Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Ketegasan Al-Ghazali Membela Laras


Rini dan Vira mengepalkan tangan. Rahang keduanya mengeras, sangat marah pada Laras. Berani-beraninya gadis kecil di hadapannya ini berbicara yang tidak-tidak pada mereka.


Laras juga menghargai Vira seolah-olah wanita itu tidak paham ilmu agama. Walau memang benar adanya, namun wanita itu tidak mau introspeksi.


Bagi Vira dan Rina, orang yang berilmu agama adalah orang hebat. Mereka lupa kalau di atas ilmu ada adab.


"Kamu?! Berani-beraninya mengajari saya. Siapa ku, huh?! Sudah merasa hebat, mentang-mentang jadi istri, Al!! Ingat kamu, ya … kamu cuma jadi istri sementara Al. Karena Al akan segera menceraikan mu!" bentak Vira dengan nada kesal. Suaranya meninggi membuat Laras tak gentar.


Gadis itu sudah terbiasa hidup dalam kawasan orang-orang jahat. Dia sudah tidak takut lagi pada suara keras atau orang jahat. Sebab, dirinya telah menghadapi banyak jenis manusia jahat selama hidupnya.


Vira dan Rini hanya kerikil saja di mata Laras.


Mendengar ucapan Vira yang semakin lantang dan jajat membuat Al-Ghazali segera berdiri. Dia membawa Laras ke belakang tubuhnya, seolah melindungi istrinya. Dia tidak mau kalau Laras terus-terusan dihina. Tadi dia diam saja, berharap ucapan Laras mampu menyadarkan kedua tantenya.


Nyatanya mereka berdua bukan sadar. Malah semakin semena-mena. Keduanya benar-benar menyebalkan.


"Tante Vira, cukup?! Jangan pernah berkata seperti itu,aku tidak akan pernah menceraikan Laras. Dia satu-satunya istriku di dunia maupun di akhirat. Aku cinta padanya, dia harus yang baik, tahu betul bagaimana caranya memanusiakan orang lain!"


Vero berbicara dengan nada lantang. Dia tidak mau kalah kedua orang di hadapannya salah kaprah. Mereka berdua harus tahu kalau Al-Ghazali sampai kapanpun tidak akan menceraikan Laras. Kalaupun bercerai, maka akan cerai mati. Sebab umur Al-Ghazali tidak panjang lagi.


Vira terhenyak, dia terkejut melihat Al-Ghazali marah untuk pertama kalinya. Tampak wajah keponakannya itu memerah, rahangnya mengeras dan sorot matanya sangat mengintimidasi.


Dia semakin marah dan benci pada Laras, gara-gara gadis liar itu sang keponakan berani membentaknya. Padahal seumur hidup Al-Ghazali selalu bersikap baik padanya.


"Tega kamu bentak Tante, Al. Hanya untuk membela gadis liar itu!" desis Vira tak percaya.


"Gadis liar yang Tante maksud adalah Istriku. Sudah menjadi kewajiban ku untuk melindungi Istriku. Bukannya Tante tahu kalau suami diibaratkan matahari, dia akan menyengat segala sesuatu yang pantas disengat!"


Al-Ghazali berbicara dengan raut wajah datar. Dia harus bisa tegas dalam keadaannya yang sekarang.


Bila tidak, bisa-bisa istrinya menjadi bahan lelucon kedua tantenya.


Kata-kata Al-Ghazali sangat menohok membuat Rini dan Vira sakit hati.


*


*


"Tega kamu, Al." Vira sekuat tenaga menahan tangisnya. Al-Ghazali ikut sedih dan menyesal telah jahat pada tantenya. Tetapi, keadaan yang mendesaknya untuk tegas pada kedua tantenya agar tidak menghina kedudukan Laras lagi.


Al-Ghazali segera berlutut di hadapan Vira. Dia menggenggam tangan tantenya, sontak hal itu membuat Laras terkejut. Dia tidak menyangka kalau sang suami mau berlutut di hadapan kedua Tante sombong itu.


"Maaf, Tan. Al, mohon … tolong Restui pernikahan kami. Al cinta sama Laras, kami berdua saling mencintai. Al tahu kalau Tante Vira dan Tante Rini ingin yang terbaik untuk, Al. Tapi, pernikahan itu seumur hidup, harus dijalani dengan orang yang benar-benar cocok dan sesuai pilihan hati. Selama ini Tante Rini dan Tante Vira yang mengambil keputusan dalam segala hal yang menyangkut kehidupan Al. Sekali ini saja, Tan … tolong biarkan Al memilih teman hidup Al!"


Al-Ghazali berbicara dari hati ke hati dengan kedua tantenya. Dia sadar kalau dengan kekerasan tidak mungkin menggoyahkan hati kedua tantenya. Al-Ghazali memilih untuk memakai cara lembut, yaitu berbicara dari hati ke hati.


Ucapan Al-Ghazali menggetarkan hati Rina dan Vira. Mereka berdua sadar kalau selama ini terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan Al-Ghazali.


Keduanya terdiam cukup lama. Al-Ghazali masih dalam posisi yang sama. Dia menggenggam tangan Vira dengan kuat, berharap wanita di hadapannya mau memberikan restu untuk pernikahan nya dengan Laras.


"Tan, please!" Al-Ghazali bermohon sekali lagi membuat dada Vira sesak.


"Bangun, Al!" titahnya datar tak membuat Al-Ghazali bangkit.


"Nggak, kalau Tante belum mengabulkan permintaan Al."


*


*


Kalau author up 10 bab hari ini mau nggak? 🤭🤭 Yuk komentar di bawah yang banyak. Biar author semangat up.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰