
Lagi, Lovely dibuat bingung dan salah tingkah. Antara percaya atau tidak mendengar ucapan Ray itu.
"Nggak mungkin, Ray pasti bercanda. Dia hanya menghiburku, tidak mungkin dia mau menikahiku. Dia hanya mencintai Cinta. Lovely sadar, kamu itu hanya pelampiasan pria ini saja, dia tidak mungkin serius denganmu!" batin Lovely bergejolak. Ia tidak mungkin mengharapkan terlalu besar untuk dinikahi pria itu. Apalagi Ray pernah bilang jika dirinya tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan Cinta.
Tak berselang lama, mobil Ray berhenti di depan rumahnya. Pria itu turun dan membuka pintu mobil untuk Lovely.
Sejenak Lovely terdiam dan memperhatikan rumah yang pernah Ia datangi. Rumah di mana dirinya pernah menghabiskan waktu satu malam bersama Raymond Shawn.
"Ada apa? Kamu tidak turun?" seru Ray saat melihat Lovely yang masih ragu untuk turun dari mobil.
"Apa aku harus masuk ke dalam rumahmu lagi?" sahut Lovely sembari menautkan kedua alisnya.
"Kalau kamu tidak masuk ke dalam rumah, memangnya kamu mau tidur di dalam mobil? Sudah, jangan banyak bicara. Ayo turun!" titah pria itu sedikit memaksa. Namun, Lovely agaknya ragu untuk ikut masuk ke dalam rumah. Ia takut kejadian itu terulang lagi.
"Aku nggak mau, aku di sini saja!" ucapan Lovely benar-benar membuat Ray hilang kesabaran. Tanpa bicara sepatah katapun, Ray segera mengangkat tubuh Lovely untuk keluar dari mobil.
Spontan Lovely sedikit berteriak, bagaimana tidak Ray mendadak meraih tubuhnya dan mengangkat nya bak karung beras yang diletakkan pada pundak seorang Ray.
"Ray! Lepaskan! Apa-apaan sih kamu!" Lovely terus berontak sambil memukuli pundak Ray.
"Sudah diam! Jangan berisik!" sahut pria itu sambil membawa tubuh Lovely untuk masuk ke dalam rumahnya.
Pintu rumah terbuka otomatis. Ray masuk ke dalam dan ia pun segera menurunkan tubuh Lovely.
"Ihhh kenapa kamu bawa aku masuk? Aku kan ingin di dalam mobil saja!" protes Lovely sembari merapikan bajunya. Ray tidak mendengarkan omelan gadis itu. Ia pun segera memanggil pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Lovely.
"Pelayan!"
Datang seorang pelayan menghampiri Ray.
"Iya, Tuan!"
"Antar Nona ini ke kamar tamu, setelah itu ambilkan dia makanan dan baju. Kamu layani dia dengan baik. Karena Nona Lovely mulai sekarang akan tinggal bersama kita, faham!" ucapan Ray tentu saja membuat Lovely membulatkan matanya.
"Kamu akan aman selama tinggal bersamaku, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini. Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi. Sekarang pergilah ke kamarmu, setelah itu makan dan istirahatlah! Aku tidak mau kamu sakit," seru Ray sambil beranjak pergi ke kamarnya.
"Tapi Ray?"
"Apa lagi? Kamu mau ikut denganku ke kamar? Kalau kamu tidak keberatan aku dengan senang hati mengizinkannya!" balas Ray sambil menyunggingkan senyumnya.
Mendengar jawaban dari pria itu. Spontan Lovely menggelengkan kepalanya. "Nggak-nggak, aku nggak mau. Baiklah aku pergi bersama pelayan saja. Pergi sama kamu sama aja nambah dosa!" sahut Lovely sembari membalikkan badannya.
"Jika tidak ingin menambah dosa. Bagaimana kalau kita menikah saja? Pasti kamu tidak keberatan, kan?" ucapan Ray sontak kembali membuat Lovely tercengang.
"Menikah? Sudahlah Ray. Aku tidak mau mendengar gombalan lagi darimu. Permisi!"
Lovely pun pergi meninggalkan Ray dan mengikuti seorang pelayan yang akan menunjukkan di mana kamarnya. Ray pun memperhatikan kepergian Lovely.
Pria itu tampak tersenyum melihat ekspresi wajah Lovely saat dirinya berkata akan menikahi gadis itu.
"Aku serius, Lovely. Kamu pikir aku bercanda karena aku pernah bilang tidak mungkin menikah denganmu. Setelah aku pikir-pikir demi kebaikan kita berdua. Mungkin lebih baik kita menikah saja. Karena tidak mungkin lagi aku mengharapkan Cinta kembali. Dia sudah menjadi milik orang lain!" ucap Ray lirih.
Hingga tiba-tiba datang pak Cipto menghampiri Ray yang sedang memperhatikan kepergian Lovely.
"Tuan muda. Anda sudah pulang? Gadis itu? Kenapa dia ada di sini lagi? Saya harap Tuan muda tidak melakukan hal aneh-aneh lagi terhadapnya!" seru pak Cipto.
Ray pun tersenyum dan berkata. "Enggak lah, Pak. Saya tidak akan macam-macam lagi kepadanya, kecuali ...!" Ray tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kecuali apa, Tuan muda?" pak Cipto menangkap wajah serius dari majikannya.
"Kecuali jika dia sudah menjadi istriku!"
...BERSAMBUNG ...