
Setelah perjalanan jauh, mereka berdua sampai di rumah nenek Al-Ghazali. Laras terpana melihat indahnya bentuk rumah adat nenek Al-Ghazali. Terdapat gambar pintu Aceh dan rencong menghiasi pintu rumah nenek Al-Ghazali.
"Waw … dekorasi rumah nenekmu sangat indah, Mas Al!" puji Laras tulus membuat Al-Ghazali tersenyum manis. Merek turun dari mobil Pajero sport nya.
"Ini namanya rumah adat Aceh! Orang Aceh dulu kalau buat rumah, pilar nya tinggi-tinggi. Karena dulu banyak binatang buas berkeliaran di bawah!" jelas Al-Ghazali membuat Laras manggut-manggut.
"Ayo kita masuk sekarang!" ajak Al-Ghazali mbuat Laras segera merapat ke arah pria itu. Keduanya melangkah menaiki anak tangga. Masuk ke dalam rumah yang terbuat dari kayu.
"Assalamualaikum, Nek!" Al-Ghazali dan Laras masuk ke dalam rumah. Tampak sepasang lansia sedang duduk di kursi goyang. Batu tasbih berada di ujung jari mereka, tampak sedang berdzikir mengingat Allah.
Gleg.
Laras menelan ludahnya kasar. Tiba-tiba merasa rendah diri di hadapan nenek dan kakek Al-Ghazali. Mereka terlihat sangat Sholeh dan Sholeha.
"Ya Allah, kenapa hamba yang serong bebek begini dapat imam yang lurus seperti jalan rel kereta api? Malah keluarganya agamis semua! Auww … aku seperti tersiksa di dalam penjara suci!" batin Laras menjerit dalam hati.
Dia tidak tahu harus mengekspresikan diri seperti apa, karena saat berhadapan dengan orang yang taat agama. Dia merasa seperti sampah masyarakat.
"Wa'alaikumussalam, Al," jawab keduanya lembut dengan suara tua mereka.
Al-Ghazali segera mencium punggung tangan kedua lansia itu. Mereka tampak sangat senang menyambut kedatangan Al-Ghazali.
"Nek, Kek. Apa kabar?" tanya Al-Ghazali ramah pada kedua lansia yang merawatnya dari kecil. Karena orang tua Al-Ghazali telah lama meninggal. Bersama dengan adik perempuan nya dulu.
"Alhamdulillah baik! Eh, itu siapa, Al?" tanya kakek pada cucunya.
Al Ghazali memberi kode pada Laras untuk menyalami nenek dan kakeknya.
"Assalamualaikum, Nek, Kek." Laras mencium punggung tangan lansia itu. Dia tersenyum manis, seperti gadis pada umumnya.
"Perkenalkan nama saya Laras, calon istri, Mas Al!" tambah gadis itu cepat membuat keduanya terkejut.
"Eh, Al? Maksudnya apa ini?" tanya sang nenek terkejut membuat Al tersenyum kecil. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pria tampan itu berusaha mengatur kata-kata yang pas untuk menjelaskan maksud dan tujuan nya. Agar nenek dan kakek tidak marah atau jantungan.
"Al, akan menikah besok, Nek!" ucap pria itu dengan nada tegas dan sungguh-sungguh. Membuat pasangan lansia itu mengelus jantung mereka.
"Ya Allah, pakon tiba-tiba galak meukawen kah, Al?" tanya sang nenek terkejut menggunakan bahasa Aceh agar Laras tak mengerti.
[Ya Allah, kenapa tiba-tiba kamu pengen menikah, Al]
Al menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pria itu pun menjelaskan alasannya ingin menikah.
"Sudah lama Al berencana mau menikah, Nek. Dan sekarang baru terwujud kan. Al mau menikahi Laras, karena Aku cinta sama dia!" jelas Al menggunakan bahas Indonesia.
Sontak saja Laras tersipu malu. Pipinya merona, jantung sang gadis berdetak kencang. Seumur hidup baru kali ini ada orang yang menyatakan cinta secara langsung di depan keluarga. Al-Ghazali memang sangat jantan, pria itu tidak suka berbelit-belit.
"Ya Allah, romantis nya calon imam ku ini," batin Laras menjerit dalam hati. Dia merasa sangat senang dan bersyukur bisa mendapatkan Al sebagai calon suaminya.
"Dia berasal dari pesantren mana? Darul Huda juga? Atau pesantren Samalanga? Di mana kalian bertemu? Anak siapa dia?" tanya sang nenek bertubi-tubi membuat pria itu menelan ludahnya kasar. Begitupun dengan Laras, dia hampir spot jantung.
"Alah Mak, busett dah. Jangankan pesantren, Alif ba ta saja aku sudah lupa bagaimana bentuknya," batin Laras panik.
Ya Allah … dia tidak tahu kalau menjadi menantu keluarga agamis yang ditanya adalah agama, ilmu akhirat. Benar-benar sangat berbeda.
Namun, yang menjadi masalahnya adalah Laras tak lagi bisa mengaji dan tentang rukun Islam saja dia telah lupa. Maklum saja, gadis itu terjebak dalam kubangan dosa, dipaksa berbuat hal menyimpang dari agama oleh orang-orang jahat dalam hidupnya.
Dulu waktu kecil dia bisa menghafal ayat pendek dan beberapa kisah nabi juga pahlawan Islam. Tetapi, semenjak tinggal bersama keluarga angkatnya, dia merasa sangat dangkal ilmu agama dan jauh dari Allah.
"Dia tidak agamis, Nek, Kek. Ilmu agamanya dangkal, tapi, Al berjanji akan membimbing nya untuk dekat dengan Allah dan paham tentang ilmu agama!" jelas Al Ghazali jujur tanpa ada yang dia tutupi.
Pasangan lansia itu mengelus dd mereka. Keduanya beristighfar, karena harapan mereka Al-Ghazali mendapatkan pasangan hidup yang sama-sama paham agamanya. Bukan yang seperti Laras.
Sang nenek menatap datar Laras. Dia memperhatikan gadis cantik itu dari atas hingga ke bawah.
"Coba sebutkan rukun iman ada berapa dan apa-apa saja?" tanya sang nenek serius membuat Laras menelan ludahnya kasar.
"Maaf, saya lupa, Nek." Laras menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah tua nenek, dia terdiam, matanya berkaca-kaca. Ada rasa sakit dan malu timbul dalam hati secara bersamaan.
Percayalah, kalian yang merasa tinggi ilmu dunia, sesekali duduklah dengan orang yang paham agama, maka kalian akan merasa seperti sampah.
Sang nenek ingin kembali berbicara, namun tangannya di genggam oleh sang suami.
"Kenapa kamu mau menikah dengan Al-Ghazali?" tanya sang kakek serius membuat Laras mendongak menatap wajah tua sang kakek.
Dia menoleh ke kanan, menatap calon suaminya dengan sorot mata yang tak dapat di artikan.
"Dia seperti air dingin yang memadamkan hati saya yang panas. Dia seperti matahari yang panasnya bisa mengeringkan air mata saya. Mencerahkan hari-hari saya. Dulu sebelum bertemu dengan nya, saya seperti musafir yang berjalan di Padang pasir, nyaris mati karena kehausan. Tetapi, setelah bertemu dengannya, saya kembali segar seolah mendapatkan air sejuk dari langit. Dia seperti kompas, terus memberikan petunjuk bagi saya agar tak sesat dalam hutan. Bentuknya seperti manusia, tapi, bagi saya dia seperti malaikat tak bersayap yang menyelamatkan saya dari kubangan lumpur!" jelas Laras menatap dalam wajah Al Ghazali.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh makna, mendeskripsikan Al-Ghazali dengan baik. Membuat Al-Ghazali merasakan ketulusan yang tersirat.
*
*
Maaf telat update Guys. 🥰🌹
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️