
Al-Ghazali menghapus kasar jejak air mata yang mengalir di pipinya. Pria itu tersenyum lembut, meski matanya masih berair. Dia ikut menghapus air mata istrinya. Pria itu tersenyum manis, guna menutupi kepedihan hatinya.
"Udah, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya hilang," ujar Al-Ghazali menggoda istrinya tak membuat Laras tersenyum.
Dia malah meneteskan air matanya lagi. Gadis itu menyatukan keningnya dengan kening sang suami.
"Aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan cantikku," balas Laras serak membuat dada Al-Ghazali bergetar. Pria tampan itu hanya bisa terdiam.
Dia mengecup hidung mancung Laras.
"Sudah mau buka, yuk kita ke ruang makan," ajak Al-Ghazali berusaha mengalihkan pembicaraan. Pria tampan itu tidak ingin istrinya berlarut-larut dalam kesedihan.
Laras tidak melayangkan protesnya. Gadis itu mengikuti suaminya ke dapur. Tak lupa dia membawa takjil juga es kelapa yang sudah dibeli.
Keduanya menata makanan di atas meja makan. Setelah selesai, mereka berdua duduk berhadapan.
Saling beradu pandang satu sama lain dengan sorot mata penuh makna.
Tak lama kemudian suara bedug terdengar menandakan waktunya berbuka puasa. Keduanya segera membaca doa berbuka puasa.
"Bismillah." Keduanya meneguk minuman pertama mereka. Laras tidak makan bangk, karena nafsu makannya hilang semenjak mendengar pengakuan suamimu.
Gadis itu sedang dirasuki pikiran buruk. Dia takut sesuatu yang buruk menimpa suamimu.
"Makan yang banyak biar kamu kuat," suruh Al-Ghazali menaruh risol dalam piring Laras.
Gadis itu menghapus air matanya yang sesekali jatuh.
"Besok kita ke rumah sakit ya, Mas. Kalau perlu kamu kemoterapi biar sembuh!" ujar Laras sungguh-sungguh menatap dalam bola mata suaminya.
Al-Ghazali tersenyum getir.
"Kalau aku kemoterapi nanti aku jelek, rambut aku botak. Nanti kamu tidak akan suka!" jawab Al-Ghazali lembut membuat Laras kembali meneteskan air matanya. Dia menggelengkan kepalanya cepat.
Tidak setuju dengan perkataan suaminya. Dia mencintai Al-Ghazali, karena akhlak pria itu. Bukan, karena ketampanan nya.
"Aku cinta sama kamu, karena agama dan akhlak mu, Mas. Mau kamu jelek atau apa, aku tetap cinta sama kamu!" bantah Laras dengan nada tegas.
Gadis itu tetap kukuh pada keinginan nya. Dia ingin sang suami melakukan kemoterapi.
Laras ingin Al-Ghazali sembuh.
Pria tampan itu mau tidak mau harus mengiyakan keinginan istrinya. Dia mengangguk kepalanya cepat.
Setuju pada keinginan Laras.
"Baiklah, besok kita ke rumah sakit dan aku akan melakukan kemoterapi!" jawab Al-Ghazali mantap demi istrinya membuat Laras tersenyum lebar.
Gadis itu segera menghapus air matanya kasar. Baginya kesehatan Al-Ghazali yang paling utama.
Keduanya segera menyantap makanan bukaan dengan khidmat. Sesekali mereka bercanda, suasana mulai mencair dan hangat.
Adzan Maghrib berkumandang tepat saat piring nasi Laras dan Al-Ghazali bersih dari makanan.
"Aamiin Allahumma Aamiin."
"Ya sudah, yuk. Kita sholat jamaah," ajak Al-Ghazali di angguki oleh Laras.
Keduanya segera mengambil air wudhu. Setelah itu menggelar sajadah dan menjalankan ibadah sholat Magrib.
"Assalamualaikum warahmatullah."
"Assalamualaikum warahmatullah."
Laras segera mencium punggung tangan suaminya. Begitu juga dengan Al-Ghazali mencium kening Laras.
"Sholehah nya istri aku," puji Al-Ghazali membuat Laras tersipu malu.
"Hihi … suamiku juga Sholeha," balas Laras membuat Al-Ghazali membesarkan pupil matanya dan langsung menyentil kening istrinya.
Tak.
"Sholeh, bukan Sholeha," ketus Al-Ghazali membuat Laras tertawa cekikikan.
Dia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. Mukena masih melekat pada tubuhnya, begitu juga dengan Al-Ghazali masih memakai sarung.
"Kita jadikan sholat tarawih, Mas?" tanya Laras manja pada sang suami.
Al-Ghazali terdiam sejenak. Pria itu berpikir keras, dia takut tiba-tiba sakit saat sedang sholat nanti. Staminanya tidak seperti dulu saat sehat.
"Sepertinya tidak jadi, Ras. Aku takut kalau tiba-tiba pingsan nanti di sana," jawab Al-Ghazali membuat Laras mengerti.
"Ya sudah nggak apa-apa, kesehatanmu lebih penting, Mas."
"Tapi, kita bisa sholat ba'diah Isya, Ras. Pahalanya lebih besar daripada sholat tarawih," ujar Al-Ghazali membuat mata Laras berbinar.
"Beneran?" tanya sang istri.
"Bener, cuma dua rakaat, kok." Al-Ghazali si pria alim yang punya ilmu pengetahuan banyak membuat pria itu tahu tingkatan sholat Sunnah. Dah sholat ba'diah Isya lebih tinggi pahalanya daripada sholat tarawih.
Saat sedang asik bermesraan, suara bel rumah berbunyi membuat keduanya terhenyak.
"Siapa yang datang?"
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰