
Hari berganti hari. Kebersamaan Arga dan Cinta kian mesra. Tentu saja itu membuat Arga semakin bersemangat untuk bekerja, pria yang terkenal dingin di luar, dengan tatapan acuh seolah tak perduli di sekelilingnya. Akan sangat berbeda jika dirinya berada di dalam rumah. Sosok sangar dan kejam tidak akan ada lagi ketika Arga berhadapan dengan Cinta.
Ibarat mpus meong yang selalu manja saat bersama sang istri. Pemandangan itu tertangkap jelas oleh Madam Desy yang tak sengaja melihat Arga memeluk istrinya saat Cinta sedang memasak di dapur. Sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sang istri, Arga begitu nyaman dan seolah Cinta tidak merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Astaga nih anak, bukannya bantuin istrinya malah nyusahin, dasar emang bener-bener." Madam Desy pun masuk ke dalam dapur dan terlihat menyilangkan kedua tangannya, sambil berdiri di belakang sang anak yang sedang bergelayut manja disaat Cinta sedang memasak capcay untuk sang suami. Wanita itu masih diam tanpa suara. Seolah merasa tidak ada yang melihat keduanya, Arga pun mulai menggoda istrinya dengan memainkan buah dada sang istri dengan merremasnya pelan.
"Ih jangan gitu ah, aku sedang memasak, Sayang!" Cinta mulai merasa tidak nyaman karena sensasi geli saat tangan Arga menyusup ke dalam bra milik sang istri.
"Hmm ... nanti aku minta ini, ya?" sahut Arga dengan suara seraknya.
"Minta apa? Capcay, iya ini kan aku masak buat kamu!" sahut Cinta sambil terus mengaduk capcay yang sedang ia masak.
"Bukan itu!"
"Memangnya apa? Jangan aneh-aneh deh!" Cinta mulai menggigit bibir bawahnya saat tangan jail Arga memilin pucuk gunung kembar itu.
"Ini ... !" Suara Arga terdengar begitu lirih sembari memutar-mutar buah Cherry kesukaannya itu.
Karena Cinta tidak tahan geli dan sedikit menggelitik, ia pun segera mengiyakan permintaan sang suami. Mengingat dirinya sedang memasak, tidak mungkin dirinya merasakan dalam-dalam sentuhan Arga yang cukup membuat bulu kuduknya berdiri.
"Iya iya. Sekarang lepaskan dulu. Nanti dilihat orang," ucap Cinta.
Arga menegakkan kepalanya dan memutar badan sang istri menghadap dirinya. "Aku mau dicium dulu oleh istriku, sun dong!" Arga memajukan wajahnya agar sang istri segera mencium pipinya.
"Hooo ... ada Madam, no no nggak mungkin dong aku cium dia di sini, malu!" Cinta menatap wajah ibu mertuanya yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Ayo dong dicium, kok kamu malah bengong sih, setelah itu aku akan pergi, sepertinya Mommy pasti mencariku, biarkan dulu Mommy menunggu." Arga masih mendekatkan wajahnya pada sang istri, sedangkan Cinta cuma bisa memberikan kode kepada sang suami agar menoleh ke belakang.
"Itu ... ngadep sana!" seru Cinta sambil melihat ke arah belakang sang suami.
"Ita itu ita itu apa sih, sudah fokus dan cium suamimu. Aku nggak mau menunggu lama-lama, bisa-bisa kayak jemuran nggak kering-kering nunggu kamu cium. Atau nggak biar aku yang cium!" Arga spontan mulai mencium istrinya dengan memonyongkan bibirnya. Seketika Cinta menyebut nama sang mertua sambil menutupi bibir sang suami yang hampir saja menyentuh pipinya.
"Ah Madam, Madam mencari siapa?"
Seketika Arga terkesiap dan menoleh ke belakang. Bibir moncongnya mulai hilang berganti senyum cengar-cengir saat melihat wajah sang Mommy yang sedang berdiri di belakangnya.
"Mommy, sedang apa Mommy di sini?" Arga berpura-pura polos.
"Sedang ronda, kali-kali aja lihat tukang rayu yang sedang beraksi dengan rayuan gombalnya." Balas Madam Desy dengan tatapan matanya yang tajam. Karena sedari tadi Madam Desy sedang mencari keberadaan sang putra untuk membicarakan tentang sesuatu yang penting.
Arga terlihat salah tingkah, ia pun garuk-garuk kepalanya dan mencoba bersikap masa bodo. Tapi tidak bisa dipungkiri jika pria itu terlihat begitu malu tatkala dirinya sedang merayu istrinya.
Cinta cuma bisa tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat merah merona.
...BERSAMBUNG...