Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Salah faham


"Mama?"


Ray mengerutkan keningnya sambil menatap liontin bertatahkan huruf timbul dengan bertuliskan nama Alvaro.


"Alvaro itu siapa?" tanya Ray menyelidik.


Pak Cipto menghela nafasnya, mencoba mengatakan sesuatu yang selama puluhan tahun ini ia simpan sendiri. Seharusnya ia mengatakannya sedari dulu. Tapi karena adanya tekanan dari Kakek Ray, maka pak Cipto memilih diam. Setelah kepergian Papanya Ray, Faruk Shawn. Pak Cipto lah yang merawat rumah peninggalan majikannya itu. Kini, tidak ada lagi yang bisa membuat pak Cipto untuk diam. Setidaknya ia harus mengatakan kepada Ray jika sang Mama masih hidup dan ada di kota yang sama.


"Alvaro, nama itu Mama Anda yang berikan. Beliau sangat menyayangi Anda, Tuan muda. Kalung ini ia berikan kepada kedua putranya."


Spontan Ray terkejut. Dua putra? Itu artinya ia memiliki saudara lagi?


"Maksud pak Cipto?" Ray menatap dalam-dalam wajah renta itu. Pria tua yang bekerja di rumah itu selama berpuluh-puluh tahun.


"Iya, Tuan muda. Nama itu Mama Anda yang memberikan kepada seorang bayi laki-laki tampan, sebelum nama itu diganti dengan nama Raymond Shawn. Anda bukanlah anak satu-satunya dari Mama Anda. Mama Anda memiliki seorang anak laki-laki yang berusia 7 tahun saat Anda lahir ke dunia. Sebelum menikah dengan Papa Anda. Mama Anda sudah memiliki seorang anak, dia adalah Kakak Anda. Nyoya sengaja memberikan kalung ini untuk kalian berdua anak-anaknya. Beliau sangat menyayangi kalian berdua." penjelasan pak Cipto tentu saja membuat Ray tahu jika dirinya memiliki saudara seibu.


Tapi, rupanya penjelasan pak Cipto tidak membuat hati Ray terbuka. Pengaruh besar dari keluarga almarhum Papanya ternyata membuat Ray tidak semudah itu percaya. Sang Kakek mengatakan jika Ibunya meninggalkan rumah dengan sengaja. Sang Mama lebih memilih karirnya daripada harus mengurus cucunya, dan itulah yang menyebabkan Ray benci kepada Mamanya.


"Tidak usah membicarakan Mama lagi, Pak. Dia sangat jahat. Dia udah tega meninggalkan aku sejak kecil. Ibu macam apa dia, Ray benci padanya. Ray sudah menganggapnya mati."


Mendengar ucapan dari Ray, Pak Cipto benar-benar bersedih. Ternyata, Ray sudah terpengaruh oleh hasutan kakeknya. Sungguh itu sangat ironis.


"Tidak, Tuan muda. Anda salah besar, Mama Anda tidak seperti yang Anda pikirkan. Dia wanita yang sangat baik. Papa Anda menikahi Mama Anda karena ketulusan hatinya, meski ditentang oleh kakek Anda. Tuan Faruk tetap bersikeras menikah dengan Nyonya Desy." ungkap Pak Cipto berbicara sejujurnya.


"Anda salah faham, Tuan muda. Bukan seperti itu ceritanya. Astaga, Tuan besar pasti yang mengatakan itu pada Anda. Itu semuanya tidak benar. Justru Tuan besar lah yang sengaja memisahkan Anda dengan Mama Anda. Mereka mengancam Mama Anda dengan ...!" belum selesai pak Cipto melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba saja terdengar dering telepon yang berada di atas meja kerja Ray.


Ray menoleh ke arah telepon dan segera mengangkatnya. "Ya halo!"


Terpaksa, Pak Cipto menghentikan pembicaraan nya karena Ray tengah menerima telepon.


"Maaf, Tuan Ray. Kami melihat Non Lovely keluar dari rumah sejak sore, kami melihatnya sedang menuju ke sebuah taman kota. Sampai sekarang dia belum pulang."


"Apa dia sendirian?"


"Iya, Tuan."


"Oke, awasi terus! Aku akan segera ke sana."


Ray menutup teleponnya dan segera pamit keluar.


"Aku pergi dulu, Pak. Nanti kita lanjutkan lagi." Ray mengantungi kalung itu pada saku bajunya. Setelah itu dia pergi keluar. Pak Cipto hanya bisa menatap sang majikan yang keluar dari ruangan itu.


"Semoga Anda bisa segera bertemu dengan Nyonya Desy, Tuan muda. Tapi, apa Nyonya Desy bisa mengenali putranya?" pikir pak Cipto.


...BERSAMBUNG ...