
" Aku takut .. aku takut..." Ale seakan tidak sadar saat menggunamkan kata kata itu berkali kali.
Zaki ingin memeluk tubuh sang pujaan hati yang tampak gemetar dan wajahnya tampak memandang ke arah pintu keluar dengan tatapan kosong.
Namun tiba-tiba pintu ruangan VIP yang ditempati oleh Ale terbuka, dan masuklah Gani juga Melva disana. Melva bergegas memeluk sepupunya itu dengan erat, namun Ale sama sekali tidak merespon pelukan dari sahabat sekaligus sepupunya itu. Tatapannya masih juga kosong, dia bahkan tidak menyadari kehadiran dari Gani, Zaki maupun Melva.
Gani menarik tubuh Zaki keluar dari kamar. Ia ingin mengetahui kejadian apa yang terjadi setelah penculikan itu. Karena ia mengetahui fakta bahwa Ray koma karena pristiwa itu.
" Bagaimana kejadian sebenarnya?" tanya Gani tanpa basa basi.
" Ceritanya sangat panjang!" kata Zaki sambil menghembiskan nafasnya dengan sangat lelah.
Zaki bahkan belum makan sama sekali saking tegangnya. Dan Gani tampak mengacak acak rambutnya melihat wajah frustasi dari Zaki. Ia yakin Zaki juga merasa frustasi dengan kenyataan yang ada.
" Arghh.." Zaki meninju udara untuk meluapkan rasa sakitnya.
Melva tiba tiba keluar dari ruang rawat inap milik Ale dan menyodorkan satu paper bag berisi makanan kepada Zaki.
" Kami tahu kalau mungkin kamu belum makan. Itu makanan kita beli di Resto bawah, cuman nasi goreng dan orange juice." kata Melva menjelaskan.
" Makasih!" sahut Zaki dengan nada datar, Ia masih memikirkan tentang kondisi Ale. Bagaimanapun ini juga salah satu dari kesalahan yang dibuat oleh ayahnya sendiri. Gara-gara mengikuti istri mudanya, saat ini ayah Zaki sudah berada ada di dalam pantauan pihak Kepolisian karena pelaporan yang dilakukan oleh Zaki.
Zaki hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, karena dia sejujurnya sudah sangat lelah. Dia membuka paper bag yang berisi makanan itu dengan langkah malas. Dirinya tahu bahwa saat ini dia juga membutuhkan asupan makanan agar tubuhnya tidak tepar gara-gara memikirkan banyak hal yang sebetulnya bisa diselesaikan setelah dia menikmati makanannya.
" Gimana dengan status pelaporan kamu terhadap Om Ridwan dan juga si pelakor itu?" tanya Gani lagi. Dia sudah putus asa untuk menanyakan Sebenarnya apa yang sedang terjadi setelah kasus penculikan Ale itu.
" Aku belum menanyakan kembali statusnya kepada asisten ku, cuman kalau menurut pengalaman, biasanya saat ini pihak kepolisian sudah melakukan tindakan penahanan terhadap tersangka. Jadi kalau tidak ada masalah yang menghadang, mestinya Ayahku dan juga si pelakor itu sudah ada di kantor polisi." jelas Zaki sambil meminum minuman yang sudah disediakan oleh Melva tadi.
" Gimana dengan kondisi Ale di dalam, sayang?" tanya Gani kini dengan istrinya.
" Tadi ketika aku peluk, Ale tidak berkata apa-apa! Namun aku menyadarkan dirinya bahwa masih ada anak di dalam kandungan serta Alex yang masih sangat membutuhkan perhatian dan juga kehadiran dirinya. Ale sadar kemudian menangis, setelah menangis dirinya tertidur. mungkin karena faktor obat yang sudah diminum sebelum aku datang tadi." jelas Melva dengan pandangan yang menyiratkan rasa Iba kepada sepupunya itu. Gani Hanya bisa menarik nafasnya dan melepaskannya dengan kasar karena dirinya juga merasa iba melihat skenario kehidupan Ale yang begitu menyesakkan.
" Hah semoga saja cobaan ini segera berlalu. aku kasihan sama Ali yang seperti jatuh kemudian tertimpa tangga. lagi hamil tua, habis menjadi korban penculikan, dan kini harus menghadapi kenyataan bahwa Ray ada di dalam kondisi kritis." kata Melva lagi dengan mendesah kecewa. Zaki hanya terdiam dengan perkataan Melfa tadi, dia sadar kalau apa yang dikatakan oleh Melva itu benar adanya. dan keluarganya juga menjadi salah satu beban moral yang harus ditanggung oleh Ale saat ini. Zaki kemudian bangkit meninggalkan makanan yang baru disentuhnya satu sendok.
" Aku titip Ale terlebih dahulu, karena aku ada hal yang harus aku lakukan sesudah ini. Terus kabarkan perkembangan Ale dan juga Ray kepadaku." kata Zaki sambil melangkah pergi menjauh dari ruangan rawat inap milik Ale, diiringi dengan tatapan mata iba dari Melva dan juga Gani.
Bukannya mereka berdua tidak tahu bahwa Zaki menyukai Ale. Tapi berulang kali ketika mereka desak Ale untuk menerima cinta Zaki, Ale merasa dirinya tidak pantas. Dulu saja ketika dia masih lajang, dirinya ditolak mentah-mentah oleh keluarga Zaki. Apalagi saat ini ketika dirinya sudah berbadan dua dan juga memiliki 1 orang anak. Pasti penolakan demi penolakan itu akan juga Ale nikmati dari keluarga Zaki yang terpandang itu. Inilah Mengapa Ale tidak pernah mau berjuang untuk menerima cinta Zaki.
Gani memasuki ruangan Ale dan menatap sahabatnya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca, Melva tahu bahwa Gani juga merasa sedikit bersalah karena tidak meneliti terlebih dahulu calon klien yang mengajak kerjasama perusahaannya, sehingga mengakibatkan kejadian ini terjadi. Melva memeluk lengan Gani dan mengusapnya perlahan, dia tidak mau kalau suaminya itu terpuruk karena peristiwa ini.
Mereka harus menjadi di tonggak yang kuat untuk menopang Ale dan juga merawat Alex. Apalagi ray dalam kondisi yang sudah tidak bisa diandalkan lagi. Papa Jordan saja belum diberitahu tentang kondisi Riau saat ini. Namun mereka juga bingung, karena kondisi Papa Jordan pasca masuk rumah sakit, tidak belum bisa menerima berita yang berat seperti ini, mengingat Papa Jordan hanya memiliki Ray dalam hidupnya.
" Sayang, rasanya kita harus tetap memberitahukan papa Jordan tentang Ray dan juga Ale. Tapi aku juga takut kalau sampai papa Jordan malah anval ketika mendengar berita tentang anak satu-satunya dalam kondisi kritis seperti ini." kata Melva sambil mendesah.
" Aku akan melihat kondisi Ray dulu. Kamu disini jaga Ale, jangan kemana mana." Tata Gani sambil keluar dari kamar ruang rawat inap Ale menuju ke ruang intensif di mana Ray dirawat. Tanpa menunggu Melva menyetujuinya, Gani sudah berangkat menuju ruang intensif yang merawat Ray.
Melva kemudian duduk di samping ranjang rawat inap Ale dan memegang tangan Ale serta mengelusnya perlahan. Wajah tirus Ale dan perut buncit nya membuat Melva semakin sedih.
" Cepat sembuh, Beb! Aku tahu kamu adalah orang yang kuat dan juga tangguh! Kamu pasti bisa melewati semuanya ini dengan menjadi pemenang! bangunlah! Buat anak yang ada di dalam kandungan mu itu merasa bangga dilahirkan oleh sosok ibu yang tegar dan kuat! Yang tidak hancur oleh karena perselingkuhan, yang tidak hancur oleh karena trauma dan kesedihan!"
.
.
.
TBC