Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
63. Jodoh terbaik.


Zaki benar benar memfokuskan pada kasus persidangan yang melibatkan ayah dan juga rival Ale, yaitu Rara.


Sehingga dia banyak meninggalkan Ale yang sibuk juga dengan urusan keluarga dan Ray.


Memang sudah kesekian kalinya Zaki mengungkapkan perasaannya kepada Ale namun Ale memang tidak bisa membuka hatinya kepada Zaki.


Entah kenapa dia tidak bisa berbalik kepada Zaki walaupun Ray sudah begitu dalam menyakiti dirinya dalam kasus perselingkuhannya dengan Rara.


Ale seperti merasa bahwa Zaki memang bukan jodohnya serta Zaki layak untuk mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada dirinya. Ale merasa bahwa dirinya sudah memiliki 2 anak sekarang dan keduanya bukan anak dari Zaki kalau sampai dia memaksakan diri bersama dengan Zaki tentu yang sakit bukan hanya anaknya namun juga Zaki.


Apalagi dengan status Zaki yang merupakan pewaris tunggal dari Elshaka Hakim. Zaki tentunya membutuhkan seorang keturunan penerus yang benar-benar dari darah dagingnya sendiri. Nantinya hidup Ale akan semakin lebih rumit, baginya kalau dia tidak kembali dengan Ray pun dia juga tidak akan memilih bersama dengan Zaki.


" Pak, ibu Mitha masuk rumah sakit, karena tensinya begitu tinggi. Mbok Siti menemani Ibu Paramita di Rumah Sakit Permata." kata sekretarisnya yang tadi menerima telepon dari asisten rumah tangga di rumah besar Zaki. saat ini Zaki memang masih tinggal di rumah besarnya karena mengingat bahwa ibu nya sekarang kondisinya sering drop dan sakit-sakitan.


" Astaga? Baiklah nanti urusan di pengadilan kamu suruh saja salah satu partner untuk menggantikan aku. semuanya udah ada di berkas-berkas yang kamu bawa tadi, mereka tinggal mempelajarinya beberapa kali pasti mereka akan tahu apa yang mereka akan lakukan. aku harus berangkat dulu ke rumah sakit karena kondisi Ibu mungkin tidak bisa diwakilkan oleh siapapun." apa saja kepada asisten sekaligus sekretaris nya di kantor. sekretarisnya itu hanya menganggukkan kepala tanda dia mengerti apa yang menjadi perintah dari Zaki dan langsung melaksanakannya dengan segera. Zaki bergegas mengambil kunci mobil dan juga dompetnya supaya dia bisa dengan segera ke Rumah Sakit Permata Medika tempat ibunya saat ini dirawat. sejak kasus perceraiannya di di Masukan ke pengadilan agama, inilah yang terjadi setiap kali menjelang sidang bersama dengan Ridwan suaminya. Ibu Paramita mungkin masih merasa Terpukul dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu ketika KDRT yang dilakukan oleh Pak Ridwan membuat dirinya harus berada di rumah sakit selama beberapa minggu. di dalam hatinya yang terkecil, masih tersimpan cinta dan juga perasaan bersalah ketika awal dirinya menerima pernikahan dengan Pak Ridwan. dia dari dulu sudah menyukai Pak Ridwan tetapi berbeda dengan Pak Ridwan yang memang dari dulu sudah tidak menyukai dirinya dan juga membenci Perjodohan yang dilakukan oleh Kedua keluarga mereka. masa lalu yang mengikat mereka berdua itu sampai sekarang memang belum tuntas dan belum terselesaikan. walaupun surat serta rekaman Pak Ridwan meminta maaf dan memohon ampunan kepadanya sudah dia terima. Justru dengan surat dan juga video rekaman itu membuat dirinya semakin merasa bersalah dan rasanya ingin mencabut laporan yang sudah masuk ke dalam pengadilan agama. Namun karena kondisi psikis dan juga psikologi Dari Dirinya Ibu Mita justru sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. sebenarnya Zaki memahami apa yang saat ini sedang dialami oleh ibunya, tapi kepadatan intensitas kerja dan juga masalah yang bertubi-tubi terjadi pada kehidupan percintaan dan juga keluarga hanya membuat dirinya harus mengesampingkan hal-hal yang lain dan memprioritaskan apa yang saat ini berjalan di persidangan.


sesampainya di rumah sakit Zaki langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan selasar kamar VIP yang menjadi kamar rawat inap dari ibunya itu, dirinya langsung menabrak seorang wanita yang berjubah putih dan berambut panjang sehingga wanita itu terjatuh di bawah. Zakia merasa bersalah karena terlalu terburu-buru dalam berjalan, langsung meminta maaf berkali-kali kepada gadis cantik itu sembari menolong Gadis itu untuk bangkit berdiri.


" Maaf, maaf ..nona. Saya minta maaf kalau membuat nona tetjatuh karena tertabrak saya." kata Zaki dengan nada menyesal melihat sang gadis tampak kesakitan akibat terjatuh di lantai selasar rumah sakit itu.


" Ah, lain kali hati hati pak! Untung saja saya tidak apa apa!" katanya sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Zaki. Tapi dirinya tidak bisa terlalu bertindak bar bar karena ini ada di sebuah rumah sakit, sedangkan dirinya sendiri adalah seorang dokter. Tidak mungkin kan kalau seorang dokter malah marah-marah dengan keluarga pasiennya?


" Ehm, maaf dokter? Dengan siapa yang berbicara? "


"Devia Jovanka Smith, anda keluarga pasien Ibu Paramita ya? Saya kebetulan adalah dokter yang menangani kasus Ibu Paramita! Sebenarnya tidak ada yang terlalu serius dengan kondisi kesehatan ibu Paramita, hanya saja tensi tinggi yang dialaminya lebih mengarah pada kondisi psikis dan psikologi yang membuatnya terlalu banyak pikiran sehingga mempengaruhi kuantitas tidur yang saat ini dijalani oleh ibu Paramita. Saya harap ysih, keluarga bisa lebih memperhatikan hal-hal yang mengganggu perasaan dan juga pikiran ibu Paramita. Saya juga menyarankan kalau memang pihak keluarga belum bisa untuk meringankan pikiran dari ibu Paramita, ya keluarga bisa meminta pertolongan kepada seorang psikolog untuk lebih menggali apa yang sebenarnya sedang saat ini Ibu Paramitha pikirkan. Itu bisa sangat membantu kondisi kesehatannya." kata dokter Devia dengan cepat. ritme bicaranya yang sangat cepat itu membuat Zaki agak kesulitan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dikatakan oleh dokter Devia. sehingga Zacky hanya menatap dokter Devia yang cantik itu dengan terbengong. lalu dia sadar bahwa dirinya tadi berbicara terlalu tepat seperti kebiasaannya berbicara dengan orang-orang di sekitarnya.


" Maaf, saya terlalu cepat ya ngomongnya ?" tanya Devia kali ini dengan nada yang cukup lembut dan juga pelan, serta menggaruk tengkuknya salah tingkah. Namun sebenarnya Zaki bukan hanya karena melihat omongannya Devia yang cepat, tapi karena wajahnya mengingatkan kepada Ale.


" Dokter Devia pasti sukanya olahraga yang berhubungan dengan beladiri?" tanya Zaki yang melenceng jauh dengan apa yang tadi sedang Devia jelaskan. sedangkan Devia yang menerima pertanyaan absurd dari Zaki menjadi bingung, sebenarnya apa hubungannya penyakit dari Ibu Zaki dengan olahraga beladiri?


" Hah? Maksudnya apa?"


" Saya tanya, apa dokter Devia menyukai olahraga beladiri?" ulang Zaki dengan nada yang lebih tinggi supaya Devia mendengar apa yang dia katakan.


" Iya.." jawab Devia dengan ragu-ragu karena merasa bahwa ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan ibu Paramita yang tensinya tinggi.


" Baiklah! Saya mengerti! Ini sesuai dengan praduga yang sudah saya kira sebelumnya. Nanti kalau saya mau mencari psikolog untuk ibu saya ya apakah dokter Devia mau membantu?" tanya Zaki sekarang mengalihkan perhatiannya kepada masalah ibunya. Sedangkan dokter Devia yang masih kebingungan dengan korelasi pertanyaan tadi dengan kondisi Ibu Paramita. Tapi Devia tetap menjawab pertanyaan dari Zaki walaupun dengan kalimat yang diucapkan dengan ragu-ragu.


" Baiklah, tapi.."


" Good! Saya akan menjenguk ibu saya dulu. Terimakasih atas jawabannya, dokter Devia!" kata Zaki sambil segera berlalu dari hadapan dokter Devia menuju ke ruangan VIP tempat ibunya dirawat.


.


.


.


TBC


Hai guys Jangan lupa untuk tetap memberikan hadiah dan juga like yang banyak buat cerita ini ya! supaya cerita ini Cepet ending dengan sempurna. Maafkan kalau tor tidak bisa memberikan ending sesuai dengan pemikiran kalian, Tapi menurut Thor inilah yang terbaik untuk kepentingan semua orang. Jangan lupa untuk memberikan voting kepada cerita ini. Happy reading!!