Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Jangan Tinggalkan Aku, Mas


Setelah selesai menyantap nasi sepiring berdua. Kedua pasangan suami istri itu memutuskan untuk mandi bersama, karena Al-Ghazali mengajak istrinya untuk sholat subuh jamaah di mesjid, sekalian pulang dari sana mereka berdua jalan pagi bersama.


Tentu saja ajakan sang suami di terima oleh Laras dengan kebun semangat. Dia sangat senang menghabiskan waktu bersama dengan Al-Ghazali.


Saat berada di dalam kamar mandi. Laras langsung memeluk suaminya erat membuat tubuh Al-Ghazali menegang. Pria itu geregetan saat tangan istrinya menjalar ke mana-mana.


"Mas, masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum imsak, kita mainnya gerak cepat aja," goda Laras membuat pria itu dengan senang hati menuruti keinginan istrinya.


"Baiklah, jika kamu memaksa aku bisa apa," balas Al-Ghazali membuat Laras tertawa cekikikan.


*


*


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Laras menginjakkan kakinya di lantai mesjid. Ada perasaan sedih menyerang hatinya, rasa sedih itu tidak menyiksanya, melainkan membuat Laras seperti anak kecil yang telah pergi jauh lalu pulang kembali ke rumahnya.


Laras telah lama berkecimpung di dunia malam sampai tidak tahu bagaimana nikmatnya bersujud di lantai masjid, namun, sekarang … Laras berjanji untuk memenuhi keinginan hatinya yang ingin bertaqwa kepada Allah.


Dia akan membuktikan pada masa lalunya, kalau masa depannya akan cerah bersama Allah dan Al-Ghazali.


Dia pasti bisa bangkit dari masa lalunya yang kelam itu. Laras akan menggoreskan tinta warna warni di atas.keetas masa depannya.


Takkan dia biarkan masa lalunya menghantuinya lagi.


"Sekarang aku sudah bebas, hidupku milikku, bukan milik siapa-siapa, akan ku serahkan hidupku pada-Mu ya, Rabb. Tidak akan ku biarkan diri ini jauh darimu," gumam Laras pelan seraya menengadah tangan. Dia bermohon pada sang pencipta, berharap sang Maha Pendengar bersedia untuk mendengar doa manusia pemdosa sepertinya.


Setelah selesai sholat, Laras segera keluar. Ternyata sang suami sudah menunggunya di luar, hujan rintik-rintik takembuat pasangan pengantin baru itu urung ke masjid. Al-Ghazali membawa payung, mereka berdua tetap berjalan kaki menuju masjid yang jaraknya hanya delapan menit bila berjalan kaki dari rumah mereka.


Laras tersenyum cerah, rasanya sang suami sangatlah romantis. Banyak Padang mata memandang iri ke arah mereka berdua.


"Aaaaa … aku pengen nikah."


"Lihatlah mereka sangat romantis."


"Wisata masa depan."


"Suamiku tidak seromantis itu."


"Cih, awas kalau aku punya suami, akan ku buat semua orang iri pada keharmonisan rumah tangga kami."


Banyak sekali anak muda-mudi yang iri melihat Laras dan Al-Ghazali. Mereka berdua tak peduli, Laras segera berlari kecil lalu memeluk lengan sang suami dengan manja.


"Kamu basah?" tanya Al-Ghazali perhatian.


"Nggak, Mas. Ayo pulang," ajak Laras manja.


Al-Ghazali tersenyum kecil. Merdka berdua berjalan di bawah hujan rintik berteman payung yang setia melindungi kerdka dari rintikan air hujan.


"Rasanya damai banget kalau sholat di mesjid ya, Mas. Vibes nya beda dengan sholat di rumah," ujar Laras pada sang suami.


"Benar, Vibes nya beda. Karena masjid itu rumah Allah. Pahala sholat berjamaah dengan sholat sendirian itu berbeda. Lebih banyak sholat jamaah dan saat kita masuk ke dalam pelataran masjid dengan niat mutlak mau ibadah, sudah ada pahala sebanyak 25, jarak pahala dari satu kedua itu 500 tahun, begitu seterusnya. Itulah yang membuat vibes nya berbeda saat kita sholat di rumah," jelas Al-Ghazali membuat Laras tersenyum cerah.


Dia sangat senang bersuamikan Al-Ghazali. Pria itu sangat paham dan taat pada agama. Apalagi setiap menjelaskan segala sesuatu Al-Ghazali menggunakan kata yang lembut, sehingga tidak terkesan menggurui atau menyinggung Laras.


Pokoknya, sang gadis merasa sangat tenang dan nyaman bersama dengan Al-Ghazali.


"Wah, begitu ternyata. Besok-besok aku mau ke mesjid lagi, Mas. Oh iya nanti malam aku ikut sholat tarawih lagi ya, Mas," pinta Laras manja pada sang suami.


"Iya, Ras. Nanti malam kita ke masjid lagi."


"Terus abis ini apa kegiatan kita, Mas?" tanya Laras lagi.


"Kita tidur aja, Ras. Nanti jam sebelas bangun buat sholat Dhuha empat rakaat, sekalian tadarus Al-Qur'an, berhubung ini bukan suci Ramadhan, pahalanya unlimited, kita harus banyak-banyak ibadah, biar tidak sia-sia bulan penuh berkah ini," jelas sang suami membuat Laras menganggukkan kepalanya semangat.


Dia akan paruh pada perintah sang suami selama itu kebaikan. Dia malah senang, karena.ounya Al-Ghazali yang menjadi teman setianya di jalan Allah.


"Baik, Mas. Tapi, aku udah lama nggak baca Al-Qur'an, pastinya nanti sedikit kaku dan belibet, kamu yang sabar, ya," ujar Laras jujur mbuat Al-Ghazali tersenyum tipis.


Inilah yang Al-Ghazali suka dari Laras. Tidak pernah pura-pura bisa atau hebat, dia jujur dengan perasaan dan keadaannya.


"Jangan takut, Ras. Aku akan mengajari mu semampuku. Nanti kita sambung ayat," balas Al-Ghazali lembut membuat Laras ceria.


Keduanya mengobrol dengan penuh semangat. Tidak dapat dipungkiri kalau rasa cinta dalam hati keduanya semakin besar.


Al-Ghazali memang gelisah dan resah, dia sangat takut istrinya sedih bila dia meninggal nanti. Tetapi, bila boleh berharap pada Allah, Al-Ghazali ingin umur panjang.


"Ya Rabb, sungguh, hamba tidak pernah membenci kematian atau menolak meninggalkan dunia ini. Tetapi, ya Rabb …izinkan hamba untuk membahagiakan istri hamba sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Jadikan, istri hamba bidadari akhirat hamba ya, Rabb. Hamba mencintainya …sangat mencintainya," batin Al-Ghazali berdoa pada Allah.


Pria itu menarik Laras mendekat ke arahnya. Tidak rela ia biarkan bagi gadis itu basah terkena rintikan hujan.


"Mas, kamu basah, payung nya ke sana lagi," tolak Laras ketika Al-Ghazali memilih memayungi dirinya nyaris sempurna.


"Nanti kamu basah, Ras."


"Nggak masalah aku yang basah, asalkan kamu baik-baik saja, Mas. Aku terbiasa berteman dengan badai, hujan rintik-rintik ini tidak akan membuatku sakit," balas Laras penuh makna membuat Al-Ghazali tersenyum tipis.


"Kamu memba tidak sakit, tapi aku yang sakit melihat kamu kehujanan. Aku suamimu dan tidak akan kubiarkan kamu menghalau badai sendirian lagi, ada aku yang akan menemanimu," ujar Al-Ghazali membuat hati Laras menghangat.


Gadis cantik itu tersenyum malu. Tiba-tiba hujan deras membasahi bumi membuat keduanya terkejut.


"Wah, hujannya semakin deras, Mas," teriak Laras dengan suara keras agar sang suami mendengarnya.


"Iya, Ras. Kamu peluk aku biar nggak basah," pinta Al-Ghazali membuat Laras segera memeluk pinggang suaminya. Al-Ghazali memeluk bahu istrinya.


Keduanya melangkah cepat di tabawh hujan deras. Mereka berdua tersenyum manis, sesekali saling beradu pandang dengan sorot mata penuh makna.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Mas," pinta Laras membuat Al-Ghazali tersenyum getir.


"Minta sama Allah agar aku bisa terus sama kamu," balas Al-Ghazali penuh makna.


*


*


Ada yang udah bangun sahurr??


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️