Cinta Untuk Tuan Arga

Cinta Untuk Tuan Arga
Sepanjang nafas kita


'Tiiiiiinnnnnn' suara klakson yang cukup keras membuat keduanya terkejut.


Gara-gara suara klakson mobil yang cukup keras itu. Memaksa keduanya melepaskan ciuman masing-masing. Lovely tampak salah tingkah begitu juga dengan Ray yang terlihat mengusap bibirnya yang basah.


"Em ... mending aku pulang aja deh! Kayaknya lama-lama hawanya bikin merinding." Ucap gadis itu sambil memberikan jaket milik Ray.


"Ya ... gimana nggak merinding, kamunya yang bikin suasana mencengkam." sahut Ray sambil menerima jaket yang diberikan kepada Lovely. Tanpa sengaja sebuah benda terjatuh dari saku jaket yang diberikan oleh Lovely kepada Ray.


Lovely sungguh terkejut saat melihat benda mengkilat yang terjatuh di atas rumput di sebelah kakinya.


"Apa itu!" Lovely membungkukkan tubuhnya dan mengambil benda tersebut. Rupanya itu adalah sebuah kalung milik Ray yang diberikan oleh Pak Cipto waktu itu. Ray menyimpannya di saku jaket miliknya yang saat ini sedang dipinjamkan kepada Lovely.


"Kalung! Ini punyamu, Ray? Cantik banget kalungnya." tanya Lovely sambil memberikan kalung tersebut. Ia sangat menyukai kalung tersebut.


"Iya, apa kamu suka?" Ray balik bertanya.


Lovely melihat liontin yang ada di kalung itu. Sebuah nama yang cukup asing baginya.


"Alvaro! Siapa Alvaro?"


Lovely mengerutkan keningnya saat melihat tulisan pada liontin cantik itu.


"Ceritanya panjang." Ray berkata sembari duduk kembali di bangku tersebut. Lovely pun turut duduk bersama pemuda itu.


"Oh ya? Sepanjang rel kereta api, kah?" sahut Lovely yang membuat Ray tersenyum kecil. Ray menoleh dan berseloroh, "Sepanjang nafas kita di malam itu!"


Lovely spontan memukul-mukul lengan pria itu ketika pembicaraan mereka terdengar begitu intim.


"Ray, aku serius. Bisa nggak sih bercandanya."


"Iya iya. Serius nih!"


Mereka berdua kembali duduk di posisi masing-masing. Kemudian Lovely memberanikan diri untuk bertanya tentang nama yang tersemat pada kalung itu.


"Siapa Alvaro? Jika ini kalung punya kamu. Kenapa harus ada nama Alvaro, seharusnya nama Raymond yang diukir di sini. Ngomong-ngomong kalung ini estetik banget loh. Bahannya aja dari kualitas bagus banget. Apalagi ada nama yang dipahat begitu sempurna di sini. Ini bukan sekedar nama. Pasti orang yang memberikan kalung ini sangat menyukai nama Alvaro. Dia sangat menyayangi Alvaro."


Ucapan Lovely sontak membuat Ray mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Menurut ku itu hanya kalung biasa. Nggak ada yang spesial!" Ray berkata seolah pemberian sang Mama hanyalah sebuah kalung biasa seperti kalung-kalung yang lain pada umumnya.


Lovely menunjukkan kepada pemuda itu jika kalung itu bukan sekedar kalung biasa. Lovely seringkali melihat sang Mama yang memesan kalung yang bahannya sama dengan kalung milik Ray. Harganya pun sangat fantastis. Kalung yang dilapisi emas murni dengan tatahan unik pada liontinnya, apalagi liontin itu terdapat beberapa intan yang disematkan. Terkesan sangat mewah dan elegan.


"Kalau aku boleh tahu, siapa yang sudah memberikan kalung ini untukmu?" pertanyaan Lovely terdengar lebih penasaran.


Ray menghela nafasnya dan akhirnya pemuda itu berkata jujur. "Aku dapatkan itu dari Pak Cipto, asistenku di rumah. Katanya itu dari Mama. Tapi aku tidak perduli, bagiku Mama sudah mati. Jadi untuk apa aku mengenang Mama lagi. Dia sudah meninggalkan aku sejak kecil, wanita itu lebih memilih karirnya daripada harus mengurus putranya sendiri." Pengakuan Ray agaknya membuat Lovely tersenyum.


"Aku rasa kamu salah, Ray. Mamamu sangat menyayangimu. Ini adalah simbol kasih sayangnya. Kau tahu, bahan kalung ini tidak sembarangan didapatkan, kita harus pesan khusus dari luar negeri untuk mendapatkan kalung semewah ini." Ungkap Lovely menjelaskan.


"Dari mana kamu tahu? Nggak usah pengaruhi aku untuk mengingat Mama. Aku sudah tidak mau lagi mengingatnya. Bahkan wajahnya saja aku tidak tahu. Lebih baik seperti itu daripada aku tahu dan ternyata wajahnya mirip sekali denganku. Coba pikir, apa aku harus protes kepada Tuhan supaya tidak membuat mukaku mirip Mama!"


Sejenak Lovely menepuk jidatnya mendengar ucapan dari Ray. Spontan gadis itu menyentuh dahi Ray. Berharap pemuda itu tidak sedang sakit.


"Nggak apa-apa, normal-normal aja!" ucap Lovely setelah menyentuh dahi Ray yang teraba dingin.


"Nggak usah sentuh-sentuh! Entar merangsang lagi!" jawaban datar dan cuek keluar dari bibir pemuda itu.


Lovely pun hilang kesabaran menghadapi sifat Ray yang membuatnya memijit pelipisnya.


"Hello pak Raymond Shawn, kamu pikir kamu itu lahir dari pohon pisang. Ya kali wajahmu mirip pisang. Ya pastilah wajah kamu mirip Mama kamu. Nggak usah lebay deh, masih untung mirip Mama kamu, daripada mirip tetangga sebelah. Ada-ada aja sih nih cowok!" umpat Lovely yang mulai terlihat kesal.


Spontan Ray terperanjat saat Lovely mengatakan hal seperti itu. "Jangan bicarakan pisang. Mentang-mentang sekarang doyan pisang. Asal kamu tahu ya, aku tuh nggak punya tetangga. Yang ada tuh cuma tembok di samping rumah. Nih cewek kalau ngomong asal jiplak aja!" sahut Ray yang semakin membuat Lovely gemas ingin mencubitnya.


"Raymond Shawn!!! Kamu tuh ya, pantesan aja mirip tembok. Ngomong sama kamu tuh capek sendiri aku." Lovely memberikan kembali kalung itu kepada Ray. Setelah itu ia pun bergegas untuk pergi dan pulang.


"Mau kemana kamu?" seru Ray saat melihat Lovely beranjak pergi.


"Pulang!"


Lovely terus berjalan menuju keluar taman. Namun, dengan cepat Ray mengejarnya dan menghadang langkah Lovely.


"Apa lagi, Tuan tembok!" sahut Lovely saat Ray tiba-tiba berada di depannya. Ray mengeluarkan kalung itu lagi dan memakaikannya di leher Lovely.


"Loh kenapa begini?" Lovely bingung dengan apa yang dilakukan oleh Ray kepadanya. Saat pemuda itu memakaikan kalung itu pada lehernya.


"Daripada nggak kupakai, lebih baik kamu aja yang pakai. Katanya kamu suka, ya udah ambil saja. Aku berikan ini untukmu!" ucap pria itu tanpa beban.


"Tapi, Ray. Ini kalung punya kamu. Kalung ini pemberian Mamamu. Nggak mungkin aku memakainya!" ucap Lovely setelah Ray memakaikan kalung itu pada lehernya.


"Tidak apa-apa, aku percaya kok sama kamu. Kamu pasti bisa menjaganya dengan baik. Anggap saja aku titip kalung itu padamu."


Lovely menatap wajah pria itu dalam-dalam, sungguh terlihat pada manik matanya, sebuah kerinduan yang teramat dalam untuk seseorang.


"Ray kau tidak bisa menyembunyikan kesedihanmu, aku tahu sebenarnya kamu sangat merindukan Mamamu. Aku akan menjaga kalung ini. Karena aku sangat yakin suatu hari nanti kamu akan tahu betapa Mamamu sangat menyayangimu!"


...BERSAMBUNG ...