Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh
Kabar Buruk dan Kabar Baik


Laras menunggu di luar ruangan. Sang suami sedang menjalani kemoterapi. Dia hanya bisa melihat sang suami dari luar jendela kaca.


Berharap ada secercah harapan untuk kesembuhan sang suami. Tiada istri yang mau suaminya sakit, nyatanya suami sebaik Al-Ghazali mampu membuat para wanita yang menjadi istrinya bersedih.


"Sisa dua hari lagi," gumam Laras pelan teringat tentang vonis kematian Al-Ghazali. Hanya tersisa dua hari lagi maka genap sembilan puluh sembilan hari.


Tes.


Cairan bening keluar dari netra Laras. Dia hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat agar suara tangisnya tak keluar.


Berpisah dengan sang suami? Benarkah? Membayangkannya saja Laras tak sanggup. Kebahagiaan yang baru beberapa saat dia rasakan akan berakhir.


Mengapa sangat singkat? Apakah wanita pendosa sepertinya tidak pantas bahagia?


Sejatinya setiap pertemuan akan ada perpisahan.


Pertemuan abadi hanya akan ada di surga kelak. Dunia ini hanya persinggahan sementara para manusia.


"Hiks … ya Allah … hamba mohon sembuhkan suami hamba. Sungguh, hamba tidak akan berputus asa bermohon pada-Mu," gumam Laras pelan di sela-sela tangisnya.


Dia memukul dadanya yang terasa sangat sesak. Sungguh, hatinya terasa nyeri mengingat wajah pucat Al-Ghazali.


Suaminya setiap hari menahan sakit. Tak sekalipun Al-Ghazali mengeluh atau putus asa..


Walau sesekali kata "sakit dan lelah" keluar dari lisannya.


Mengapa orang baik di dunia ini sangat cepat berpulang ke Rahmatullah?


Laras tak rela bila berpisah dengan sang suami.


Tiba-tiba perut gadis itu seperti di aduk-aduk, Laras menutup mulutnya. Dia segera berlari mencari toilet terdekat. Saat masuk ke dalam toilet, Laras langsung memuntahkan cairan bening dari mulutnya.


Huwek …


Laras memuntahkan cairan bening itu berkali-kali. Sang gadis merasa heran, karena baru kali ini dia merasa kesakitan muntah tak berisi seperti ini.


"Astaghfirullah … perutku seperti di aduk-aduk," gumam Laras pelan.


Suara muntah-muntah Laras terdengar oleh seorang wanita yang berada di dalam kamar toilet.


Wanita itu keluar dari sana, dia melihat Laras sedang memuntahkan cairan bening.


"Mbak, hamil?" tanya wanita berseragam putih itu seraya memijat tengkuk Laras membantu wanita itu untuk memuntahkan cairan.


Laras tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Dia tersadar akan sesuatu, teringat kalau bulan lalu dia tidak mendapatkan masa bulanan nya.


Sudah pergantian bulan juga belum datang.


"Ha … hamil?" beo Laras membuat wanita itu mengangguk kepalanya ambigu.


"Biasanya kalau mual-mual seperti Mbak itu hamil. Tapi, untuk lebih pasti bisa ikut saya. Kebetulan saya dokter kandungan di rumah sakit ini," ajak wanita itu lembut membuat Laras tersenyum cerah.


Dia menganggukkan kepalanya. Wanita itu bersemangat untuk memeriksa kandungannya.


Laras segera mengikuti dokter tersebut ke ruangan dokter kandungan.


*


*


Di ruangan dokter kandungan.


Dokter bernama Melani itu tersenyum kecil saat melihat layar monitor. Ternyata dugaannya benar.


"Mbak, lihat satu titik kecil berwarna hitam itu … itu adalah janin yang ada dalam rahim, Mbak. Usianya menginjak tiga Minggu. Selamat ya, Mbak."


Sang dokter memberi selamat pada Laras. Sang gadis hanya mampu menutup mulutnya tak percaya. Dia meneteskan air matanya.


Seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya menggelitik hingga ke ulu hati.


Laras tersenyum manis. Meski butiran kristal terus menghujam pipinya.


Tangisan bahagia keluar begitu saja.


"Saya ha … hamil, Dok. Saya bakal jadi ibu?" tanya Laras semangat dengan nada tak percaya.


Sang dokter menganggukkan kepalanya semangat. Ikut bahagia melihat Laras bahagia.


Di sela-sela kebahagiaan yang Laras rasakan, terdengar suara dering ponselnya.


Laras segera menerima panggilan dari dokter yang merawat Al-Ghazali.


"Halo, Dok." Jantung Laras berdegup kencang. Takut sesuatu terjadi pada sang suami.


[...]


"Enggak mungkin … hiks."


Laras menutup mulutnya tak percaya mendengar kabar buruk dari sang dokter.


*


*


Banyak yang minta lanjut dan happy Ending. Oke author kabulkan. Tapi, author pasang label tamat yah, karena sebenarnya novel ini udah waktunya tamat.


Tapi, author tetap up sampai mereka bahagia. Jadi, terus pantengin yah ❤️🌹🥰💋🙏


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️