
Tak tahan melihat pemandangan Cinta yang begitu mesra dengan Arga, Raymond pergi dari tempat itu juga. Hatinya begitu sakit, ia pulang ke Indonesia untuk kembali kepada Cinta dan menyatukan cinta mereka. Tapi nyatanya, Cinta justru mendua. Perasaan pria itu benar-benar terluka. Ia pun melampiaskan kekesalannya dan pergi ke sebuah Bar di kota itu.
Ray memesan sebotol bir dan ia minum sepuasnya, ia ingin melupakan semua yang ia lihat hari ini.
"Aku tidak terima, aku tidak suka dengan semua ini, aku ingin melihat mereka menderita. Cinta! Aku tidak akan biarkan kamu hidup bahagia dengan pria itu, aku pasti merebutmu kembali, dan Arga dia tidak boleh menyentuhmu, pria itu harus aku hancurkan." Ray meracau tak karuan dengan tatapan matanya yang penuh kebencian.
Sudah beberapa gelas bir ia habiskan, hingga akhirnya Ray perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Ray mabuk, keadaan Ray rupanya mendapatkan perhatian dari seorang wanita yang saat itu sedang bersama teman perempuannya.
"Bukannya itu, Ray?" pikir Lovely saat dirinya dugem bersama cewek Buci nya yang berdandan ala-ala pria macho yang merupakan sahabatnya sendiri, tapi masih memiliki buah dada normal seorang wanita meskipun kelihatan kecil.
"Sebentar, aku mau ke sana!" pamit Lovely yang sedang mendekati Ray yang sedang duduk di meja sebelah.
"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Monica, cewek pasangan Lovely.
"Ada temenku, kamu tunggu di sini!" sahut Lovely yang terus menghampiri Raymond.
"Jangan lama-lama!" Monica berkata sembari menarik tangan Lovely. Lovely tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Monica melepaskan tangan Lovely dan membiarkan Lovely pergi, tapi matanya terus memantau Lovely yang sudah dianggapnya sebagai ceweknya itu.
Lovely adalah Kakak kandung Cinta, gadis itu berparas cantik dan memiliki tubuh yang indah, tapi sayang dia sudah terjerat dalam pergaulan yang salah, ia berubah orientasi seksuaalnya sejak kejadian yang pernah menimpa dirinya beberapa tahun yang lalu.
Lovely terus berjalan mendekati Ray dan melihat kondisi pria itu. Lovely memperhatikan Ray yang saat itu pandangan matanya kosong, ia terlihat melihat ke satu arah, dengan beberapa kali meminum bir dari dalam botol.
"Raymond! Kamu ngapain di sini?" tanya Lovely sambil duduk di samping Ray.
Ray tidak mendengarkan ucapan Lovely, pria itu masih belum menyadari jika ada Lovely yang sedang duduk di sampingnya.
"Ray, hello! Kamu nggak denger aku bicara?" seru Lovely yang berusaha untuk memberi tahukan kepada Ray jika dirinya ada di samping mantan kekasih adiknya itu. Dentuman musik yang keras membuat Ray kurang mendengarkan seruan Lovely, ia pun tetap tidak menghiraukan ucapan Lovely yang berkali-kali memanggil dirinya. Apalagi Ray yang sudah terpengaruh oleh minuman beralkohol yang banyak ia masukkan ke dalam tubuhnya.
"Ihhh ... dasar budeg! Stres kali nih orang!" umpat Lovely yang mulai kesal. Karena tak juga mendapatkan respon dari Ray, Lovely pun beranjak pergi dan meninggalkan Ray sendirian.
"Ray!" seru Lovely sembari melihat ke arah Raymond.
Perlahan, Raymond menatap Lovely yang saat itu tercengang dengan apa yang dilakukannya. Hingga akhirnya keluar dari mulut Ray yang tentu saja membuat Lovely sangat terkejut. "Jangan tinggalkan aku, Cinta! Ikutlah denganku!" ucap Ray sambil menarik tangan Cinta dan membawanya pergi dari Bar itu. Raymond melihat Lovely seolah-olah dirinya melihat Cinta, karena wajah mereka memiliki kemiripan.
"Ray, kamu mau bawa aku kemana? Lepaskan!" pekik Lovely yang merasa tidak nyaman saat Ray membawa paksa dirinya. Namun, Ray tidak perduli. Pria itu tetap saja membawa Lovely untuk keluar dari Bar itu.
Tentu saja apa yang terjadi pada Lovely, membuat Monica kesal, cewek itu pun mengejar Lovely dan menahan Ray untuk membawanya pergi.
"Sialan! Ngapain dia sentuh pacarku!" kesal Monica sambil mengikuti Raymond.
Sesampainya di depan Bar, Ray tetap memaksa Lovely untuk masuk ke dalam mobilnya. Namun, rupanya dengan cepat Monica datang untuk menghadang Ray untuk membawa Lovely.
"Berhenti! Lepaskan dia!" seru Monica sambil menahan Ray dengan mendorong tubuh pria itu. Ray yang masih dalam kondisi setengah sadar, ia pun melihat seseorang yang sedang mendorong tubuhnya.
"Heh! Kamu siapa? Minggir! Aku tidak suka berhadapan dengan cewek," sahut Ray sambil menghadapi Monica yang bersikap layaknya seorang cowok yang melindungi ceweknya.
"Maaf, Bung! Jangan bawa cewek itu! Lepaskan cewekku!" ucap Monica yang seketika membuat Raymond tertawa terbahak-bahak.
"Hah? Apa kupingku nggak salah dengar? Dia cewekmu? Kamu itu perempuan Mbak, masa gua bertemu gua, menjijikkan! Sudahlah Minggir-minggir! Malas menghadapi cewek alay kayak kamu, dia cewekmu kek, temanmu kek! Aku tidak perduli. Tapi malam ini aku akan membawanya," ucap Raymond sambil masuk ke dalam mobil.
Tapi, saat Raymond masuk ke dalam mobil, Monica tiba-tiba menyerangnya dengan memukul Ray dari belakang, sontak Ray sebagai pria ia merasa geram dengan ulah Monica yang memukul kepalanya.
"Brengsek!" Spontan Ray membalikkan badannya dan menghadapi Monica yang rupanya gadis itu sangat berani melawan dirinya dengan ancang-ancang akan memukul Ray.
Bukan hal yang sulit untuk Raymond membuat Monica menyerah, dengan mudah pria itu menarik tangan Monica hingga terkunci di belakang punggungnya, kemudian Ray yang sudah bisa menguasai Monica, ia pun berbisik di telinga gadis tomboi yang sedang kesakitan itu.
"Lebih baik kamu pergi tinggalkan kami berdua, aku mau bersenang-senang dengannya, jangan diganggu!"
...BERSAMBUNG ...