
Ray pun bergegas untuk pergi ke taman kota yang sudah anak buahnya tunjukkan. Di mana Lovely saat ini berada. Benar saja, Lovely saat itu sedang duduk di sebuah bangku panjang sambil melihat cahaya kelap-kelip lampu kota di malam hari. Agaknya tempat itu adalah tempat yang nyaman, Lovely bisa sedikit terhibur. Ia bisa membebaskan pikirannya dari segala penat yang melanda.
Selang beberapa menit, mobil Ray tiba di taman kota itu. Anak buahnya menunjuk ke sebuah arah di mana Lovely berada saat ini. Gadis itu terlihat menyandarkan punggungnya sembari menyilangkan kedua tangannya karena udara malam itu terasa mulai menusuk kulit.
Ray berjalan menghampiri Lovely, sejenak ia berdiri terdiam di belakang Lovely yang belum menyadari jika Ray datang. Pria itu melepaskan jaketnya dan segera menutupi tubuh Lovely dengan jaket itu, "Udara malam hari kurang bagus untuk kesehatan!"
Sontak Lovely menoleh ke arah belakang, gadis itu begitu terkejut saat melihat Ray yang sering memberikan jaket untuknya.
"Ray!!" Tak bisa dipungkiri, manik mata gadis itu terus menatap Ray yang sedang beranjak duduk di sampingnya.
Ray pun mulai duduk bersama Lovely. Sejenak ia mengedarkan pandangannya, dilihatnya pemandangan kota yang indah, pantas saja Lovely sangat betah duduk di sana.
"Ngomong-ngomong, di sini indah juga, ya! Pantas saja kamu tidak mau pulang." Ucap Ray sambil menoleh ke arah Lovely.
"Untuk apa kamu ke sini?" sahut Lovely yang tidak membalas pandangan Ray.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu untuk apa aku ke sini! Tapi, ada yang bilang kamu sedari sore datang ke tempat ini. Harusnya kamu sudah pulang ke rumah. Anak gadis tidak boleh pulang malam-malam, nanti ada Kalong yang gondol kamu!" ucapan Ray nyatanya tidak membuat Lovely tertawa. Justru gadis itu semakin bersikap dingin.
"Masa bodo. Aku nggak perduli lagi dengan diriku. Tidak ada yang menyayangiku lagi, jadi untuk apa aku harus menyayangi diri ini. Hidupku sudah hancur, hatiku terlanjur terluka," kata-kata yang terucap dari bibir gadis itu, sungguh membuat Ray merasa bersalah. Apa karena dirinya Lovely bisa berkata seperti itu. Bisa jadi.
"Maafkan aku! Apa luka itu aku yang membuatnya? Apa kamu menyesali kejadian malam itu?" sahut Ray.
"Sedikit?" Ray mengulang lagi jawaban Lovely untuk bertanya.
"Iya ... sedikit penyesalan, kenapa aku tidak menyadari jika aku masih di jalur aman, selama ini aku terkecoh dengan cinta semu. Cinta sesama jenis yang seharusnya tidak perlu aku masuk ke dalamnya."
Ray tersenyum saat Lovely berkata seperti itu. Itu artinya sang gadis menikmati malam bersamanya.
"Sudah kuduga, lama-lama kamu pasti sadar. Sekarang katakan, terlepas dari hubungan kita, apa yang menyebabkan kamu sangat membenci seorang pria? Apa kamu pernah merasakan sebuah trauma di masa lalu?" pertanyaan Ray entah kenapa membuat Lovely tiba-tiba menjatuhkan air matanya. Tetesan bening itu jatuh ke atas telapak tangannya.
"Kau menangis? Emm ... maaf, mungkin pertanyaanku terlalu membuat hatimu tersinggung. Ya sudah, lupakan!" Ray memberikan sapu tangan untuk Lovely agar gadis itu mengusap air mata yang terlanjur membasahi wajahnya.
"Aku diperkosa!" Lovely menjawab sembari mengusap air matanya.
Sebuah jawaban yang sangat membuat Ray membulatkan matanya. Pria itu tidak menyangka jika sang gadis mendapatkan perlakuan seperti itu entah siapa yang melakukannya.
"Katakan, siapa laki-laki itu?" Ray sangat penasaran dengan pria yang tega melakukan hal sekeji itu kepada Lovely.
...BERSAMBUNG ...