Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Pak tua


Di sisi lain, hari ini Arga akan mengantar istrinya untuk bertemu dengan sang mertua yang telah ia bebaskan dari penjara. Dengan perasaan bahagia, Cinta sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang Papi yang saat ini sudah berada di kediaman lama Cinta. Arga langsung membebaskan Papi Fadly setelah dirinya sangat yakin untuk memilih Cinta sebagai pasangan hidupnya.


Pernikahan mereka baru berusia dua hari. Namun, secepat itu Arga memutuskan jika Cinta adalah penyelamat hidupnya dan akan tetap mempertahankan Cinta sebagai istrinya.


"Kau tahu, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku saat ini, Papi adalah kebahagiaanku, hanya Papi yang kumiliki selama ini, setelah Mami meninggalkan Papi, hanya Papi lah yang ada untukku. Hampir 10 tahun aku belum pernah bertemu dengan Mami, aku hanya melihat Aku minta maaf jika aku terlalu berlebihan." Cinta menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.


"Kalau boleh tahu, apa kamu tidak merindukan Mami mu?" Arga bertanya sembari melihat ke arah istrinya. Cinta menghela nafas berat, kedua alisnya saling bertaut, ada kesedihan yang sebenarnya ia pendam. Iya, mungkin rasa rindu ingin bertemu dengan sang Mama.


"Rindu? Selama 10 tahun aku belum bisa bertemu dengan Mama, hanya dengan Kak Lovely aku bisa berkomunikasi. Itu pun jarang sekali kami saling berbicara. Aku rasa suami Mama yang baru tidak mengizinkan Mami untuk bertemu denganku, karena aku lebih memilih tinggal bersama Papi," Cinta menyeka buliran bening yang mulai jatuh dari sudut matanya.


"Kenapa bisa begitu? Kalau boleh aku tahu, siapa suami Mamimu?" Arga rupanya benar-benar penasaran dengan sosok pria yang dibicarakan sebagai suami sang Mami Cinta.


"Papi pernah bilang, nama pria itu adalah Tuan Bisma Panega,"


"Siapa, Tuan Bisma Panega?" Arga terperanjat ketika Cinta berkata demikian.


"Kamu kenal dia?" sahut Cinta yang seolah sang suami tahu siapa Tuan Bisma Panega itu.


Arga tidak menyangka jika dirinya harus mendengar nama Bisma Panega lagi. Karena sejatinya Arga sangat mengenal sekali sosok Tuan Bisma. Karena Bisma Panega adalah rekan bisnisnya dulu. Itu artinya Maminya Cinta menikah dengan pria yang pernah menjadi musuh sang suami.


"Aku dan dia pernah bermasalah, tapi itu dulu!" ungkap Arga yang seketika membuat Cinta terkejut.


"Oh ya?"


Cinta tampak seksama mendengar pengakuan dari sang suami.


"Oh begitu, ternyata jahat sekali Tuan Bisma. Aku juga nggak ngerti kenapa Mami bisa tertarik dengan pria itu." Cinta pun mulai penasaran dengan pria yang bernama Bisma Panega itu.


"Demi uang, Bisma bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau, Mamimu mungkin memiliki sesuatu yang sangat berharga, sehingga Bisma sangat tertarik untuk mendekati Mami kamu," ucapan Arga mengingatkan Cinta jika sang Mami adalah pewaris tunggal dari kakeknya.


"Iya, kamu benar. Mami adalah anak tunggal dan Mami adalah pemilik perusahaan dari almarhum kakek. Astaga, kenapa aku baru menyadarinya, mungkin saat itu aku masih 10 tahun. Jadi aku tidak terlalu faham urusan orang dewasa."


Mendengar ucapan dari sang istri, Arga menyunggingkan senyumnya, "Hmm ... ngomong-ngomong berapa usiamu sekarang?" tanya Arga sambil menyipitkan matanya.


"20 tahun bulan depan," balas Cinta. Arga pun tampak menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa, Tuan? Apa wajahku nggak cocok dengan umurku? Apa aku terlalu dewasa sebelum waktunya?" pertanyaan Cinta justru membuat Arga semakin gemas dengan sang istri.


"Kata siapa, aku nggak berkata seperti itu. Saat kamu masih 10 tahun, berarti usiaku sekitar 25 tahun, saat itu aku masih baru kenal dengan Lovely, dia masih ABG, masih SMA lah. Itu artinya saat itu kamu masih ingusan, ya. Masih bocil," ucapan Arga membuat Cinta memutar bola matanya. Arga terlihat tertawa kecil membayangkan Cinta di usia 10 tahun.


"Ingusan - ingusan, oke dulu aku memang ingusan. Sekarang, siapa coba yang ingusan? Aku apa kamu, Tuan Arga. Eh salah Pak tua maksudnya emang udah tua, kan!" celetuk Cinta sambil cekikikan. Arga tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Spontan ia pun menarik tengkuk leher Cinta dan membungkam bibir mungil itu agar sang istri tidak mengejeknya lagi.


...BERSAMBUNG ...