Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Puisi Untuk Al-Ghazali


Al-Ghazali terkejut mendengar pertanyaan Laras. Sungguh, pria itu tidak tahu harus menjawab apa, haruskah dia berkata jujur pada sang istri, ataukah dia tetap mengubur rasa sakit itu di dalam hatinya, hingga tak boleh seorang pun yang mengetahui rasa sakitnya.


Pria itu kebingungan, dia takut kalau penyakitnya membuat sang istri sedih, dia paling tak suka melihat orang lain menangis untukmu. Dia ingin pergi dengan tenang.


"Mas, kok diam? Kenala bida rontok? Bukannya kamu rajin pake hair car ya? Bahkan, banyak sekali vitamin penumbuh rambutmu."


Laras kembali berbicara, gadis cantik itu sangat penasaran mengapa bisa rambut suaminya rontok, padahal sudah di rawat sedemikian rupa.


"Ras, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, tapi, tidak sekarang … nanti saat aku siap!"


Al-Ghazali menjawab dengan suara serak. Dia tersenyum getir, seraya membelai pipi mulus istrinya. Matanya memanas, dia segera menatap langit-langit rumahnya. Guna menahan air matanya agar tak luruh membasahi pipinya. Dia tidak mau Laras bersedih untuknya.


Biarlah nanti saat dia rasa siap, barulah Al-Ghazali menceritakan semuanya pada Laras.


Sang gadis menatap dalam mata suaminya. Hati gadis itu terasa sangat sakit, dia tidak bisa membayangkan apa yang pikirannya katakan. Jiwanya berbisik kalau Al-Ghazali sedang tak baik-baik saja.


Rambut rontok, padahal sudah dirawat. Tanya satu kemungkinan yaitu … sudahlah, Laras tidak mau memikirkan hal itu. Terlalu menyesakkan dadanya, dia baru saja ingin berbahagia dengan sang Suami. Tidak mau membuat kebahagiaan nya pudar dengan memikirkan suatu hal yang membuatnya sedih.


Sang gadis tersenyum manis, dia menggenggam tangan Al-Ghazali yang membelai pipinya. Lalu dia kecup punggung tangan sang suami penuh cinta.


Cinta memang tidak bisa di tebak. Mereka berjumpa baru beberapa Minggu, tetapi, hari mereka telah terpaut menjadi satu.


"Baik, aku akan setia menunggu hari di mana kamu menceritakan semuanya padaku, tanpa kamu tutupi. Aku cinta sama kamu … sangat cinta! Mungkin bagi orang lain akan terdengar lebay, karena kita baru berkenalan selama empat Minggu. Tetapi, sudah menikah dan saling mencintai. Nyatanya cinta kita ini murni, mungkin kamu bukan laki-laki pertama yang hadir di hidupku, bukan yang pertama menyentuhku. Namun, percayalah, Mas. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau kamu laki-laki terakhir yang menyentuhku."


Laras berkata dengan puitis. Dia tidak malu mengungkapkan isi hatinya, mungkin bagi sebagian orang dia sangat berlebihan, sebab mencintai pria yang baru ia kenal. Tetapi, mau bagaimana lagi, yang makanya cinta tidak bisa di paksa, cinta itu akan hadir tanpa di undang.


Pipi Al-Ghazali memanas, dia tersipu malu. Seumur hidup baru Laras gadis pertama yang berani merayunya dengan kata-kata romantis. Sungguh membuat hatinya berbunga-bunga, terasa menggelikan seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di dalam hatinya.


Sang gadis terkekeh kecil saat melihat Al-Ghazali membuang wajah ke arah lain. Dia tahu sang suami tersipu malu, melihat Al-Ghazali salah tingkah dan pipi juga telinga pria itu merona.


"Aaaa … suami ku manis sekali saat malu-malu seperti sekarang. Membuatku gemas saja! Pengen ku gigit rasanya!"


Laras mencubit pipi suaminya, dia sangat gemas melihat sang suami yang malu-malu kucing. Sontak saja Al-Ghazali tertawa. Dia segera merengkuh tubuh sang istri. Meluapkan rasa cintanya.


"Kamu sangat pandai berkata manis, seperti penyair yang sedang merayu sang kekasih dengan bahasa sansekerta," puji sang suami manja membuat Laras terkekeh kecil.


Dia mengecup puncak.kepala suaminya berkali-kali, guna meluapkan rasa kasih sayangnya.


"Aku mencintai sastra, meski aku hanya lulusan SMP, tapi, aku pintar mengarang, membuat puisi romantis! Saat aku memainkan pena ku di atas kertas putih, rasanya sangat menyenangkan. Aku bisa mendeskripsikan perasaan ku melalui tulisan. Tapi, beberapa tahun lalu aku jarang membuat puisi karena terlalu sibuk bekerja."


Laras menceritakan kesukaannya pada Al-Ghazali. Pria ini tu merasa sangat sesak, dia sedih sekali mendengar perkataan sang istri. Betapa beratnya masa lalu Laras.


Tak sebanding dengan penderitaannya. Dia mengira dirinyalah manusia paling menderita. Ternyata tidak, Allah mempertemukan dengan gadis yang penuh luka dan derita.


Seolah Allah ingin mengatakan kalau Al-Ghazali terlalu lemah, lihatlah Laras si gadis cantik yang punya masa lalu kelam, tapi masih bisa bertahan sampai sekarang.


"Kalau begitu, buatkan aku sebuah puisi! Aku ingin mendengar suara indah mu membacakannya untukku," pinta Al-Ghazali pada sang istri tercinta.


Mata Laras berbinar terang. Dia sangat senang mendengar permintaan Al-Ghazali. Dengan senang hati dia akan menuruti permintaan istrinya.


"Kamu ingin mendengarnya?" tanya Laras dengan penuh semangat.


"Tentu saja aku ingin mendengarnya," jawab Al-Ghazali mantap.


"Ekhm … sebenarnya ini puisi sudah ku rangkai saat pertama kali aku jatuh cinta pada kebaikan dan ketulusan mu saat merawatku di rumah sakit. Aku mulai ya."


Laras meminta izin pada sang suami, dengan senang hati Al-Ghazali menganggukkan kepalanya.


Tuan, ketika ku pandang netramu membuat jantung ini berdegup kencang.


Ku lihat makhluk berwujud cinta dalam retinamu terang benderang.


Melambai-lambai ke arah ku seolah memanggilku untuk mendekatinya.


Kucoba untuk abaikan, karena aku gadis penuh derita tak pantas diberi cinta.


Tuan, seperti langit dan aku seperti bumi. Tak layak tempat matahari dan bintang bersatu dengan tanah tempat mayat berada.


Tetapi, cinta yang Tuan tawarkan membuatku tamak. Seperti intan permata yang menggoda mata.


Ah Tuan, kau membuatku seperti pendosa yang mengharapkan surga. Sekali lagi ku tegaskan padamu, Tuan. Apabila aku masuk ke dalam hatimu, jangan paksa aku keluar seperti Azazil yang dipaksa keluar dari surga.


Laras tersenyum malu-malu. Dia menundukkan wajahnya tak berani menatap sang suami. Puisinya telah selesai.


Sontak saja mendengar puisi romantis yang diciptakan sang istri untuk dirinya membuat hati Al-Ghazali berbunga-bunga. Seperti tanah gersang yang kini telah subur dan terdapat beragam tanaman di sana.


"Waw … aku tidak menyangka kamu sangat puitis, Ras. Tapi, aku suka … sangat suka."


Al-Ghazali tersenyum melihat istrinya malu-malu. Dia segera merengkuh tubuh ramping istrinya.


"Terima kasih," lirih Laras pelan membuat Al-Ghazali tertawa kecil. Dia segera merengkuh wanita di hadapannya dengan lembut.


"Lantas, bersediakah Nona ini masuk ke dalam hati saya dan bertahta di sana," tawar Al-Ghazali tak kalah puitis membuat pipi Laras merona.


Sang gadis tersenyum manis. Dia menaikkan pandangan nya, matanya bertemu dengan mata sang suami.


"Saya bersedia, Tuan. Tetapi, pastikan kunci hati Anda agar tidak ada celah untuk nona lain masuk ke dalam sana," balas Laras seraya tersenyum manis membuat Al-Ghazali tergelak.


Segera dia mengecup bibir istrinya singkat.


"Akan ku pastikan hanya ada Nona di dalam hati ini!" tegas Al-Ghazali membuat Laras langsung mencium rakus bibir suaminya.


*


*


Tuhuuu masih ada orang kah? 🤭🤭 Kalau crazy up sekarang apa masih ada yang bangun tidur, kah? 🤭


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️