Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Kepanikan Laras


Laras bersiap-siap untuk jalan-jalan bersama sang suami. Mereka berniat untuk mencari takjil untuk bukaan mereka. Laras memandangi dirinya di depan cermin, sungguh penampilannya sekarang sangat adem dilihat. Dulu Laras mengira memakai pakaian syar'i akan terasa panas. Nyatanya tidak, malah kulitnya semakin glowing, karena tidak terpapar sinar matahari secara langsung.


Dia memakai gamis berwarna mocca dengan jilbab panjang menutupi dada senada dengan warna gamisnya.


Al-Ghazali memeluk sang gadis dari belakang. Dia mengecup pipi Laras dengan lembut membuat hati Laras lagi dan lagi bergetar seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta. Dia mengelus lengan sang suami yang berada di perutnya.


"Kamu cantik sekali, Ras. Beruntungnya aku memiliki kamu," bisik sang suami pelan.


Laras mengelus puncak kepala suaminya. Al-Ghazali mengecup pundak sang istri yang berlapiskan kain.


"Aku yang lebih beruntung, karena dapat suami sebaik kamu, Mas. Kecantikan ku ini kelak akan memudar, kulit mulus ku ini kelak akan keriput, wajah glowing ku akan menghilang, digantikan dengan wajah tuaku. Tapi, kebaikan mu? Tidak akan mudah seperti kecantikan ku. Itulah sebabnya aku cinta sama kamu."


Laras berkata bijak layaknya seorang penyair yang sedang menenangkan hati sang pujangga.


Al-Ghazali tersenyum tipis. Dia merasa senang punya istri yang memiliki pikiran luas seperti Laras. Tak sadar dirinya lah yang membuat pikiran istrinya semakin luas.


"Ayo, kita cari takjil. Ngomong-ngomong takjil kesukaan kamu apa, Ras?" tanya sang suami seraya berjalan berdampingan dengan Laras.


"Aku pengikat kue basah dan manis-manis, Mas. Tidak terlalu suka gorengan, palingan cuma risol dan tempe goreng, itupun tidak banyak ku makan," balas Laras membuat Al-Ghazali manggut-manggut.


"Kalau kamu, Mas?" tanya Laras balik.


"Aku malah lebih suka gorengan daripada kue yang manis-manis. Rasanya nggak pas kalau buka puasa tanpa ada gorengan di piring ku," jawab Al-Ghazali membuat Laras terkekeh geli.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Al-Ghazali memasangkan istrinya sabuk pengaman. Setelahnya dia menancapkan gas, sekuriti segera membuka gerbang.


Al-Ghazali membunyikan klaksonnya untuk menyapa penjaga rumahnya itu.


"Pergi dulu, Pak."


"Enggeh, Bang. Hati-hati."


Al-Ghazali tersenyum tipis, dia menutup jendela mobilnya kembali. Lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Waw … indahnya," gumam Laras terpana melihat banyak sekali penjual takjil. Lama sekali dirinya berdiam diri di penjara dosa milik keluarga angkatnya, sampai-sampai dirinya tidak punya waktu untuk melihat indahnya suasana bulan puasa.


"Kita cari penjual takjil yang sepi dulu," ujar Al-Ghazali pelan membuat sang istri langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa harus di tempat sepi, Mas?" tanya Laras polos.


"Boleh jadi mereka berdagang untuk menyambung hidup, ada anak yang susunya habis dan harus di beli, ada juga keluarga yang tidak tahu apakah bisa makan saat sahur dan makan bila berbuka. Jadi, alangkah baiknya kita membeli di tempat mereka, Ras."


Sang suami menasehari istrinya dengan lembut. Hati Laras tersentuh mendengarnya, tidak menyangka kalau sang suami punya pemikiran luas seperti itu.


"Ya Allah … entah bagaimana proses penciptaan suamiku ini, bagaimana bisa harinya begitu mulia," batin Laras takjub dengan kebaikan sang suami.


Matanya berkaca-kaca menatap Al-Ghazali. Dia teringat tentang suatu hal yang terus menghantui pikirannya.


Tadi selepas makan sahur, Al-Ghazali keluar dari kamar. Laras mengikutinya dari belakr, dia melihat Al-Ghazali meneguk beberapa butir obat.


Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa suaminya minum obat. Tanda tanya.besar dalam benak Laras, apakah Al-Ghazali sakit? Teringat rambut pria itu rontok. Pikiran buruk segera menghantui pikirannya.


"Apa jangan-jangan, Mas Al. Punya penyakit mematikan." Laras berusaha menerka dalam hatinya.


Mobil berhenti di pinggir membuat Laras tersadar dari lamunannya. Segera sang gadis menoleh ke kanan, ternyata terdapat ibu-ibu sedang berjualan, namun, dagangannya sepi.


"Ayo turun," ajak sang suami disetujui oleh Laras. Segera sang istri turun dari mobil mengikuti jejak suaminya.


"Selamat datang, Mas, Mbak. Mau beli apa?" tanya sang ibu ramah dengan wajah cerah, sepertinya dia telah lama menunggu pelanggan datang. Tersenyum manis Laras melihatnya.


Terdapat banyak kue manis dan gorengan di atas meja Dagang ibunya. Mata Laras berbinar terang saat melihat onde-onde, klepon, nagasari dan kue manis lainnya.


"Ini kantong plastik dan jepitannya," ujar sang ibu seraya menyerahkan dua benda itu pada Laras.


"Terima kasih, Bu."


Laras menerima nya, dia segera memilih kue manis yang dia sukai, masing-masing di antaranya dua.


"Boleh minta kantong satu lagi, Bu," pinta Laras.


"Boleh, Mbak." Segera sang ibu menyerahkan kantong satu lagi untuk Laras. Hatinya teramat senang dagangannya laku.


"Mas, mau yang mana? Risol semua atau gorengannya di campur dengan risol, bakwan dan tempe?" tanya sang istri pada suami tercintanya.


"Campur saja, Sayang. Tapi, banyakin risol nya."


Laras segera memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik. Setelah membayar, mereka berdua berjalan kaki menuju pria tua yang menjual es kelapa.


"Es kelapanya berapa sebungkus, Pak?" tanya Al-Ghazali sopan.


"Tujuh ribu, Mas," jawab sang bapak tak kalah ramah.


"Gimana, Ras? Kamu mau es kelapa atau es tebu?" tanya Al-Ghazali pada istri tercintanya.


"Aku es kelapa aja, Mas."


"Berarti es kelapanya dua, Pak."


Segera pria tua itu menyiapkan pesanan Al-Ghazali. Wajahnya sumringah, memang benar apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali. Sangat banyak pedagang kaki lima yang berdagang demi menyambung hidup mereka, bukan untuk kaya.


"Ini, Pak. Kembaliannya ambil buat bapak aja," ujar Al-Ghazali sopan membuat pria tua itu terharu.


"Terima kasih banyak, Mas. Semoga Allah membalas kebaikan, Mas dan Mbak." Pedangan kaki lima itu berdoa dengan ikhlas membuat hati Laras dan Al-Ghazali hangat mendengarnya.


Jangan pernah remehkan kekuatan doa yang ikhlas. Efeknya benar-benar hebat, seperti anak panah yang melesat tepat sasaran.


"Aamiin Allahumma aamin, doa yang baik akan balik lagi pada orang yang mendoakan," balas Al-Ghazali ramah.


Setelah itu keduanya beranjak pergi dari sana. Mereka kembali masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau makan rendang daging sapi di rumah atau mau beli lauk lagi, Ras?" tanya sang suami pada istri tersayang nya.


"Nggak usah, Mas. Kita makan rendang saja, biar nggak mubazir, lain kali kita beli ayam geprek buat bukaan," balas Laras santai diangguki oleh Al-Ghazali.


Mereka berdua segera pulang ke rumah. Tiba-tiba kepala Al-Ghazali terasa sangat sakit, pria itu meringis kesakitan.


"Akkk …" Al-Ghazali segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Laras gemetar mengkhawatirkan suaminya yang tiba-tiba meringis kesakitan.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Laras panik saat melihat wajah Al-Ghazali pucat pasi.


*


*


Yuk komentar yang banyak, biar author semangat crazy up hari ini 🥰💪💪


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️