Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Berhasil menanam benih


Arga justru meletakkan kepalanya pada perut Cinta dan mengecupnya mesra.


"Eihh jangan di sini dong!"


Cinta mengira jika suaminya itu sedang ingin bercinta lagi dengannya. Ia pun berusaha untuk melarang Arga agar tidak melakukan hal itu. Karena pastinya ia sangat malu jika saja ada yang melihat mereka.


"Sayang, kamu ngapain sih!"


"Diam! Aku hanya ingin mencium anakku dan mengatakan selamat datang untuknya."


Ucapan Arga membuat Cinta tiba-tiba mengerutkan keningnya.


"Anak? Anak siapa yang kamu maksud?" sahut Cinta masih belum mengerti maksud suaminya.


Arga mendongak dan menatap wajah sang istri yang saat itu sedang bingung.


"Apa kamu lupa sesuatu?" Arga menatapnya penuh cinta.


Cinta berusaha mengingat-ingat apa yang sudah ia lupakan. "Sesuatu? Aku rasa tidak ada," balasnya sembari menggelengkan kepala.


"Benarkah? Bagaimana dengan testpack yang kau tinggalkan di dalam kamar mandi?" tanya Arga yang seketika membuat Cinta langsung teringat.


"Owwhh ... itu, iya tadi aku meninggalkannya di kamar mandi. Maafkan aku, Sayang. Sepertinya kita harus mencoba lagi, tadi aku penasaran ingin melihat hasil testpack karena beberapa hari ini aku nggak datang bulan. Aku diam-diam menyembunyikannya darimu, takut saja jika hasilnya negatif dan ternyata ...!" Cinta tidak melanjutkan kata-katanya karena ia mulai menangkap wajah bahagia dari suaminya.


"Dan ternyata ... positif!" sambung Arga sambil menunjukkan testpack itu kepada istrinya. Hal itu tentu saja membuat Cinta tidak percaya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri jika garis dua pada ketiga testpack itu benar-benar nyata.


"Positif? Tapi tadi pagi aku lihat negatif dan garisnya cuma satu. Tapi sekarang sudah ada dua?? Aku hamil!!" Cinta tidak bisa menahan rasa harunya saat melihat hasil testpack itu.


"Iya, kamu hamil. Itulah kenapa aku ingin mengucapkan selamat datang kepada anak kita. Dia sudah hadir di antara kita. Terima kasih banyak, kamu sudah membuatku menjadi pria sejati. Aku akan memiliki anak, ternyata aku memang bukanlah seorang banci!" Arga tak mampu menahan air matanya. Karena sejatinya pria itu sangat mudah tersentuh. Perasaannya seperti seorang wanita yang mudah menangis.


"Siapa bilang kamu banci, aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Kamu memang pria sejati, suamiku adalah seorang pria yang kuat. Aku sangat bahagia bisa menjadi Ibu dari anakmu. Melahirkan anak-anak kita adalah tujuanku untuk menikah denganmu, bukan. Seperti di perjanjian awal pernikahan kita. Aku akan memberikan anak untukmu, dan sekarang semuanya sudah terkabul!" ungkap Cinta sambil mengusap air mata sang suami.


"Tidak akan pernah terpikirkan olehku untuk pergi meninggalkanmu, Sayang! Bahkan, aku ingin mengandung lagi benih dari suamiku. Aku akan melahirkan anak-anak yang banyak untukmu. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan seperti ayahnya!" Cinta memainkan ujung hidung mereka dengan gemas.


"Terima kasih, aku sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu. Dan kamu jangan khawatir, stok benih ini masih sangat banyak dan berlimpah. Aku siap menebarkan benih ini dalam rahimmu kapan saja kamu mau!"


Ucapan konyol Arga tiba-tiba terdengar oleh Madam Desy yang baru saja masuk ke dalam dapur dan melihat anak dan menantunya saling berpelukan.


"Benih apa yang sedang kalian bicarakan?"


Seketika keduanya menoleh ke arah sumber suara yang berada di belakang mereka. Madam Desy pura-pura mengambil minum dalam kulkas karena ia tahu jika anak dan menantunya sedang bermesraan. Karena tidak sengaja Madam Desy memergoki mereka berdua. Wanita itu pun pura-pura tidak tahu dengan membuka kulkas seolah dirinya sedang mengambil sesuatu dari sana.


"Hehehe, Mommy ngagetin kita aja!" sahut Arga sambil cengar-cengir.


"Mommy nggak sengaja dengar kalian membicarakan tentang benih. Emang kalian mau menanam apa?" tanya Madam Desy yang membuat Cinta tersenyum malu.


"Itu Mommy. Arga sudah lama menanam benih itu, menyiramnya setiap hari, dan akhirnya sekarang sudah tumbuh benih itu. Arga benar-benar sangat bahagia Mommy!" sahut Arga yang masih belum difahami oleh sang Ibu.


"Oh ya? Kapan kamu menanamnya? Perasaan Mommy nggak pernah lihat kamu menanam benih?" rupanya jawaban Madam Desy seketika membuat Arga tertawa kecil dan malu.


"Ya iyalah Mommy nggak lihat, Arga menanamnya diam-diam dan gelap-gelapan. Arga dipandu sama istri, dan akhirnya Arga berhasil menanam benih itu dengan mudah, karena ketagihan, Arga selalu mengulanginya setiap malam. Dan sekarang benih itu tumbuh subur, setelah sembilan bulan nanti Mommy akan melihat hasilnya, cuci Mommy akan lahir ke dunia!"


Seketika Madam Desy membelalakkan matanya saat mendengar ucapan dari Arga di akhir kalimat.


"Cucu? Mommy akan punya cucu?" tanyanya dengan wajah bahagia.


Cinta pun tersenyum dan menghampiri mertuanya. "Iya Mommy. Suamiku benar, Mommy akan mendapatkan cucu."


"Benarkah? Dasar bocah semprul! Bikin Mommy spaneng aja. Kirain benih apaan!" Madam Desy terlihat memukul lengan putranya karena sudah membuat bingung dirinya dengan kehamilan sang menantu.