
Kenyataan yang pahit yang harus diterima oleh tuan Ridwan adalah ia tidak bisa berbalik
lagi. Mau tidak mau ia harus menghadapi kasus per kasus hukum yang akan menjerat
kehidupan masa tuanya.
Ia mungkin hanya bisa berharap kalau Tuhan masih bisa mengampuni dosa dosanya.
“Apakah masih ada jalan untuk berbalik dan bertobat?” monolognya dengan suara lirih. Entah
kenapa mendapati bahwa istri mudanya berkhianat membuat dirinya seperti mati
rasa. Ia jadi sadaar bahwa inilah yang di rasakan oleh anak dan istrinya saat
ia menoreh luka dan pengkhianatan kepada Paramita dan juga Zaki.
Suaranya yang lirih itu masih bisa terdengar oleh pengacara yang mengurus kasusnya bersama
Rara. Pengacara itu sedikit iba dengan apa yang saat ini di rasakan oleh Ayahnya Zaki ini. Bisa
dibayangkan ya, ayah seorang pengacara kondang dan terkenal, tersandung kasus
pencobaan pembunuhan karena istri muda. Dia bukan hanya menoreh luka ke
Paramita dan juga Zaki tapi ia juga menggoreskan arang dan mempermalukan
keluarganya itu.
Wajahnya ia tutupi dengan kedua belah tangannya, merasa jijik sendiri dengan apa yang
dilakukannya di masa lalu, tapi ia tidak bisa berbalik, ia harus menghadapi
permasalahannya dengan jantan kan?
“Tuan apakah tuan mau menangguhkan bantuan hukum terhadap ibu Rara?” tanya pengacara itu
dengan suara lembut. Ia melihat kesungguhan hati tuan Ridwan ini untuk menjadi
lebih baik. Mungkin ini sebuah hidayah?
“ Lakukan saja yang terbaik. Kali ini aku mau menyerah saja. Katakan pada Zaki untuk
mengambil kesaksian ku untuk bisa menjebloskan dan memperberat hukuman Rara. Aku tahu kalau aku
juga tidak akan lepas dari hukuman, tapi setidaknya aku mau memperbaiki hidupku
dengan memberikan kesaksian tentang hal yang sebenarnya terjadi. Termasuk
urusan hukum pertama yang menyangkutkan nama Rara terkait sebagai prostitusi
online.” Kata tuan Ridwan dengan wajah menunduk.
“Baik tuan akan segera saya lakukan. Penarikan diri saya sebagai kuasa hukum ibu Rara akan
segera saya masukan. Sehingga ibu Rara bisa segera mencari bantuan hukum dari
pihak lain yang kira kira masih mau membantu ibu Rara!” kata kuasa hukum dari
tuan Ridwan dengan segera.
Tuan Ridwan hanya bisa menganggukan kepalanya dengan lemah. Pengacaranya sebetulnya ingin
membuat Tuan Ridwan bisa bertemu dan berbincang dari hati ke hati. Namun
rasanya pengkhianatan yang sudah dialami oleh Zaki dan ibu Paramita sudah
begitu tebal, sehingga sudah tidak ada celah bagi tuan Ridwan untuk masuk
kembali ke dalamnya.
“ Kalau aku bisa meminta tolong sama kamu untuk sekali lagi menghubungi Zaki sebelum dia
mengambil kesaksian aku, aku ingin supaya dia bisa menemui aku terlebih dahulu.
Aku ingin meminta maaf kepadanya dan juga menyerahkan seluruh harta ku untuk di
urus sepenuhnya oleh Zaki senagai anak tunggalku. Aku juga ingin Zaki mengambil
video permintaan maaf ku kepada Mitha, istriku. Agar aku bisa lega menjalani
hukuman di balik jeruji besi.” Kata tuan Ridwan dengan nada sendu.
Ya! Tuan Ridwan sudah menikmati semua yang dikatakan karma dari perbuatan jahatnya di masa lampau. Meski tetap ada harga yang harus dibayar, karena karma
tetap akan berjalan. Namun pengampunan selalu ada. Kalau Tuhan saja maha
pengampun, kenapa manusia yang ciptaannya tidak bisa mengampuni. Bukankah
manusia itu tempatnya salah dan dosa. Sehingga ketika ada orang yang bertobat
dan ingin berbalik dari jalannya yang salah, kita tidak sepantasnya menghakimi
dan memberikan stigma buruk kepada orang itu. Itulah yang dipikirkan oleh kuasa hukum tuan Ridwan itu.
Kuasa hukum dari tuan Ridwan segera mengajukan pengunduran diri menjadi kuasa hukum Laura
Elevosa karena tuan Ridwan tidak lagi mau menjadi penjamin maupun penyokong
dana pembebasan atau paling tidak meringankan hukuman dari Laura Elevosa sang
istri muda tuan Ridwan, bahkan melalui pengacaranya, tuan Ridwan menyampaikan
kalau ia sudah menceraikan istri mudanya itu.
***
Zaki menerima telepon dari pengacara ayahnya saat ia masih berada bersama Ale di ruang rawat
inap Ale. Ale sudah balik dari ruangan intensif yang merawat Ray, karena Ray
sampai sekarang masih belum sadarkan diri. Saat ingin menerima telepon dari
rumah sakit, takutnya ini berita buruk dan akan mempengaruhi Ale kalau sampai
Ale mendengar tentang hal ini. Setelah sampai di taman, dekat kamar rawat inap
Ale, Zaki langsung mengangkat ponselnya dan langsung tersambung dnegan kuasa
hukum dari ayahnya Zaki.
“Halo.”
“Pak Zaki, saya kuasa hukum dari tuan Ridwan, ayah pak Zaki..”
“Saya sudah tahu, apakah yang ingin bapak bicarakan dengan saya? Kalau itu menyangkut
pembebasan dari ayah saya, maka jawabannya adalah tidak! “ karta Zaki dengan
nada dingin dan juga datar. Ia sudah tidak mau berhubungan dan tidak mau lagi
mengurus masalah ayahnya itu. Apalagi membebaskan ayahnya, tentu jawabannya
adalah tidak!
Pengacara tuan Ridwan hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar mendengar lawan bicaranya,
belum apa apa sudah tidak mau turut campur urusan tuan Ridwan.
“Maaf pak, tolong dengarkan saya terlebih dahulu.”
“Baiklah, saya kasih waktu anda sepuluh menit untuk mengungkapkan apa yang menjadi
keinginan dari ayah saya itu.” Zaki masih menunjukan rasa hormatnya dengan
masih memanggil ayah kepada tuan Ridwan.
Lalu si kuasa hukum tuan Ridwan menceritakan secara gamblang tentang apa yang ingin di
lakukan oleh tuan Ridwan, dan juga keinginannya untuk memberikan kesaksian
kepada Zaki untuk memperberat hukuman dari Rara.
Tentu saja Zaki menerima dengan senang hati keinginan ayahnya untuk memenjarakan Rara,
sekaligus menerima kembali kalau ayahnya memang ingin berbalik dari jalannya
yang salah.
“Saya akan menemuinya sehabis ini, katakan padanya untuk bersiap untuk memberikan kesaksian terkait dengan kasus Rara, tapi saya sungguh tidak bisa menjamin kalau ibu saya mau menerima ayah lagi, karena apa
yang dilakukannya begitu menggores perasaannya. Jadi untuk kasus perceraian
saya tidak bisa menjamin untuk bisa menangguhkannya. Ini sangat bergantung dnegan apa yang diinginkan
oleh ibu saya.” Kata Zaki melanjutkan apa yang dipikirkannya. Dia sangat
bahagia dengan apa yang dipikirkan oleh ayahnya. Zaki juga bahagia kalau
ternyata ayah dan ibunya tidak jadi bercerai, tapi kalau yang ini tergantung
pada ibunya apakah ia masih mau menerima ayahnya kembali ataukah tidak.
“Baiklah pak Zaki, saya bahagia dengan ending bahagia yang mungkin akan membuat tuan Ridwan
kembali bersemangat menghadapi hidup di masa tuanya. Saya harap kebahagiaan
juga akan menghampiri pernikahan ayah dan ibu pak Zaki sehingga mereka tidak
usah bercerai. Saya berterimakasih kepada pak Zaki yang memberikan saya
kesempatan untuk berbicara dengan pak Zaki.” Kata pengacara itu dengan penuh
hormat.
“Sama sama pak! Saya juga berterimakasih kalau anda sudah menyadarkan ayah saya dengan
kelakuan pelakor itu.”
“Ya pak Zaki, saya juga sudah resmi menarik diri untuk keluar dari kasus hukum yang menjerat
ibu Rara. Saya resmi tidak lagi menjadi kuasa hukum ibu Rara.” Kata pengacara itu membuat mata Zaki semakin berbinar senang.
.
.
.
TBC
Hai readers..
jangan lupa untuk terus memberi dukungan kepada Thor sehubungan dengan Like,
Gift dan juga Vote. Karena itu membuat ilham untuk menulis bisa langsung
banyak. Author juga menghargai setiap pro dan kontra dalam interpetasi pembaca
dalam memandang novel ini. Pasti ada kubu Ray, ada kubu Zaki dan juga ada yang
tidak mendukung keduanya. Ha ha ha ha tapi thor hanya ingin kalian para pembaca
bisa sedikit mengerti, bahwa tidak semua apa yang kita inginkan bisa menjadi
ending bahagia untuk novel ini. Yang paling penting adalah kita tidak bisa
selalu mencurigai suami kita dan juga tidak bisa terlalu percaya. Dalam hal ini
author berharap para readers bisa menyerap apa yang thor ingin ajarkan kepada
kalian. Happy reading all!! Selamat tahun baru and always God bless