Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Aku takut sekali


Wajahnya berkeringat, tidak biasanya Cinta bermimpi buruk tentang sang Mama. Entah kenapa wajah sang Mama muncul setelah puluhan tahun mereka berpisah.


"Kemari! Kamu yang tenang. Semuanya akan baik-baik saja." Arga memeluk istrinya. Membenamkan wajah sang istri untuk bersandar pada dadanya agar wanitanya itu tenang.


"Aku takut sekali. Apa ini sebuah firasat buruk, jika Mama dalam bahaya. Selama puluhan tahun aku tidak pernah bermimpi tentang Mama, tapi kenapa tiba-tiba Mama datang, seolah dia meminta pertolongan. Aku takut sekali." suara Cinta begitu gemetaran, baru kali ini Arga melihat istrinya begitu khawatir.


"Aku mengerti perasaanmu, mengkhawatirkan seseorang dan merindukannya adalah sesuatu yang sangat menyiksa. Bukankah kamu sering berhubungan dengan Lovely. Coba tanyakan kepadanya tentang kabar Mama kalian!" seru Arga.


"Kakak? Sudah lama aku tidak menghubunginya, mungkin dia juga sudah melupakan adiknya. Apalagi Mama, bahkan apa Mama merindukan aku pun aku tidak pernah tahu. Sejak Mama menikah dengan pria itu, semuanya berubah. Mama tidak pernah ngasih kabar untukku hanya sekedar say hay pun belum pernah. Tapi kenapa justru Mama yang hadir dalam mimpiku. Seolah-olah dia membutuhkan pertolongan." Cinta mengusap bulir bening yang terjatuh dari sudut matanya.


Dering telepon yang tiba-tiba mengagetkan keduanya. Arga menoleh ke arah samping. Satu tangannya mengambil benda pipih miliknya yang tergeletak di atas meja nakas. Sedangkan satu tangannya masih memeluk sang istri dengan erat.


"Halo!"


Arga mengangkat telepon, ia mendengarkan secara seksama suara yang berbicara dibalik telepon genggam itu. Wajahnya yang semula biasa-biasa saja, kini berubah menjadi wajah serius dan seolah dirinya mulai geram.


"Tunggu aku di kantor, aku akan segera ke sana, ini pasti ada yang tidak beres!"


Arga mendengus kesal. Bisa-bisanya ia mendapatkan kabar buruk dari sang asisten. Bahwa ada hacker yang berhasil mencuri sebagian besar data-data perusahaan.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu panik seperti itu?" tanya Cinta yang memperlihatkan raut wajah sang suami yang mulai mencemaskan sesuatu.


"Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kamu di sini saja, aku tidak akan lama, hmm!" ucapnya kepada sang istri. Arga bangkit, ia ambil bajunya yang berserakan di atas sofa.


Tubuh atletis itu mulai tertutup oleh kemeja putih. Pria itu masih tampak gagah meskipun ia baru saja bangun tidur. Cinta menatap sang suami sembari bersembunyi di balik selimut.


Arga membalikkan badannya, sedikit merundukkan punggungnya dan berkata kepada sang istri. "Aku pergi dulu, ada seseorang yang ingin menghancurkan perusahaanku. Tapi tidak semudah itu mereka bisa menjatuhkan Arga. Semuanya pasti baik-baik saja."


"Jangan lama-lama! Aku nggak bisa tidur kalau kamu nggak ada di sini, apalagi sekarang masih jam satu. Besok saja lah perginya aku masih takut, Sayang!" Cinta menahan sang suami untuk tidak meninggalkannya malam ini.


"Aku tidak akan lama, aku harus cepat datang ke kantor. Ini sangat genting, jika aku tidak datang sekarang. Masalah ini akan semakin runyam. Aku harus segera menghentikan semua ini sebelum terlambat." Arga mencium kening sang istri dan setelah itu Ia pun meninggalkan Cinta di dalam kamar.


Cinta tidak bisa menahan suaminya. Karena bagaimanapun juga Arga memiliki banyak urusan yang lebih penting daripada sekedar untuk menemaninya. Ini adalah konsekuensi nya menjadi istri seorang Bos besar.


Tatapan bak mata elang itu pun mulai menghilang di balik pintu, Cinta menghela nafasnya, sejenak Ia melihat telepon genggam miliknya yang berada di atas meja.


"Kak Lovely, ini dia!"


Cinta menekan dan menghubungi nomor sang kakak, berharap dirinya bisa tahu bagaimana kondisi sang Mama saat ini.


Sedangkan di tempat lain, rupanya Lovely tertidur dalam pelukan Ray. Mereka masih berada di dalam mobil, pria itu membiarkan Lovely berada dalam pelukannya, membuatnya nyaman karena Ray tahu jika Lovely sedang tidak baik-baik saja.


Tiba-tiba saja, Ray mendengar suara ponsel Lovely berbunyi. Ponsel yang diletakkan oleh Lovely di atas dashboard mobil itu bergetar dengan mengeluarkan ringtone suara tangis bayi.


"Anak siapa yang sedang menangis?" pikir pria itu sambil menggerak-gerakkan bola matanya. Benar saja, rupanya sorot mata Ray tertuju pada benda pipih dengan casing berwarna pink itu.


Ia melihat Lovely sudah tertidur. Karena suara tangis bayi itu tidak jua membuat Lovely bangun. Akhirnya Ray terpaksa hendak mematikan suara itu. Ray mengambil ponsel Lovely dan ia sangat terkejut ketika melihat nama Cinta yang sedang melakukan panggilan video call.


"Cinta??"


Secara tak sengaja, suara Ray mengejutkan Lovely yang sedang tertidur. Gadis itu membuka matanya pelan dan melihat Ray yang sedang membawa ponselnya.


"Cinta!!" Lovely segera mengambil ponselnya dari tangan Ray. Sementara itu Ray terlihat masih tegang. Ia pun berusaha untuk tidak terlihat gugup ketika Lovely ditelepon oleh sang adik.


Lovely membuka percakapannya dengan sang adik.


'Deg'


"Shiiit! Bagaimana kalau Cinta tahu jika aku sedang bersama Lovely?"


...BERSAMBUNG ...


*


*


*