
Kini, Arga berdiri di depan Ray dengan tatapan emosi. Pria itu berusaha untuk tidak menghajar Ray. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Apa maumu, Tuan Ray? Apa kamu sudah menyerah? Itu bagus, karena apa yang sudah kamu lakukan kepada perusahaanku. Sungguh sangat membuatku marah. Itu akibat jika kamu berani sekali mencoba untuk mengusik perusahaan milik Arga, sekarang kamu akan menjadi gelandangan!" seru Arga dengan wajah seriusnya.
"Persetan dengan apa yang kamu lakukan Arga! Kamu benar-benar pria tak tahu diri, apa kamu sadar jika kamu itu adalah pria banci dan pengecut! Kamu hanya bisa merebut milik orang lain tanpa tahu bagaimana perasaan orang yang sudah kamu sakiti! Jangan pernah merasa menjadi orang yang sok hebat! Karena aku rasa kamu tetaplah seorang banci!"
Arga mulai geram dengan perkataan Ray yang mengundang keinginannya untuk segera menghajar pria itu. Tapi ia tahan karena Cinta berusaha untuk menenangkan suaminya.
"Sayang, kamu jangan terbawa emosi! Kamu harus bisa bersikap tenang, aku tidak mau kamu mengotori tanganmu dengan darah!" bisik Cinta kepada Arga sembari mengusap-usap dadanya.
Ray yang melihat itu terlihat sangat kesal. Karena Cinta tampak begitu mesra dengan suaminya.
"Cinta! Apa yang sudah terjadi padamu! Apa kamu sudah lupa dengan hubungan kita? Kamu sudah melupakannya demi menikah dengan pria banci itu? Ciihhh! Aku tidak menyangka jika kamu adalah seorang pengkhianat!"
Ray berkata sambil menunjuk ke arah wanita yang pernah dicintainya itu. Spontan Cinta berdiri di depan suaminya dan dengan lantang ia berkata. "Stop berbicara seperti itu padaku! Dulu memang kita pernah punya hubungan, tapi itu dulu. Sekarang, aku sudah menjadi istri Arga Bimantara. Lupakan semua tentang kita, sepertinya kita memang tidak berjodoh, Ray! Aku minta maaf jika aku tidak mengatakan bahwa aku akan menikah dengan Arga. Semua itu terjadi begitu saja dan seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa jika suamiku adalah segalanya bagiku. Dan kamu tidak perlu menepati janjimu padaku. Aku tidak akan pernah lagi menagihnya. Karena sekarang aku sudah mencintai pria lain yaitu suamiku sendiri!"
Cinta berkata sembari memeluk suaminya. Tentu saja Arga terkejut dengan pengakuan sang istri. Ternyata Cinta memiliki hubungan dengan Ray sebelum mereka menikah.
"Apa? Kamu dan dia pernah punya hubungan?" pertanyaan Arga terlihat begitu menyelidik. Ia tidak menyangka jika sang istri menyembunyikan hal itu darinya.
Cinta menatap wajah sang suami dengan berkaca-kaca. "Iya, aku minta maaf kepadamu jika pengakuan ku ini terlambat. Aku dan Ray memang pernah punya hubungan dan kami sempat merencanakan untuk menikah setelah dia pulang dari Amerika. Tapi, kenyataannya aku harus menikah denganmu karena demi menolong Papi dan perusahaan kami. Dan nyatanya sekarang aku telah jatuh cinta padamu, aku tidak mau berpisah denganmu, Sayang. Aku tidak mau!"
Arga mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa ia mengetahui hal ini sekarang. Mungkin itu sebenarnya Ray selalu mengatakan jika dirinya sudah merebut sesuatu dari pria itu. Iya, Ray merasa jika Arga sudah merebut Cinta darinya.
"Astaga, kenapa semua ini aku baru tahu sekarang! Kenapa kamu tidak berterus terang jika kamu dan pria itu pernah menjadi sepasang kekasih, kenapa?" desak Arga yang terlihat sedikit kecewa dengan pengakuan sang istri.
"Aku minta maaf, Sayang! Aku nggak bermaksud mengecewakanmu, untuk apa aku harus mengatakan jika aku dan Ray pernah berpacaran. Itu tidak penting, karena masa lalu itu tidak penting untuk dibicarakan dalam hubungan kita. Yang ada saat ini adalah antara aku dan kamu, itu saja!" sahut Cinta sambil menatap wajah sang suami.
"Tapi karena ketidakjujuran itu, pria itu bertekad untuk menjatuhkan perusahaan kita. Pernah tidak kamu berpikir jika saja kamu mengatakannya dari awal. Mungkin aku tidak begitu kecewa seperti ini. Kalian berdua pernah berpacaran, kamu pernah menjalin asmara dengan musuh bisnisku? Aku tidak pernah bisa bayangkan apa saja yang pernah kalian lalui bersama." Ungkapan hati seorang Arga yang membayangkan bagaimana kemesraan mereka saat berpacaran. Karena dirinya sudah terlanjur cinta kepada sang istri dan dia tidak pernah bisa membayangkan jika Istrinya disentuh oleh pria lain.
Mendengar ucapan dari Arga. Tentu saja membuat Ray tertawa sambil berkata. "Oh ... kamu mau tahu bagaimana gaya pacaran kami dulu? Kami dulu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, aku dan Cinta sering menghabiskan waktu bersama, kami adalah pasangan yang dimabuk kepayang. Bisa dibayangkan bagaimana kemesraan kami berdua. Tapi sayang semuanya itu berakhir hanya karena Cinta diiming-imingi harta kamu!"
Mendengar pengakuan dari Ray. Arga tidak bisa lagi membendung emosinya. Pria itu pun langsung memberikan bogem mentah kepada Ray. Spontan Ray terjatuh di atas lantai. Tak sampai di situ, Arga kembali memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah Ray.
Melihat Arga yang membabi-buta memukul Ray. Cinta dan Madam Desy pun berusaha untuk melerai keduanya.
"Arga jangan!" teriak Madam Desy yang tiba-tiba menghampiri Ray yang sedang dipukuli habis-habisan. Sementara itu Cinta tampak memegangi Arga dan menahan suaminya untuk tidak lagi menghajar Ray yang terlihat mulai berdarah.
Arga yang sudah dikepung emosi. Pria itu tidak bisa lagi membendung amarah yang bergejolak karena cemburu. Baru kali ini ia merasakan sakit hati karena dibohongi oleh istrinya sendiri. Dirinya sudah begitu percaya tapi Cinta justru menyembunyikan rahasia tentang hubungannya dengan Ray.
"Arga, cukup! Kamu ini apa-apa sih, kayak anak kecil saja!" seru Cinta sembari menarik tangan sang suami.
Arga tampak berantakan, nafasnya tersengal karena ia sudah memberikan pukulan yang banyak kepada Ray.
Sementara itu, Madam Desy tampak melihat kondisi Ray yang mengeluarkan darah dari hidungnya. Tanpa sadar Madam Desy menangis, entah kenapa tiba-tiba dirinya sangat sedih melihat kondisi Ray yang mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Kamu berdarah, jangan bergerak aku akan membersihkan darahnya!" seru Madam Desy sambil mengusap darah dengan tisu. Spontan Ray merasa begitu nyaman saat dirinya disamping Madam Desy. Ia tidak menyangka jika ibunya Arga justru menolong dirinya.
"Kenapa Nyonya menolong saya?" tanya Ray dengan suara lemahnya. Ia merasa jika perlakuan Madam Desy kepadanya sangatlah terlalu baik.
"Karena aku harus menolongmu, kamu mengingatkan ku kepada anakku yang sudah lama tidak aku temui. Entah bagaimana kabarnya sekarang," balas Madam Desy sambil terus membersihkan darah dari wajah Ray.
Pemandangan itu tentu saja membuat Arga semakin marah. Ternyata Ray bukan hanya mengambil perhatian istrinya tapi juga sudah mengambil perhatian ibunya.
"Brengsek, pria itu benar-benar harus aku lenyapkan, jika tidak dia bisa mengambil semuanya dariku, termasuk Mommy. Bersiaplah untuk mati, Raymond Shawn!"
Arga mengambil senjata dari dalam kamarnya. Amarahnya sudah meledak dan tidak bisa dibendung lagi. Sementara itu Cinta berusaha untuk menghalangi langkah suaminya yang ingin melenyapkan Ray saat itu juga.
"Sayang, kamu mau apa dengan senjata itu? Itu sangat berbahaya!" Cinta terus berusaha untuk menghadang Arga pergi keluar. Karena di dalam tangan pria itu ada sepucuk pistol yang akan ia gunakan untuk melenyapkan Ray.
"Haaa ... minggir!"
Arga tetap tidak memperdulikan perkataan istrinya. Pria terus keluar dan segera menuju ke tempat di mana Raymond berada.
Madam Desy masih mengobati luka pada wajah Ray. Sementara itu Arga sudah berdiri tepat di depan Ray dengan sebuah pistol di tangannya.
"Seharusnya aku melenyapkanmu sekarang Raymond Shawn! Kamu tidak perlu lagi untuk hidup." Arga mengarahkan senjata itu tepat di depan Ray yang sedang duduk di atas lantai.
"Arga, apa-apaan kamu! Apa yang akan kamu lakukan, Nak? Buang senjata itu, buang!" teriak Madam Desy sambil menghalangi Arga untuk menembak Ray.
"Mommy pergilah! Arga hanya ingin pria itu mati."
"Tidak, Nak. Jangan lakukan itu Mommy mohon!" Arga tidak mendengarkan rengekan dari sang Mommy. Sementara itu Ray terlihat begitu sedih saat melihat Madam Desy yang lebih membelanya daripada putranya sendiri.
"Kenapa Nyonya membela saya? Biarkan saja saya mati di tangan putra Nyonya. Saya sudah berusaha untuk menghancurkan perusahaan Kalian kenapa Nyonya tidak marah kepada saya?"
Madam Desy tidak bisa membendung air matanya yang terus saja membanjiri wajahnya. Bibirnya tak mampu berucap karena ia merasa telah bertemu dengan anak kandungnya sendiri yang sudah puluhan tahun berpisah dengannya.
"Kenapa Nyonya?" Ray terus mendesak agar Madam Desy menjawabnya. Sedangkan Arga sudah bersiap untuk menarik pelatuk pistol itu ke arah Ray.
Namun, disaat yang bersamaan tiba-tiba datang seorang pria tua dan berkata dengan berteriak. "Karena dia adalah Ibu kandung Anda, Tuan muda!"
Seketika tembakan yang terlanjur Arga lakukan. Ia tembakkan langsung ke arah atas saat dirinya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Pak Cipto yang baru saja sampai di Mansion mewah itu.
...BERSAMBUNG...