
Terlalu perih Lovely mengingatnya. Gadis itu semakin sesenggukan kala ia teringat akan kejadian yang benar-benar membuatnya hilang arah hidup. Lovely yang dulu manja berubah menjadi gadis yang nakal dan susah diatur.
Ray tak tega melihat Lovely yang begitu bersedih. Pria itu memberanikan diri untuk memeluk Lovely, meskipun sebenarnya ia juga tampak kikuk.
"Sudah-sudah, jangan menangis lagi. Jika kamu tidak bersedia untuk mengatakannya. Aku tidak akan memaksa."
Lovely menangis dalam pelukan Ray, menumpahkan segala rasa penat dan kebimbangannya selama ini. Seolah pelukan Ray terasa begitu nyaman baginya.
Tiada hujan tiada angin. Tiba-tiba seorang gadis datang dan mencoba menarik tangan Lovely dari pelukan Ray.
"Lovely, apa-apaan kamu. Jauhi pria itu! Kamu jangan percaya dengan mereka lagi. Pantas saja kamu menjauhiku. Jadi ini kelakukanmu!" Kata-kata itu terucap dari bibir seorang gadis bernama Monica. Iya, dia adalah Monica, gadis tomboi sahabat Lovely yang merasa sangat menyayangi Lovely.
Spontan Lovely melepaskan tangannya dari genggaman tangan Monica. "Lepaskan, apa-apaan sih kamu, Mon. Udah ya diantara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku sekarang adalah pacarnya Ray. Iya, sekarang kami berpacaran. Iya kan, Ray!" sahut Lovely sembari menyambar tangan Ray dan bergelayut mesra dengannya.
Ray pun mengerti maksud Lovely. Ia pun mendukung akting Lovely agar Monica bisa melepaskan Lovely secepatnya. Tangan Ray melingkar pada pinggang Lovely dan menarik dengan kuat ke arah dekapannya.
"Lovely benar, kami berpacaran. Jadi, sebaiknya kamu sebagai sahabat yang baik. Alangkah baiknya kamu mendoakan hubungan kami berdua, supaya hubungan kami bisa sampai ke jenjang pernikahan. Bukan begitu, Sayang!" Ray berkata sembari mendaratkan ciuman pada kening Lovely.
Spontan Lovely membulatkan matanya ketika bibir halus Ray mengecup keningnya dengan lembut.
"Sialan nih orang, curi-curi kesempatan saja!"
"Brengsek kamu Lovely! Kamu sudah mengkhianati cintaku, apa kamu lupa siapa yang sudah mendengarkan setiap penderitaanmu gara-gara pria brengsek itu. Siapa juga yang sudah menemani kesedihanmu saat kamu tidak dipedulikan oleh Mamamu, dan siapa lagi yang bisa memuaskanmu jika bukan aku! Apa laki-laki itu? Bukan, tapi aku!" sahut Monica sambil menunjuk ke arah Ray.
"Cukup, Monica! Iya, dulu aku memang membutuhkanmu, aku butuh dukungan seorang sahabat. Aku butuh didengarkan. Tapi apa? Aku justru terjebak dalam hubungan terlarang, perasaan yang seharusnya tidak boleh kita miliki. Kamu adalah sahabatku, seharusnya kamu selalu mendukungku dan memberikan solusi. Bukan justru menjatuhkan aku ke dalam dunia hitam sepertimu." Lovely membantah ucapan Monica. Gadis itu tidak terima jika Lovely berkata demikian.
"Hei Lovely, jadi kamu sudah melupakan malam-malam kita, kamu sudah lupa semuanya? Ingat, Sayang. Kita pernah bercinta dan kamu sangat menyukainya ...!" Monica berusaha mengingatkan Lovely tentang hubungan terlarang mereka.
"Stop! Jangan panggil aku Sayang lagi. Panggilan itu terdengar begitu menjijikkan di telingaku. Aku sudah lupa semuanya, anggap saja yang pernah terjadi di antara kita itu hanyalah mimpi. Dan sekarang aku sudah terbangun dari mimpi-mimpi itu. Karena sekarang, aku sudah menemukan kenikmatan yang sebenarnya. Iya, bersamanya aku bisa merasakan kenikmatan sejati. Pria ini sudah membuatku mabuk kepayang. Benarkan, Sayang!"
Lovely berkata sembari meraih bibir Ray dan menciumnya. Ia ingin meyakinkan kepada Monica jika dirinya sudah berubah. Tentu saja Ray teramat senang, ia pun dengan semangat mendukung Lovely untuk berpisah dengan pasangan lesbian nya.
"Ini gila, Lovely ternyata sangat lincah."
Keduanya berciuman di depan Monica. Gadis itu tampak mengepalkan kedua tangannya melihat kemesraan Lovely dan Ray.
Karena tidak tahan melihat keduanya berciuman begitu mesra. Akhirnya Monica pergi meninggalkan mereka begitu saja. Namun, rupanya Lovely dan Ray masih terbuai dengan ciuman pura-pura itu.
"Shiiit! Kenapa aku jadi suka menciumnya!" batin Lovely yang memperat pelukannya.
...BERSAMBUNG ...