
Puasa pertama terasa berat bagi Laras. Gadis itu pucat pasi dan teler seperti orang mabuk, Al-Ghazali antara sayang dan lucu pada sang istri, karena Laras terlihat seperti anak kecil yang pertama kali puasa.
Berulang kali Laras memasuki area dapur. Dia membuka kulkas berkali-kali, guna mendapatkan pemandangan sedap dari salak kulkas.
"Ahhh … segarnya," gumam Laras saat berdiri di depan kulkas.
Suara iblis terus menggodanya untuk berbuka puasa, meski belum saatnya. Sang gadis berusaha keras untuk melawan iblis itu.
"Bukalah, Laras … lihatlah semangka itu rasanya sangat segar dan nikmat. Lihatlah, buah apel sedang melambai-lambai ke arahmu. Jangan kamu abaikan mereka semua … selama gratis, hajar terus."
"Makanlah, Laras."
"Ayo-ayo makan …"
Godaan itu terdengar sangat menyenangkan. Mampu menggoyangkan iman sang gadis. Perlahan dan pasti tangannya terulur untuk mengambil buah semangka. Ah … saat berpuasa memang buah paling menggoda adalah buah semangka dan kelapa muda.
Terasa segar di pandang dan dingin di kerongkongan. Sedikit lagi tangan Laras berhasil menyentuh buah semangka, dia tersenyum manis dengan sorot mata berbinar.
"Berhasil, ayo keluarkan dan potong dagingnya, buat jus semangka. Ahhh … segarnya," gumam Laras senang.
Segera dia memeluk buah semangka dan menutup pintu kulkas dengan kakinya. Saat berbalik badan, jantung Laras seperti ingin copot rasanya, ketika berhadapan dengan Al-Ghazali yang menatapnya sedari tadi. Sorot mata pria itu sangatlah tajam, membuat bulu kuduk Laras merinding dan setan yang mendampingi Laras tadi, entah pergi ke mana.
"Mampus kau, Laras," makinya dalam hati.
"Masih jam tiga sore, butuh tiga jam lagi untuk berbuka puasa. Buat apa semangka itu hemm?" tanya Al-Ghazali dengan nada lembut, tapi, terdengar seperti seruling kematian bagi hasrat Laras yang sedari tadi menggoda sang gadis untuk segera berbuka puasa.
Laras langsung memasang senyum tanpa dosa. Dia berharap sang suami tidak memarahinya, jujur saja selama hidup puasa Laras tidak pernah penuh. Selain libur puasa, karena datang bulan, beberapa kali Laras terpaksa buka puasa lebih cepat untuk memenuhi hasratnya.
Tetapi, setelah itu , Laras membayarnya. Maklum saja imannya belum sempurna, dia tinggal di zona hitam tempat para pendosa ulung berada. Seperti keluarga angkat Laras yang sangat-sangat kejam padanya. Mereka saja tidak berpuasa.
"He he … aku … i … ingin membuat jus semangka untuk kita berdua, Mas. Iya benar, jus semangka," ujar Laras berusaha mengelak.
Al-Ghazali sekuat tenaga menahan senyumnya agar tak lepas. Pria itu tidak habis pikir bagaimana bisa dia jatuh cinta pada gadis lugu dan lucu seperti Laras. Dia tampak menggemaskan saat berusaha untuk mengelak.
"Masih terlalu cepat untuk membuat jus. Nanti saja jam lima sore biar aku buat, sekarang letakkan kembali semangka itu di dalam kulkas, lalu ikut aku!" titah Al-Ghazali dengan nada pemimpin membuat Laras mau tak mau harus menuruti kemauan suaminya. Dia tidak ingin membantah, sebab takut sang suami marah.
Laras merutuki kebodohannya dalam hati. Bisa-bisa nya dia tergoda oleh setan untuk berbuka puasa. Untung saja Al-Ghazali datang tepat waktu, bila tidak, bisa dipastikan puasa pertama Laras akan batal.
"Dasar goblok Bin tolol. Sudah jelas-jelas belum saatnya buka puasa, tapi ngeyel mau buka. Nah, ginikan jadinya. Untung ada Mas Al yang halangin niatku, kalau tidak … bisa dosa dan ngutang puasa aku. Dasar Laras sontoloyo."
Sang gadis menggerutu dalam hati. Dia menyesali perbuatannya, namun, mau bagaimana lagi, iman nya belum sekuat karang di laut. Dia hanya mantan pendosa yang sedang berusaha bertaubat, hijrah dan ingin Istiqomah di jalan-Nya.
"Kok malah diam, ayo balikin semangkanya ke dalam kulkas," ujar Al-Ghazali mengulangi ucapannya lagi membuat Laras segera berbalik dan meletakkan semangka pada tempatnya.
"Bye-bye semangka, kamu memang enak dan menggoda imanku, tapi, cintaku pada suamiku sangatlah besar, aku patuh padanya dan ingin mendapatkan ridho-Nya juga," batin Laras pada buah semangka.
Setelah selesai dia melambaikan tangannya ke arah buah semangka, lalu perlahan menutup pintu kulkas. Dia memasang senyuman manisnya menatap Al-Ghazali.
"Sudah," lapor sang gadis pada pria tercintanya.
"Ikut aku," ajak Al-Ghazali berbalik diikuti oleh Laras di belakangnya.
Pria itu membawa sang istri ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, meski sempat bingung, terapi Laras mengikuti perintah suaminya. Toh, sebentar lagi waktunya ashar setelah itu magrib. Asikk … Laras bersorak gembira dalam hati, bila menunggu magrib memang tidak lama. Karena dihitung dari sholat Ashar ke sholat magrib.
Sang gadis menggigit bibir keringnya. Dia mengangguk kepalanya cepat, paruh pada perintah sang suami.
"Niatnya gimana, Mas?" tanya Laras polos membuat Al-Ghazali tersenyum.
"Saya niat sholat Sunnah wudhu dua rakaat, karena Allah ta'ala."
Laras mengulangi ucapan sang suami.
"Saya niat sholat Sunnah wudhu dua rakaat, karena Allah ta'ala."
Al-Ghazali tersenyum cerah. Dia mengusap puncak kepala sang istri, bangga pada Laras yang sangat pandai, otaknya cerdas, hanya butuh di asah saja.
"Pintarnya istriku. Nah, sekarang kita sholat sendiri-sendiri saja ya, sebentar lagi baru kita sholat ashar berjamaah," ujar sang suami membuat Laras menganggukkan kepalanya mengerti.
Mereka berdua segera membentang sajadah, Laras memakai mukena nya lalu bertanya pada sang suami.
"Apa rambutku kelihatan, Mas?" tanya sang istri pada suami tercintanya.
Al-Ghazali menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis.
"Tidak, Ras. Sempurna … kamu tampak cantik dengan mukena atau kerudung. Benar-benar membuat ku pangling, ternyata bidadari dunia itu benar adanya, seperti kamu ini contohnya," goda sang suami membuat pipi Laras merona.
Sang gadis memegang kedua pipinya yang terasa panas. Dia menatap ke arah sang suami dengan mata bulatnya membuat Al-Ghazali geregetan. Ingin sekali dia mencium bibir istrinya. Tetapi, kewarasannya terus memperingati Al-Ghazali kalau mereka sedang berpuasa.
"Aaaa, Mas. Jangan goda aku lagi, nanti aku cium baru tahu rasa," ancam Laras dengan nada yang dibuat menggemaskan.
Al-Ghazali tergelak. Dia mengusap puncak kepala sang istri yang tertutup oleh mukena. Sentuhan Al-Ghazali mampu membuat hati Laras menghangat.
"Yasudah ayo kita laksanakan sholat, jangan lupa berdoa sama Allah di sujud terakhir agar dikuatkan imannya, biar nggak kegoda sama buah semangka," sindir Al-Ghazali dengan halus membuat wajah Laras memanas.
"Ya Allah, malunya diri ini. Untung belum batal puasaku, nggak lucu banget iman ku goyah gara-gara buah semangka," batin Laras menjerit.
Mereka berdua segera melaksanakan sholat Sunnah wudhu dengan khusyuk. Di sujud terakhir, Laras benar-benar berdoa pada Allah.
"Ya Allah kuatkan diri aku ya Allah, jangan sampai batal puasaku gara-gara buah semangka dan tolong panjangkan umur suamiku ya, Allah. Hamba takut kalau suami hamba pergi lebih dulu, karena biasanya orang baik itu cepat Engkau panggil. Aamiin Allahumma aamin."
Laras berharap doanya menembus langit. Dia hanya manusia biasa, bukan petarung hebat yang lihai memainkan pedangnya. Biarlah doanya yang bertarung dengan takdir di atas langit.
*
*
Mau up lagi? Komentar di bawah yang banyak yah ❤️❤️🥰🌹
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh