
Ray sudah berada di meja makan, pria itu duduk dengan hidangan yang super mewah, kedua orang tua Ray sudah bercerai saat Ray masih berusia 2 tahun. Dugaan perceraian kedua orang tuanya adalah karena tidak ada restu dari kakek nenek Ray untuk Mama dan Papanya, dikarenakan saat itu Mama Ray bukanlah dari kalangan atas, Mamanya Ray adalah wanita sederhana yang merupakan seorang janda beranak satu.
Konon cerita, Mamanya Ray dinikahi oleh Tuan Shawn sudah memiliki seorang putra yang berusia 7 tahun. Sedangkan Tuan Shawn adalah seorang pengusaha muda kaya yang jatuh cinta kepada seorang janda. Itulah yang menyebabkan pernikahan Tuan Shawn tidak mendapatkan restu orang tua.
Tuan Shawn tetap memaksa untuk menikah dengan Mamanya Ray, mereka memutuskan untuk menikah diam-diam, hingga akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan yang diberi nama Raymond Shawn. Namun sayang, kebahagiaan mereka terbelah karena kedua orang tua Tuan Shawn mengancam akan melenyapkan putra dari istri anaknya, sehingga itulah yang menyebabkan perceraian mereka terjadi.
Istrinya Tuan Shawn terpaksa harus mengikuti permintaan mertuanya jika tidak ingin dirinya kehilangan anak dari suami pertamanya. Tuan Shawn tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya karena dirinya diancam tidak akan bisa mewarisi kekayaan dari kedua orang tuanya.
Maka dari itulah, sedari kecil Ray tidak pernah melihat wajah ibu kandungnya, karena pihak keluarga melarang untuk mengenang Mamanya Ray, sampai akhirnya Tuan Shawn meninggal dunia dan menyerahkan seluruh kekayaannya kepada Ray. Namun, hanya ada satu yang tidak didapatkan Ray, yaitu melihat wajah ibunya.
Pak Cipto, asisten yang sangat setia pada keluarga Shawn, pria yang berusia sekitar enam puluh tahun itu tentu saja adalah saksi hidup saat-saat kejadian yang memaksa Ray tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari sang Mama.
Pak Cipto menghampiri Ray yang saat itu sedang menikmati sarapan paginya.
"Ada apa Tuan muda memanggil saya?" suara pak Cipto cukup membuat Ray terkejut.
"Tolong pak Cip layani Lovely, dia masih mandi, setelah itu antarkan gadis itu pulang, kalau bisa berikan dia seorang bodyguard, aku tidak ingin ada salah satu temannya mendatangi dia, Monica. Iya, jangan sampai gadis itu mendekati Lovely!"
"Maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi apa itu tidak terlalu berlebihan, bukankah Tuan muda dan Lovely tidak ada hubungan yang serius, ya ... kecuali semalam." Ucapan pak Cipto rupanya membuat Ray menyunggingkan senyumnya. Ia tertawa kecil kepada asistennya yang setia itu. Seolah pak Cipto tahu apa yang sudah terjadi pada sang majikan.
"Semalam! Iya, itu kebodohanku ... hanya sebuah kesalahan yang tidak disengaja, Pak. Aku tidak tahu jika itu adalah Lovely bukan Cinta. Well, aku tidak mau memperpanjang masalah ini, semuanya sudah berlalu, dan diantara kami tidak akan pernah ada ikatan apapun,"
Mendengar pengakuan dari Ray, pak Cipto menggelengkan kepalanya. "Tidak disengaja? Tapi Anda sudah ada niatan, Tuan muda. Terlepas dari gadis itu bukanlah Non Cinta tapi ternyata Lovely, tetap saja Anda sudah melakukan kesalahan. Saran saya, sebaiknya Anda jangan lari dari tanggung jawab, jadilah pria sejati, Tuan. Gadis itu, Tuan bawa sendiri ke rumah ini, apa Anda tidak mengasihi dia?"
Sejenak, Ray berpikir. Mungkin apa yang dikatakan oleh pak Cipto memang benar, tapi dirinya masih punya rasa untuk membalas sakit hatinya kepada Arga.
"Tidak bisa, Pak. Aku tidak bisa," jawab Ray sambil melanjutkan makannya.
"Aneh, Anda tidak mau bertanggung jawab, tapi Anda mencemaskan gadis itu? Untuk apa Anda perhatian kepada Lovely hingga berencana untuk memberikannya seorang bodyguard, apa Anda tidak sadar dengan perasaan Anda, Tuan?" Pak Cipto memperhatikan ekspresi wajah Ray yang tampaknya salah tingkah.
...BERSAMBUNG...