
Seorang ibu muda tampak tersenyum manis melihat anak perempuannya yang berusia lima tahun terlelap di atas ranjang. Matanya berkaca-kaca ketika mengingat perjuangan nya untuk melahirkan sang buah hati.
Cup.
Sebuah kecupan seorang pria melabuhkan di pelipis sang ibu muda, membuat wanita itu menoleh ke kanan. Dia segera memeluk pinggang sang suami yang berdiri di dekatnya.
"Gimana kerjamu hari ini, Mas?" tanya sang istri pada sang suami.
Pria itu tersenyum kecil. Dia mengelus puncak kepala sang istri dengan sangat lembut. Makin hari istrinya makin manja, membuat hatinya senang.
"Baik … ternyata kerja kantoran itu menyenangkan," jawab Al-Ghazali lembut.
Ya, pria itu adalah Al Ghazali. Entah seberapa kuat doa Laras di sepertiga malam, sehingga membuat pria yang punya penyakit mematikan sembuh seketika.
Kala itu, saat Laras memeriksa kandungannya. Al-Ghazali sempat koma, namun selama dua Minggu Laras terus berdoa di sepertiga malam. Tak bisa dia merawat sang suami. Setelah dua Minggu, Al-Ghazali sadar dari koma nya.
Betapa hebatnya doa Laras, membuat Al-Ghazali sembuh total.
Keajaiban di dunia ini memang bukanlah kemustahilan, nyatanya pria yang kurus kering hampir meninggal, bisa sembuh dengan mudah karena - Nya.
Al-Ghazali merasa beruntung punya istri seperti Laras. Begitupun sebaliknya, sang istri merasa sangat beruntung punya suami seperti Al-Ghazali.
Al-Ghazali yang membawa Laras dari kegelapan menuju cahaya. Dulu hidup Laras saat menjadi wanita malam, sangat gelap gulita.
Namun, sekarang dia bisa hidup dengan nyaman bersama sang suami tercinta. Tanpa harus berkecimpung di dunia malam lagi.
"Aku ikut seneng, Mas. Yuk makan, aku udah masak gulai kambing kesukaan kamu!"
Sang istri bangkit dari duduknya. Dia melepaskan pelukan lalu menggandeng tangan sang suami tercinta. Senyuman bahagia tak pudar dari wajah keduanya.
Saling menatap satu sama lain. Keduanya bersyukur bertemu kala itu. Laras menjadi lebih baik dan Al-Ghazali sembuh dari penyakitnya.
Ternyata benar kata orang kalau pernikahan adalah jalan menuju kemakmuran. Meski ada badai di tengah-tengah perjalanan. Selama penumpang dan nahkoda saling percaya, pasti kapal terus berlayar sampai pada tujuan.
*
*
Laras memeluk tubuh polos sang suami. Dia menghirup aroma khas tubuh Al-Ghazali. Keduanya baru saja menjalani ibadah bersetubuh dalam ikatan halal pernikahan. Pahala pasti keduanya dapatkan.
Laras tersenyum kecil. Dia menganggukkan kepalanya. Lalu mendongak menatap sang suami, senyuman manis terbingkai di wajahnya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kamu mau berjuang untuk hidup. Menikah denganmu adalah anugerah terbesar yang Allah berikan untukku."
Laras membalas perkataan Al-Ghazali dengan sangat lembut. Dia sendiri merasa sangat bahagia bisa bersama pria sebaik Al-Ghazali.
Mata pria itu berkaca-kaca. Dia memeluk erat tubuh sang istri, mencium lembut puncak kepala sang istri.
Ada kebahagiaan yang tak mampu dijabarkan dengan kata-kata. Betapa bahagianya mereka berdua. Terlebih lagi setelah Al-Ghazali sembuh total, dia mendengar kabar bahagia, kalau sang istri hamil.
Al Humaira Ratu Syabillah adalah nama putri kecil mereka. Tingkahnya sangat mirip dengan Laras dulu. Lincah dan nakal, namun kepintaran nya dalam menghafal persis seperti Al-Ghazali.
"Aku masih nggak nyangka kalau kita bisa sampai di titik ini, Mas. Kamunya sembuh total dan sehat sentosa dan ada Humaira juga antara kita. Benar-benar luar biasa. Rasanya kehidupan ku sesempurna itu sekarang. Aku bersyukur punya kamu dan Humaira."
Laras mendongak memandang wajah sang suami. Al-Ghazali mendekatkan bibirnya dengan bibir Laras. Dia kecup mesra bibir sang istri.
"Ini semua berkat keikhlasan kamu, Sayang. Kamu ikhlas merawat aku waktu sakit, ikhlas berdoa untuk ku. Makanya doamu diijabah Allah," balas Al-Ghazali lembut membuat Laras tersenyum kecil.
Begitulah hidup. Tidak ada yang tahu, semuanya berjalan sesuai skenario yang telah Allah tulis untuk para hamba-Nya. Cukup jalani tanpa protes, percaya sepenuhnya pada sang penulis takdir kita.
Maka semuanya akan baik-baik saja. Seperti halnya Laras di wanita malam, kini menjadi istri Sholehah.
Derajatnya telah diangkat oleh Al-Ghazali. Mahkota nya yang pernah jatuh, kembali dipungut oleh Al-Ghazali lalu pria itu pasangkan di kepala Laras.
Nyatanya, mau sehina apapun seorang wanita. Tetap akan dimuliakan oleh pria yang juga mulia.
*
*
*
TAMAT
Terima kasih buat semuanya, karena sudah mau menemani Laras dan Al-Ghazali berjuang. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari cerita singkat ini ❤️🌹