
Seorang wanita berkerudung panjang dan berpakaian gamis sopan memasuki rumah kawasan elit. Wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras menunjukkan dirinya sedang murka dan marah besar, amarah dalam dadanya berkobar-kobar, dia ingin menjadi pelampiasan, namun tak ada tempat untuk pelampiasan.
Bertemu dengan istri dadakan keponakan nya membuat wanita itu kesal dan murka. Tidak pernah sekalipun dalam hidup dia berharap akan punya keluarga baru yang berasal tak jelas dari mana dan ilmu agamanya sedikit.
Dia sangat menjunjung tinggi ilmu agama, namun, dia lupa kalau tak semua orang punya ilmu agama tinggi. Bahkan, Rasulullah tidak pernah memaksa umatnya untuk punya ilmu agama yang tinggi. Tetapi, Rasulullah menyuruh umatnya untuk belajar agama dan tentunya adab menjadi nomor satu.
Bodohnya manusia jaman sekarang lebih memilih untuk memperbanyak ilmu agama, tetapi, lupa dengan tauhid dan adab.
Cih, seolah mereka lupa siapa Azazil. Dia adalah guru para malaikat, ilmunya sang tinggi, tetapi, tetap ditendang dari surga, karena punya kalimat : aku paling baik di dalam hatinya.
"Vira?!" teriaknya seraya melangkah masuk ke dalam rumah adiknya.
Sang adik yang sedang merajut cukup terkejut melihat kedatangan sang kakak. Terlebih lagi wajah makanya tampak sangat marah, siapa yang telah membuat kakaknya tampak marah dan kacau seperti sekarang?
"Apa sih, Mbak? Datang-datang bukan beri salam, malah main panggil nama orang pake nada tinggi," celetuk sang adik membuat kakaknya memutar bola mata jengah.
Segera Rini menghempaskan bokongnya di atas sofa. Dia mengelus dadanya yang sangat bergemuruh. Wanita itu benar-benar sangat kecewa pada pilihan keponakannya. Padahal dia sudah capek-capek membujuk anak temannya agar mau menikah dengan Al-Ghazali.
"Al sudah menikah," ujarnya tiba-tiba membuat Vira terkejut bukan main.
"Apa?! Mbak, jangan bercanda, deh. Aku nggak suka," dengus Vira senang nada kesal.
Dia sangat menyayangi Al-Ghazali dan pastinya juga ingin yang terbaik untuk keponakannya itu.
Mereka semua tinggi ilmu agama, tapi lupa belajar ilmu keprimansuaan.
Benar-benar parah keduanya. Sangat sombong dan merasa paling baik.
"Aku tidak bercanda, barusan aku baru pulang dari rumah Al dan langsung kemari. Dan kamu tahu apa yang paling membuatku marah, Al menikah dengan gadis liar. Cukup sekali lihat saja aku bisa menilai karakter gadis itu, apalagi lisannya sangat tajam. Dia begitu pandai bersilat lidah!" cerita Rini pada sang adik. Tidak ada yang ia tutupi, sejelas mungkimh dia jabarkan pada sang adik.
Pertemuannya dengan Laras memang sangat tidak baik, apalagi karakter Rini yang sangat tidak cocok dengan Laras, membuat wanita itu semakin tidak memgukai Laras.
Mendengar cerita sang kakak membuat Vira mengepalkan tangannya erat. Dia sangat tidak suka dengan gadis liar seperti Laras. Mereka ingin mendapatkan gadis yang sempurna agamanya.
Bukan seperti Laras.
"Terus bagaimana dengan poligami? Apa sudah Mbak anjurkan pada, Al?" tanya Vira pada sang kakak.
"Sudah kubilang tadi kalau Al menolaknya, ah … kamu ini?!" dengus sang kakak mbuat Vira menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Terus gimana dong, Mbak. Aku malu kalau Al menikah sama gadis tak jelas, apa kata orang nantinya? Aku malu, Mbak. Apalagi aku sudah bangga-banggain Al di depan jamaah pengajian, bahkan, aku tolak anak gadis yang ingin bersuamikan Al, karena aku bilang kalau Al sudah punya calon yang paham agama dan lulusan Al Azhar Mesir," jawab Vira dengan.nada kesal bercampur khawatir.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Vira. Sangat banyak anak gadis yang mau menjadikan Al-Ghazali suami mereka. Tetapi, tak satupun diterima oleh Vira, sebab teringat obrolannya dengan sang kakak beberapa tempo lalu, kalau Al-Ghazali sudah punya calon sendiri. Benar-benar sangat menyebalkan, Laras … ah nama gadis itu saja sudah tidak ia sukai.
Rini menghela nafas berat.
"Mbak juga bingung, entah bagaimana caranya membujuk Al buat ceraikan si Kera sakti itu. Tampaknya, Al seperti dipelet oleh gadis itu," tukas Rini pada adiknya.
Vira yang mendengarnya segera memikirkan berbagai cara untuk memisahkan Laras dengan keponakannya. Dia tidak kalau sampai jamaah pengajian tahu tentang hal ini.
"Mbak, udah cari tahu masa lalu, keluarga atau segala sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu?" tanya Vira pada sang kakak membuat wanita itu menatap adiknya bingung.
"Untuk apa aku harus repot-repot cari semua itu?" tanya Rini balik pada adiknya.
"Kita harus mencari tahu semuanya, Mbak, agar kuta punya celah untuk menyingkirkan gadis itu dari kehidupan, Al," tandas Vira dengan nada tegas membuat Rini tersenyum penuh arti.
Dia menjentikkan jarinya, bahagia mendengar perkataan sang adik.
*
*
Suara alarm berbunyi membuat Al-Ghazali segera membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah teduh sang istri yang tidur menyamping ke arahnya. Dia tersenyum lembut lalu mengecup kening istrinya sesat.
Segera Al-Ghazali bangkit duduk lalu meregangkan semua otot-otot tubuhnya yang sempat kaku.
Hari ini adalah sahur pertama Al-Ghazali bersama Laras. Pria itu bangun sahur dengan penuh semangat, menyambut bulan suci Ramadan bersama sang pujaan hati.
"Jam 03:15 WIB, untung nggak telat," gumam Al-Ghazali pelan.
Segera dia bangunkan sang kekasih dengan penuh cinta. Dia tepuk pipi istrinya sedikit keras, tetapi, tak sampai menyakiti Laras.
"Ras, bangun … sahur, Ras. Ayo bangun dan makan sahur, biar bisa puasa dengan tenang besok."
Sang suami membangunkan istrinya dengan suara serak khas bangun tidur. Tadinya Laras tidak ingin bangun, namun saat mendengar kata 'sahur' gadis itu segera bangun.
Dia sudah sangat semangat semalam tak sabar untuk menjalani sahur pertamanya dengan sang suami.
"Eugh … belum imsak, 'kan, Mas?" tanya Laras dengan suara yang serak khas bangun tidur.
Gadis itu bangkit duduk lalu mengucek matanya.
"Belum, ayo cuci muka dan sikat gigi dulu! Setelah itu kita makan sahur," ajak sang suami disetujui oleh Laras.
Keduanya bangkit dari ranjang. Mereka berdua tersenyum manis, hari mereka menghangat. Untuk pertama kalinya mereka sahur bersama pasangan halal mereka.
Setelah selesai menggosok gigi. Mereka melangkah masuk ke area dapur. Al-Ghazali mengeluarkan rendang daging ayam yang telah dimasaknya kemarin siang. Segera pria itu panaskan.
Saat membuka penanak nasi, mata Al-Ghazali terbelalak. Ternyata nasi putih tersisa satu porsi, tak mungkin dia memasak lagi, karena waktu hanya tersisa empat puluh lima menit lagi.
"Astaghfirullah ya Allah, aku lupa masak nasi semalam, Ras."
Al-Ghazali menepuk jidatnya membuat Laras serta mendekati sang suami. Dia melihat ke arah penanak nasi. Kemudian tersenyum manis.
"Ya sudah kalau begitu kamu saja yang makan nasinya, Mas. Aku makan buah saja teh manis saja," ujar Laras santai membaut Al-Ghazali menggelengkan kepalanya cepat.
"Kita makan berdua saja biar sama-sama makan nasi, setelah itu kita makan buah dan teh manis, biar kenyang. Besok puasa pertama, kita orang Indonesia terbiasa makan nasi, sahur pertama tanpa nasi, besoknya dijamin bakal teler kita berdua," canda Al-Ghazali membuat Laras terkekeh geli.
"Ya sudah kalau begitu, aku manut saja sama, Mas," balas Laras manja membuat Al-Ghazali tersenyum tipis lalu serta membelai puncak kepala istrinya.
"Ahh … makin cinta deh kalau kamu penurut, Ras," ungkap Al-Ghazali lagi dan lagi membuat Laras tersipu malu.
*
*
Sahurr sahurrr 🤣🤣🤣🙏
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️