Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
56. Ridwan Menyerah


Kenyataan  yang pahit yang harus diterima oleh tuan Ridwan adalah ia tidak bisa berbalik


lagi. Mau tidak mau ia harus menghadapi kasus per kasus hukum yang akan menjerat


kehidupan masa tuanya.


Ia mungkin hanya bisa berharap kalau Tuhan masih bisa mengampuni dosa dosanya.


“Apakah masih ada jalan untuk berbalik dan bertobat?” monolognya dengan suara lirih. Entah


kenapa mendapati bahwa istri mudanya berkhianat membuat dirinya seperti mati


rasa. Ia jadi sadaar bahwa inilah yang di rasakan oleh anak dan istrinya saat


ia menoreh luka dan pengkhianatan kepada Paramita dan juga Zaki.


Suaranya yang lirih itu masih bisa terdengar oleh pengacara yang mengurus kasusnya bersama


Rara. Pengacara itu sedikit iba dengan apa yang saat  ini di rasakan oleh Ayahnya Zaki ini. Bisa


dibayangkan ya, ayah seorang pengacara kondang dan terkenal, tersandung kasus


pencobaan pembunuhan karena istri muda. Dia bukan hanya menoreh luka ke


Paramita dan juga Zaki tapi ia juga menggoreskan arang dan mempermalukan


keluarganya itu.


Wajahnya ia tutupi dengan kedua belah tangannya, merasa jijik sendiri dengan apa yang


dilakukannya di masa lalu, tapi ia tidak bisa berbalik, ia harus menghadapi


permasalahannya dengan jantan kan?


“Tuan apakah tuan mau menangguhkan bantuan hukum terhadap ibu Rara?” tanya pengacara itu


dengan suara lembut. Ia melihat kesungguhan hati tuan Ridwan ini untuk menjadi


lebih baik. Mungkin ini sebuah hidayah?


“ Lakukan saja yang terbaik. Kali ini aku mau menyerah saja. Katakan pada Zaki untuk


mengambil kesaksian ku untuk bisa menjebloskan dan  memperberat hukuman Rara. Aku tahu kalau aku


juga tidak akan lepas dari hukuman, tapi setidaknya aku mau memperbaiki hidupku


dengan memberikan kesaksian tentang hal yang sebenarnya terjadi. Termasuk


urusan hukum pertama yang menyangkutkan nama Rara terkait sebagai prostitusi


online.” Kata tuan Ridwan dengan wajah menunduk.


“Baik tuan akan segera saya lakukan. Penarikan diri saya sebagai kuasa hukum ibu Rara akan


segera saya masukan. Sehingga ibu Rara bisa segera mencari bantuan hukum dari


pihak lain yang kira kira masih mau membantu ibu Rara!” kata kuasa hukum dari


tuan Ridwan dengan segera.


Tuan Ridwan hanya bisa menganggukan kepalanya dengan lemah. Pengacaranya sebetulnya ingin


membuat Tuan Ridwan bisa bertemu dan berbincang dari hati ke hati. Namun


rasanya pengkhianatan yang sudah dialami oleh Zaki dan ibu Paramita sudah


begitu tebal, sehingga sudah tidak ada celah bagi tuan Ridwan untuk masuk


kembali ke dalamnya.


“ Kalau aku bisa meminta tolong sama kamu untuk sekali lagi menghubungi Zaki sebelum dia


mengambil kesaksian aku, aku ingin supaya dia bisa menemui aku terlebih dahulu.


Aku ingin meminta maaf kepadanya dan juga menyerahkan seluruh harta ku untuk di


urus sepenuhnya oleh Zaki senagai anak tunggalku. Aku juga ingin Zaki mengambil


video permintaan maaf ku kepada Mitha, istriku. Agar aku bisa lega menjalani


hukuman di balik jeruji besi.” Kata tuan Ridwan dengan nada sendu.


Ya! Tuan Ridwan sudah menikmati semua yang dikatakan karma dari perbuatan jahatnya di masa lampau. Meski tetap ada harga yang harus dibayar, karena karma


tetap akan berjalan. Namun pengampunan selalu ada. Kalau Tuhan saja maha


pengampun, kenapa manusia yang ciptaannya tidak bisa mengampuni. Bukankah


manusia itu tempatnya salah dan dosa. Sehingga ketika ada orang yang bertobat


dan ingin berbalik dari jalannya yang salah, kita tidak sepantasnya menghakimi


dan memberikan stigma buruk kepada orang itu. Itulah yang dipikirkan oleh kuasa hukum tuan Ridwan itu.


Kuasa hukum dari tuan Ridwan segera mengajukan pengunduran diri menjadi kuasa hukum Laura


Elevosa karena tuan Ridwan tidak lagi mau menjadi penjamin maupun penyokong


dana pembebasan atau paling tidak meringankan hukuman dari Laura Elevosa sang


istri muda tuan Ridwan, bahkan melalui pengacaranya, tuan Ridwan menyampaikan


kalau ia sudah menceraikan istri mudanya itu.


***


Zaki menerima telepon dari pengacara ayahnya saat ia masih berada bersama Ale di ruang rawat


inap Ale. Ale sudah balik dari ruangan intensif yang merawat Ray, karena Ray


sampai sekarang masih belum sadarkan diri. Saat ingin menerima telepon dari


rumah sakit, takutnya ini berita buruk dan akan mempengaruhi Ale kalau sampai


Ale mendengar tentang hal ini. Setelah sampai di taman, dekat kamar rawat inap


Ale, Zaki langsung mengangkat ponselnya dan langsung tersambung dnegan kuasa


hukum dari ayahnya Zaki.


“Halo.”


“Pak Zaki, saya kuasa hukum dari tuan Ridwan, ayah pak Zaki..”


“Saya sudah tahu, apakah yang ingin bapak bicarakan dengan saya? Kalau itu menyangkut


pembebasan dari ayah saya, maka jawabannya adalah tidak! “ karta Zaki dengan


nada dingin dan juga datar. Ia sudah tidak mau berhubungan dan tidak mau lagi


mengurus masalah ayahnya itu. Apalagi membebaskan ayahnya, tentu jawabannya


adalah tidak!


Pengacara tuan Ridwan hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar mendengar lawan bicaranya,


belum apa apa sudah tidak mau turut campur  urusan tuan Ridwan.


“Maaf pak, tolong dengarkan saya terlebih dahulu.”


“Baiklah, saya kasih waktu anda sepuluh menit untuk mengungkapkan apa yang menjadi


keinginan dari ayah saya itu.” Zaki masih menunjukan rasa hormatnya dengan


masih memanggil ayah kepada tuan Ridwan.


Lalu si kuasa hukum tuan Ridwan menceritakan secara gamblang tentang apa yang ingin di


lakukan oleh tuan Ridwan, dan juga keinginannya untuk memberikan kesaksian


kepada Zaki untuk memperberat hukuman dari Rara.


Tentu saja Zaki menerima dengan senang hati keinginan ayahnya untuk memenjarakan Rara,


sekaligus menerima kembali kalau ayahnya memang ingin berbalik dari jalannya


yang salah.


“Saya akan menemuinya sehabis ini, katakan padanya untuk  bersiap untuk memberikan kesaksian terkait dengan kasus Rara, tapi saya sungguh tidak bisa menjamin kalau ibu saya mau menerima ayah lagi, karena apa


yang dilakukannya begitu menggores perasaannya. Jadi untuk kasus perceraian


saya tidak bisa menjamin untuk bisa menangguhkannya. Ini  sangat bergantung dnegan apa yang diinginkan


oleh ibu saya.” Kata Zaki melanjutkan apa yang dipikirkannya. Dia sangat


bahagia dengan apa yang dipikirkan oleh ayahnya. Zaki juga bahagia kalau


ternyata ayah dan ibunya tidak jadi bercerai, tapi kalau yang ini tergantung


pada ibunya apakah ia masih mau menerima ayahnya kembali ataukah tidak.


“Baiklah pak Zaki, saya bahagia dengan ending bahagia yang mungkin akan membuat tuan Ridwan


kembali bersemangat menghadapi hidup di masa tuanya. Saya harap kebahagiaan


juga akan menghampiri pernikahan ayah dan ibu pak Zaki sehingga mereka tidak


usah bercerai. Saya berterimakasih kepada pak Zaki yang memberikan saya


kesempatan untuk berbicara dengan pak Zaki.” Kata pengacara itu dengan penuh


hormat.


“Sama sama pak! Saya juga berterimakasih kalau anda sudah menyadarkan ayah saya dengan


kelakuan pelakor itu.”


“Ya pak Zaki, saya juga sudah resmi menarik diri untuk keluar dari kasus hukum yang menjerat


ibu Rara. Saya resmi tidak lagi menjadi kuasa hukum  ibu Rara.” Kata pengacara itu membuat  mata Zaki semakin berbinar senang.


.


.


.


TBC


Hai readers..


jangan lupa untuk terus memberi dukungan kepada Thor sehubungan dengan Like,


Gift dan juga Vote. Karena itu membuat ilham untuk menulis bisa langsung


banyak. Author juga menghargai setiap pro dan kontra dalam interpetasi pembaca


dalam memandang novel ini. Pasti ada kubu Ray, ada kubu Zaki dan juga ada yang


tidak mendukung keduanya. Ha ha ha ha tapi thor hanya ingin kalian para pembaca


bisa sedikit mengerti, bahwa tidak semua apa yang kita inginkan bisa menjadi


ending bahagia untuk novel ini. Yang paling penting adalah kita tidak bisa


selalu mencurigai suami kita dan juga tidak bisa terlalu percaya. Dalam hal ini


author berharap para readers bisa menyerap apa yang thor ingin ajarkan kepada


kalian. Happy reading all!! Selamat tahun baru and always God bless