
Hai Readers!!
Welcome backk.. thor kini hadir dengan tema berbagi cinta. Memang Thor bukan penikmat cerita poligami. Tenang saja, pelakor bakal thor basmi. Kalau ada yang gereget sama cerita beginian, skip dulu ga pa pa. Tenang saja happy end, karena thor juga kesel ama pelakor dan pengkhianat!!! Jangan lupa untuk kasih like yang banyak supaya up jalan terus dengan lancar.
Jangan lupa tap like, gift yang banyak juga kasi vote, tolongggggggggg!!;
Happy reading!!
***
" Ray, ehm mendorong Ale sampai Ale hampir ehm keguguran." kata Ray dengan salah tingkah.
Papanya murka besar.!!!
" Apaaaaaa???"
"Ray tidak sengaja pah!!! Atau lebih tepatnya Ray tidak tahu sama sekali Kalau Ale itu hamil lagi dan sejujurnya Ray juga masih curiga apakah Ale itu hamil anak Ray atau tidak?" kata Ray dengan nada terbata-bata, sejujurnya ia takut dengan reaksi yang akan ditimbulkan dari Papanya Itu. Dia tahu Papanya menginginkan Ale bisa hamil cucunya lagi. Melihat kenyataan seperti ini ragu kalau Papanya bakal mendukung dirinya. Yang ada mungkin malah dirinya bakal disantet oleh Papanya kalau kalau Ale sampai mengajukan surat perceraian.
" Pa, maafin Ray! Tapi saat tahu bahwa Ale hamil Ray pun Jadi curiga karena anak Siapakah yang ada di dalam kandungan Ale masih belum diketahui dengan jelas. Juga tadinya kesal mengetahui kemungkinan bahwa Ale hamil dengan laki-laki lain. Apalagi Ale sekarang dekat dengan yang namanya Zaki, dia pengacara terkenal yang sekarang membantu Ale dalam bidang hukum. Kayaknya Ray Curiga dengan Zaki, bisa jadi Ale berselingkuh dengan Zaki." tapi tiba-tiba papa dari Ray menampar anaknya itu.
Papa Jordan yang sudah naik darah hilang kontrol sehingga dia memukul pipi anaknya itu dengan keras.
" Kamu itu orang yang tidak pernah berkaca dengan dirimu sendiri! Lah Sebenarnya apa yang kamu lakukan di Batam itu! Bukannya kamu sendiri sudah mengkhianati istrimu dengan dengan selingkuh dan menikahi Rara? Kok kamu malah sekarang ragu dengan istrimu sendiri dan menuduh istri berselingkuh sampai memiliki anak dengan laki-laki lain? Ngaca dong!!! Emangnya Ale sudah tahu pernikahan kamu dengan Rara itu?Lucunya kamu malah tidak ragu dengan Rara! Bukannya Rara itu malah patut dicurigai.Dia itu sudah tidak perawan .. dia itu mungkin seorang penjerat om om senang macam kamu yang bodoh itu!" kata papa Jordan sambil ngos ngosan, kemarahannya sudah di titik yang sudah tidak bisa dibayangkan lagi.
Ray merenungi perkataan dari bapaknya itu. Dia juga tidak mengerti kenapa dia begitu bodoh ketika berhadapan dengan Rara. Dia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dan pasrah saja dengan apa yang dikatakan oleh Rara.
Tiba-tiba ia menjadi sedikit curiga dengan Rara, karena selama dia berada di Jakarta, dia sama sekali tidak pernah kepikiran dengan Rara. Jadi mungkin bisa jadi benar apa yang dikatakan oleh Papanya Itu, kalau Rara mungkin melakukan hal yang diluar akal normal manusia.
" Pa, lalu aku harus bagaimana? Aku baru teringat bahwa saat bersama dengan Rara aku memang tidak pernah bisa memikirkan yang lainnya. Sedangkan saat di sini, aku bahkan tidak pernah memikirkan tentang Rara! Mungkin apa yang papa bilang bisa jadi benar!" kata-kata Ray, setelah dia menimbang apa yang dikatakan oleh Papanya itu.
Papa Jordan tiba tiba memegangi dadanya yang terasa sakit, dia langsung lemas seketika setelah mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Langkahnya limbung dan tubuhnya pun memberat. Pandangannya mulai kabur dan kemudian dia terjatuh! Untung saja Rai dengan sigap menahan tubuh ayahnya yang sudah tidak berdaya itu.
Dia berusaha berteriak memanggil-manggil Papanya namun sia-sia.
Kemungkinan yang terjadi adalah Papanya terkena serangan jantung. Untung aja di rumah papanya itu ada mobil yang biasa digunakan oleh Papanya untuk berpergian.
Ray langsung menaruh Papanya Itu ke sofa kemudian dia mempersiapkan semuanya sendiri karena memang di rumah itu sepi dan tidak ada orang.
Ray sudah tidak mengingat yang lainnya lagi yang terpenting baginya saat ini adalah menyelamatkan hidup Papanya.
Dia sadar bahwa saat ini dia sudah mengecewakan Papanya begitu besar.
Bukan saja kepada Papanya tapi juga kepada Ale dan Alex orang-orang yang terdekat dengan dirinya. hatinya mulai digelayuti rasa bersalah karena sudah melakukan tindakan yang menyakiti orang-orang yang mencintai dirinya dan orang-orang yang dekat dengan dirinya.
Dia malah dengan enaknya menaruh rasa percaya yang lebih kepada Rara yang notabene adalah orang baru, dibandingkan percaya kepada istrinya dan juga kepada papanya sendiri.
Hal ini membuat Ray sudah tidak memperdulikan lagi Rara dan Apa yang hendak Rara lakukan kepadanya.
Pikirannya yang kacau dan sangat kalut saat mengemudikan mobil untuk membawa Papanya pergi ke rumah sakit. Kalau sampai terjadi apa-apa terhadap Papanya, maka dia tidak akan pernah bisa berhenti merasa bersalah terhadap dirinya sendiri.
" Pa, maafin Ray, Pa!! Ray janji menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ray akan segera menceraikan Rara dan kembali memohon ampun kepada Ale. Kalaupun Ale tidak mau memaafkan Ray, Ray pun tidak akan berhenti untuk terus meminta maaf kepada ada istri Ray itu,, sampai Ale mau memaafkan Rai!!" monolog Rau dalam kesedihan yang sangat mendalam. Tidak terasa air matanya pun luruh berderai karena perasaan bersalah yang begitu dalam.
Sesampainya Ray di Rumah Sakit Permata, dia langsung berteriak dan mengkode suster dan juga perawat laki-laki untuk membawa papanya yang sedang Anfal itu ke dalam ruang IGD. Dengan segera para perawat laki-laki dan juga perempuan itu membawa brankar dan menaikkan Papanya ke atas brankar rumah sakit serta mendorongnya ke ruangan IGD terdekat.
Ray mengikuti mereka dari belakang dan ketika sampai di pintu ruangan IGD, Ray di tahan oleh para perawat karena dia tidak bisa masuk ke dalam ruangan itu.
Ray diminta untuk menunggu di depan pintu ruangan IGD itu dan membiarkan para perawat juga dokter yang ada di dalam untuk mengurus masalah papanya sedangkan dirinya disuruh untuk mengurus administrasi untuk perawatan Papanya di dalam Rumah Sakit Permata itu.
Ray bergegas menuju ke ruangan reception untuk mendaftarkan papanya. Meskipun rekening miliknya sudah dibekukan tapi dia memiliki rekening pribadinya sendiri, hasil kerja trading yang dilakukannya selama ini. Memang tidak sebanyak rekening di tempat Ale dan rekening bersama. Tapi Ray kira itu cukup bisa membayar biaya Rumah Sakit papanya.
Tapi tanpa sengaja ia melihat sesosok orang yang sudah sering ia sakiti selama 3 bulan ini.
" Ale..." sapa Ray dengan nada lembut, tapi wajah Ale terlihat pias dan takut sambil memegangi perutnya yang sudah terlihat membuncit, gara gara berat badannya yang berkurang saat ini.
.
.
.
TBC