laras berusaha kuat, dia ingin tetap tegar di hadapan suaminya.


Gadis itu meletakkan nampan makanan di atas meja. Dia kembali duduk di sebelah sang suami.


"Mas, apapun yang terjadi. Aku bakal akan tetap berada di sisi, Mas!" ujar Laras tiba-tiba ingin menyemangati sang suami yang sedang berduka lara.


"Aku tahu … tapi, kalau aku tidak ada nanti. Kamu harus cari pengganti ku yang lebih baik ya!" balas Al-Ghazali lemah seraya menggenggam tangan istrinya.


Dada Laras seperti dihantam baru besar. Dia merasa sangat terpukul dengan ucapan sang suami. Setiap harinya semangat hidup Al-Ghazali berkurang.


Terkadang pria itu melamun dan saat Laras mengajaknya berbicara, Al-Ghazali hanya terdiam seperti orang linglung.


"Mas, kamu ngomong apaan sih! Kamu itu nggak bakal ke mana-mana. Kita akan terus bersama-sama. Sampai kapanpun dan di manapun!" bantah Laras dengan nada tegas membuat Al-Ghazali meneteskan air matanya.


Namun, Laras segera menghapus air mata sang suami. Dia tidak akan membiarkan suaminya menangis.


"Jangan menangis … aku tidak suka. Biar saja nanti sekalian kamu nangis saat sembuh total!" larang Laras dengan suara serak.


Terlebih lagi karakter suaminya seperti Al-Ghazali. Baik, hangat dan mencintai Laras.


Dia hanya pura-pura kuat agar tak membuat sang suami ikut lemah.


"Harta peninggalan orang tuaku banyak. Ada tanah di Malang, kos-kosan di jogjakarta dan Jakarta. Kebun sawit di Riau. Nanti kalau aku pergi, semua itu akan menjadi hak kamu! Jadi, kamu tidak harus capek-capek kerja dan kamu bakal jadi janda kaya raya. Aku jamin nantinya bakal banyak laki-laki yang ingin meminangmu menjadi istri. Pilihlah yang taat agama, bukan yang paham agama! Pilih yang takut sama Allah, bukan yang cinta sama Allah tapi tak takut pada Allah!"


Al-Ghazali berbicara dengan lugas. Dia sudah ikhlas dengan takdir yang Allah berikan padanya. Sang pria tak lagi berharap banyak. Dia yakin kalau umurnya takkan lama lagi.


Al ingin Laras bahagia meski dirinya sudah tiada.


Laras tak mampu menahan tangisnya lagi. Kata-kata sang suaminya semakin hari selalu merujuk pada kematian. Tidak lagi tentang kehidupan.


Hatinya sakit sekali.


Ya Allah … dia baru saja bahagia dengan suaminya.


Mengapa kebahagiaannya tak abadi?


"Aku menikah sama kamu bukan karena harta, Mas. Tapi, karena kamu memperlakukan ku seperti manusia … hiks … jadi, berhenti berbicara tentang harta! Karena yang aku inginkan cuma kesembuhan mu, Mas!" balas Laras di sela-sela tangisnya.


Al-Ghazali tersenyum lembut. Dia membelai pipi basah sang istri. Hatinya sakit melihat istrinya bersedih setiap harinya.


"Laras sayang … istriku Sholeha ku! Cintai jiwa dan ragaku. Bila saat ragaku hilang, kamu tidak merasa kehilangan, karena jiwaku tetap ada di dalam hatimu!"


"Di setiap sujudku, aku selalu berdoa agar dipersatukan denganmu oleh Allah di surga - Nya nanti. Dunia ini terlalu sementara untuk kita tempati. Biarlah surga menjadi tempat abadi untuk insan seperti kita!" Al-Ghazali tersenyum tipis, suaranya yang lemah mampu menggetarkan hati Laras.


Sang istri segera memeluk lembut tubuh Al-Ghazali yang kurus kering. Dia menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan suaminya.


Dua perawat yang mengintip dari pintu mendengar semuanya. Mereka ikut menangis pilu. Kisah cinta Laras dan Al-Ghazali memang membuat penghuni rumah sakit itu gempar. Nyatanya mereka masih romantis meski dalam keadaan sulit.


*


*


Author mau tanya, apa di sini ada yang seperti Laras? Menemani dan merawat suami di rumah sakit karena menderita penyakit mematikan?


Bersambung


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️