
Sementara di kantor. Arga menemui asisten pribadinya, Arga memeriksa beberapa data yang bermasalah, beruntung Arga dikelilingi oleh orang-orang yang ahli di bidang telematika dan jaringan internet sehingga mereka bisa secepat mungkin bisa menghindari segala sesuatu yang berusaha untuk mencuri dan merusak data-data perusahaan.
"Bagaimana, apa semuanya baik-baik saja?" seru Arga saat dirinya berada bersama beberapa orang kepercayaannya.
"Ada yang sengaja mengirim virus ke data komputer kita, Tuan. Tapi syukurlah kita bisa secepat mungkin mengetahui hal itu, sehingga kita masih bisa mengirim balik virus-virus itu," ucap sang asisten kepercayaan, Jerry.
"Ada yang sengaja? Itu artinya mereka sengaja ingin menghancurkan perusahaanku, brengsek! Siapa mereka?" Arga pun mulai tersulut emosi. Tangannya mengepal erat, siapapun yang berani mencoba menyentuh perusahannya, maka pria itu tidak akan melepaskannya begitu saja, Arga pasti akan mengejar siapapun yang berani mengusik dirinya, walau sampai ke lubang semut sekalipun.
Asisten Jerry kembali memeriksa secara detail darimana virus-virus itu dikirim. Seketika sang asisten Jerry menghela nafas panjang. Karena orang yang sudah sengaja melakukan itu adalah relasi bisnis Arga.
"Raymond Shawn!" sebuah nama yang terucap dari bibir asisten Jerry.
Arga tidak berkata apapun. Namun, matanya sudah dipenuhi emosi. "Kurang ajar! Jadi, laki-laki itu berani sekali mengusik seorang Arga. Dia belum tahu bagaimana Arga akan menghancurkan siapapun yang berani menyentuh perusahaanku. Tamat lah riwayatmu, Raymond Shawn!"
Arga sudah diliputi rasa dendam, karena hampir saja data-data perusahaannya dicuri dengan datangnya virus berbahaya itu. Arga pun kembali mengirimkan balasan kepada Ray lebih kejam.
"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan? Cepat kerjakan sekarang, aku tidak mau menunggu hari esok, Raymond Shawn tidak akan bisa bernafas dengan lega, selama aku belum bisa melihat pria itu hancur dan menjadi pengemis di jalanan!" ucap Arga sungguh-sungguh.
Benar saja, malam itu juga Arga segera membalas apa yang sudah Ray lakukan padanya. Virus itu ia kembalikan pada perusahaan milik Ray, dengan sangat mudah antek-antek Arga bisa menembus data perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Ray. Iya, perusahaan dari keluarga besarnya.
*
*
*
Sedangkan di sisi lain, Cinta pun menutup video call nya bersama sang kakak. Ia pun segera beranjak untuk kembali tidur. Namun, lagi-lagi ia masih terpikirkan ucapan Lovely saat mereka berbicara via video call tadi.
"Apa maksud Kakak bicara seperti itu? Kata suamiku kakak itu memiliki penyimpangan. Tapi, kenapa gaya bicaranya tadi seolah Kakak sudah pernah berhubungan dengan laki-laki? Kalaupun seperti itu, ada bagusnya juga sih, setidaknya kakak bisa menunjukkan jika dia bukan wanita yang menyimpang. Tapi kira-kira siapa pria yang sudah melakukan itu dengan Kakak? Ah ... kenapa sih otakku yang polos ini harus mikirin hal seperti itu? Ini semua gara-gara Tuan Arga!" Cinta kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Ia pun mulai memejamkan matanya.
Setelah beberapa saat Cinta memejamkan matanya, ia merasakan ada sesuatu yang merambat lembut pada kedua pahanya, ingin rasanya Cinta membuka kedua matanya. Namun, dirinya sudah terbuai dengan mimpi indah yang saat ini sedang dirasakannya.
Sebuah mimpi disaat dirinya sedang berduaan dengan sang suami.
Tapi, lama-lama mimpi itu terasa berbeda saat ia merasakan sebuah gigitan semut pada area leher jenjangnya. Seketika Cinta membuka matanya dan ia melihat seorang pria yang sedang mencumbu lehernya dengan buas.
"Huaaaaaa!" teriakan itu spontan membuat Arga membekap mulut sang istri.
"Ssssttt, jangan berteriak! Ini masih malam, nanti Mommy dan pelayan terbangun mendengar teriakanmu, Sayang. Pasti mereka mengira aku sudah menyakitimu!" seru Arga yang tiba-tiba muncul di atas tubuh Cinta.
"Sayang, kamu sudah pulang? Kamu ngagetin aja deh! Aku pikir tadi ada semut yang gigit, karena aku baru saja mimpi digigit semut. Eh nggak tahunya kamu yang gigit!" sahut Cinta sambil mencolek hidung sang suami.
Cinta pun tersenyum, sejenak Ia melihat wajah sang suami yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Bagaimana, apa yang sebenarnya terjadi? Apa semua baik-baik saja?" tanya Cinta sambil mengusap wajah Arga dengan lembut. Masih dalam posisi Arga berada di atas tubuh istrinya.
"Aku akan menghancurkan perusahaan Raymond Shawn!" jawaban Arga spontan membuat Cinta terkejut sekaligus melototkan matanya.
"Apa maksudmu, Sayang? Kenapa kamu berpikiran ingin menghancurkan perusahaan Raymond Shawn?" pertanyaan Cinta yang penuh penekanan.
"Dia sudah berani sekali mengusik ketenangan ku. Kau tahu apa yang sudah ia lakukan? Dia sudah mengirim virus untuk mencuri data perusahaan kami, jika saja orang-orangku sedikit saja melewati hal itu, bisa dipastikan perusahaanku ada dalam masalah. Beruntung aku selalu mempunyai orang-orang kepercayaan yang selalu siap kapanpun untuk mengamankan data-data penting perusahaan." Ungkap Arga.
Cinta pun tidak percaya jika Ray sanggup melakukan hal itu, dan Cinta yakin jika Ray sengaja melakukan hal itu untuk memisahkan dirinya dengan Arga.
"Ray, apa mungkin dia sengaja ingin melihat suamiku hancur, lalu dia dengan mudah mengambilku dari sisinya. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak mau berpisah dengan suamiku,"
Cinta memeluk suaminya dengan erat setelah ia mendengar pengakuan dari Arga. Tentu saja Arga merasa heran dengan sikap sang istri.
"Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku mohon sama kamu. Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku, aku tidak mau berpisah sama kamu!" kata-kata itu keluar dari bibir Cinta. Wanita itu begitu khawatir jika saja Arga akan meninggalkannya.
"Hei, kamu ini ngomong apa sih? Nggak mungkinlah aku meninggalkan kamu. Tidak akan ada orang yang bisa memisahkan kita berdua, aku akan selalu bersamamu selamanya!" balas Arga.
Cinta melepaskan pelukannya dan menatap kedua bola mata sang suami dengan mesra.
"Benar?"
Arga menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"I love you, Baby!" kalimat itu terdengar begitu menggoda di telinga Arga.
"I love you too!" kecupan lembut pun akhirnya mendarat di kening Cinta. Ia memejamkan matanya saat bibir lembut itu menyentuh dengan mesra. Setelah itu Arga menutupi tubuh mereka dengan selimut, dan beberapa menit kemudian terdengar suara desaahan manja yang pastinya akan membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut terbakar.
"Kamu suka?" suara Arga yang terdengar berbisik mesra.
"Suka banget, punya kamu benar-benar besar! Aku sangat suka,"
Entah perbincangan apa yang sedang mereka diskusikan, yang jelas perbincangan itu diselingi dengan sedikit teriakan, lenguhan dan tentu saja racauan dari bibir Cinta yang merasa keenakan.
...BERSAMBUNG ...