
"Iya, katakan sekali lagi, Nak!"
"Mama, Mama!!"
Madam Desy langsung memeluk Ray penuh kerinduan. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya selama bertahun-tahun dirinya menahan rindu terhadap sosok bayi kecil yang ia tinggalkan saat masih berusia 6 bulan.
Kini, ia bisa menyentuh lagi putranya yang sudah beranjak dewasa. "Alvaro putraku, kamu adalah putraku!" Madam Desy mencium pipi dan kening putranya, mencurahkan segala kerinduannya kepada putra keduanya itu.
"Maafkan Mama, Nak! Maafkan aku!" ucap wanita itu dengan penuh keharuan.
"Mama tidak perlu minta maaf, selama ini Ray selalu menganggap bahwa Mama sudah tidak ada, Ray yang seharusnya minta maaf, Ray sangat bahagia akhirnya Ray memiliki ibu!" pengakuan Ray terlalu menyayat hati Madam Desy. Ia tidak bisa bayangkan saat Ray ia tinggalkan di usianya yang masih bayi. Apalagi saat itu Ray kecil masih meminum ASI eksklusif darinya.
Serasa dunia Madam Desy luluh lantak mendengar pengakuan dari sang anak. Hatinya hancur berkeping-keping, pasti setiap malam Ray menangis mencari dirinya. Namun bagaimana lagi. Madam Desy tidak bisa berbuat apa-apa, jika tidak nyawa putra yang lainnya akan terancam. Yang tak lain adalah Arga.
Tiba-tiba saja, suara Arga memaksa Madam Desy untuk melepaskan pelukannya.
"Apa cuma dia saja yang Mommy peluk? Lalu aku?"
Seketika baik Madam Desy ataupun Ray menatap wajah sedih Arga yang tidak bisa dipungkiri jika laki-laki itu sedang menangis juga.
Arga ikut bersimpuh di samping Madam Desy dan meminta maaf kepada Ray.
"Aku minta maaf kepadamu, Adikku! Maukah kamu memaafkan semua kesalahanku? Aku memang kakak yang bodoh! Aku rela mendapatkan hukuman darimu. Hukumlah aku!" Arga berkata sambil mengatupkan kedua tangannya kepada Ray.
Namun, bukannya hukuman yang didapatkan oleh Arga. Justru pelukan hangat dari Ray untuk kakaknya yang tidak pernah ia sangka jika mereka pernah bermusuhan.
"Kau tidak bersalah, Kak! Aku yang seharusnya minta maaf, aku adik yang ceroboh, terlalu gegabah mengambil keputusan. Aku tidak mendengarkan seruan dari Pak Cipto. Seharusnya saat itu aku mendengar ucapan dari pak Cipto jika aku harus merelakan Cinta untukmu. Tapi dengan kebodohanku, aku tidak mendengarkannya dan sekarang aku sangat menyesal. Ternyata, Cinta berada di tangan yang tepat. Cinta beruntung memiliki suami seperti Kakak. Dia gadis yang baik, apa yang aku katakan itu hanyalah bualan, Cinta gadis yang pandai menjaga dirinya, aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali, pendiriannya sangat kuat, dia hanya akan menyerahkan dirinya untuk suaminya sendiri, dan aku sangat yakin Kakak pasti tahu itu ... maafkan adikmu!" ungkap Ray.
Arga pun tersenyum, ternyata dirinya sudah salah faham terhadap sang istri karena kecemburuannya yang tidak beralasan.
Akhirnya dua Kakak beradik itu saling berdamai dan saling memeluk. Suasana haru dan bahagia terasa begitu kental.
Cinta dan pak Cipto yang menyaksikan itu ikut menitikkan air mata. Betapa keluarga mereka jadi utuh kembali setelah puluhan tahun berpisah.
"Mommy sangat bahagia bisa memeluk kedua anak Mommy, aku sangat menyayangi kalian berdua!" ucap wanita itu sambil mengusap rambut kedua putranya yang sedang tidur di atas pangkuannya.
Tiba-tiba saja Madam Desy bertanya kepada pak Cipto tentang kalung yang pernah ia hadiahkan kepadanya saat masih bayi.
"Dulu Mama pernah memberimu sebuah kalung yang sama dengan punya Arga. Aku sengaja memesan khusus untuk kalian berdua dari tabungan Mama sendiri. Mama menitipkannya kepada Pak Cipto kalung itu."
Pak Cipto pun menyahuti ucapan Madam Desy. "Saya sudah menyerahkan kalung itu kepada Tuan muda, Nyonya!"
Ray yang mendengar itu, ia pun menimpali ucapan pak Cipto. "Iya, Ma. Pak Cipto sudah menyerahkan kalung itu."
"Lalu, dimana sekarang kalungnya? Kenapa tidak kamu pakai?" tanya Madam Desy sambil melihat ke arah leher putranya.
"Aku, aku memberikan kalung itu kepada Lovely. Aku minta maaf, Ma! Saat itu aku masih merasa jika Mama tidak menyayangiku. Jadi, kalung itu aku berikan padanya. Tapi aku yakin jika Lovely pasti menjaganya." ungkap Ray.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Cinta mendapati ponselnya berdering. Ia pun segera membuka dan menerima telepon yang rupanya itu dari nomor Lovely.
"Kakak!"
Spontan semua mata tertuju pada Cinta yang sedang menerima telepon dari kakeknya.
"Halo Kakak. Sekarang Kakak ada di mana?"
Awalnya Cinta bahagia mendapatkan telepon dari Lovely. Tapi lama-lama ekspresi wajah wanita itu berubah menjadi khawatir.
"Jika kamu ingin kakakmu selamat! Datanglah ke jalan Kahyangan rumah nomor satu, dan ingat! Jangan bawa siapapun atau melapor ke polisi, jika kamu masih ingin melihat kakakmu tetap hidup ...!"
...BERSAMBUNG...