
"Iya, aku pernah botak, Ras."
Al-Ghazali menjawab jujur dengan senyuman manis terpasang di wajahnya. Laras manggut-manggut, dia tidak banyak bertanya lagi.
"Maaf yah, aku belum beli baju kamu! Nanti setelah kamu istirahat, aku bakal ajak kamu belanja. Tapi, baju yang harus kamu beli tetap gamis dan beberapa baju rumahan!"
Al-Ghazali menegaskan di ujung kalimat. Kalau tidak tidak mau Laras kembali memakai baju orang miskin (kurang bahan).
Laras menganggukkan kepalanya cepat. Dia patuh pada suaminya.
"Boleh, aku terserah sama kamu aja, Mas. Tapi, nanti gamisnya yang kayak gini yah. Bahannya adem!" pinta Laras seraya memegang kain bajunya.
Al-Ghazali menganggukkan kepalanya. Dia berjalan ke ruang ganti, dan mengambil kaosnya yang besar. Kemudian, dia berikan untuk Laras.
"Sekarang pake ini aja ya! Nanti sore baru beli baju baru," seru Al-Ghazali membuat Laras tersenyum manis. Gadis cantik itu menerimanya.
Dia segera membuka pakaian nya di depan sang suami tanpa rasa malu. Kenapa harus malu? Toh, Al-Ghazali suaminya.
Al Ghazali yang melihatnya menelan ludah kasar. Pria itu segera membuang wajah ke arah lain. Tidak ingin melihat pemandangan indah di hadapannya.
"Dia halal bagimu, Al. Ayo terkam … jangan malu-malu," batin Al-Ghazali membuat pria itu sadar kalau Laras sudah sah menjadi istrinya.
Sang pemuda yang baru semalam merasakan nikmatnya masuk ke dalam goa, segera memeluk Laras dari belakang. Dia meletakkan dagunya di pundak polos Laras.
"Kamu beneran capek ya?" tanya Al-Ghazali dengan suara parau.
Laras yang mendengarnya menelan ludahnya kasar.
"Iya capek …" Laras menjawab dengan suara pelan.
Al-Ghazali yang mendengarnya juga tak banyak negosiasi. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya. Benar sekali kalau dalam Islam, istri wajib melayani suami kapanpun suami mau.
Tetapi, suami juga wajib membahagiakan istri. Termasuk memberi waktu istirahat yang cukup. Sebab, pernikahan bukan hanya tentang hubungan badan.
"Ya sudah, kalau begitu tidur saja!" Al-Ghazali menjauhkan tubuhnya dari Laras. Pria itu hendak beranjak dari sana. Namun, Laras memeluknya dari belakang.
"Tapi, aku mau kamu, Mas," bisik Laras di telinga pria itu.
"Istirahat nya sekalian saja setelah kita ekhm ekhm," tambah gadis itu membuat pipi Al-Ghazali merah merona.
Dia menggigit bibirnya saat Laras mengusap perut kotak-kotak nya.
"Ibadah lagi yuk," ajak Laras pelan membuat Al-Ghazali lepas kendali.
Laras tersenyum dalam hati. Suaminya sangat lembut, berbeda dengan pria yang menidurinya dulu.
Kasar dan tidak berperasaan.
"Sakit?" tanya Al-Ghazali di sela-sela permainan.
"Tidak, Mas."
Sepuluh menit kemudian.
"Sakit?"
"Tidak, Mas."
Dua puluh menit kemudian.
"Sakit?"
"Tidak, Mas."
Tiga puluh menit kemudian.
"Sakit?"
"Ya ampun, Mas. Sekali lagi kamu tanya aku sakit … aku cium bibir kamu yah!" sentak Laras dengan suara terbata-bata membuat Al-Ghazali tersenyum tipis.
"Sakit?" tanya Al-Ghazali sengaja.
"Dasar nakal." Laras langsung mencium bibir suaminya.
Percayalah, kalau mereka berdua sudah saling mencintai. Laras adalah cinta pertama dan terakhir Al-Ghazali. Begitu pun dengan Laras, meskipun Al bukan pria pertama yang menggaulinya. Tetapi, Al-Ghazali tetap akan menjadi yang terakhir.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️