Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
4. Flash Back


Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. BTW, makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


***


(Raymond POV)


Namaku Raymond Izaac, usiaku


baru 30 tahun, memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Alesya Wijaya,


juga sudah memiliki anak laki laki yang sangat lucu, Alexander Izaac berusia 3


tahun.


Saat ini aku harus berpisah


jauh dengan istri dan anakku karena aku harus mengembangkan proyek tours and


travel di Batam.


Rencananya setelah


berkembang aku akan memasrahkan tempat ini kepada orang baru yang kupercaya


agar aku tidak terpisah lama dengan Ale dan anakku yang masih lucu dan menggemaskan.


Di usia ku yang ke 30 ini,


aku memiliki ketampanan wajah yang merupakan blasteran Belanda dan Asia.


Sehingga kulit putih, mata kebiruan serta rambut yang kecoklatan merupakan


cirri khas diriku. Belum lagi tinggi badanku yang mencapai 185cm, tubuh yang


tegap dan otot yang berisi membuat orang yang melihatku pasti akan terpesona.


Aku tidak pernah mencurangi


istriku, apalagi untuk ukuran seorang wanita, Ale itu sangat cantik. Walau


usianya sudah 29 th, dan memiliki seorang anak, tapi tubuhnya dan wajahnya


selalu ayu terawatt, perangainya anggun dan kecerdasannya sempurna. Alesya diatas ranjang, dia merupakan lawan yang sepadan. Gayanya yang sedikit binal


selalu membuat aku puas dengan apapun yang ia mainkan. Pokoknya dia itu pandai dalam segala hal, bahkan ia juga pandai mengurus dapur, masakannya selalu enak


dan menggugah selera.


Sampai suatu ketika…


Pagi itu ada penerimaan


pegawai baru di AleRa tours and travel di Batam. Tentunya criteria yang diminta


adalah berpenampilan menarik, cerdas dan juga pandai berkomunikasi.


Dari kesemua orang yang


melamar di AleRa, ada satu gadis yang terlihat sangat menonjol, namanya adalah


Laura Elevosa, usianya sangat muda, masih 21 tahun. Wajahnya putih dan cantik,


senyumnya menggoda dan pakaiannya itu, seksi karena mungkin tubuhnya sudah


sempurna tentu pakaian apapun dipakai olehnya akan terlihat menarik saja.


Aku tidak bisa membandingkan


gadis ini dengan Alesya, istriku. Mereka cantik dan menarik menurut gambarannya


masing masing. Tapi aku tertarik dengan gadis ini karena memang, Rara, nama


panggilannya itu memang sengaja membuat gesture  menggoda diriku. Sengaja menunduk saat buah dadanya menyembul seakan


tidak muat di tempatnya, roknya yang berada di atas lutut membingkai ketat kedua pantatnya yang sungguh menggoda iman.


Sedangkan kuakui, Ale itu


menarik dengan caranya. Tanpa ia membuat gesture menggoda, tanpa ia menggunakan


pakaian yang seksi, dia sudah bisa menarik laki laki untuk menatap ke arahnya


dan menginginkannya.


Singkatnya, if you want to


have ***** on your bed, pilihlah Rara! If you want to have someone you’ve loved


and shared your bed, pilihlah Ale.


Tapi namanya juga laki laki


yang normal, apalagi saat ini statusku adalah seorang laki laki yang menjalani


long distance relationship dengan istri dan anak. Tinggal nun jauh di seberang,


seorang diri, padahal usiaku masih 30 tahun dimana kebutuhan akan se*s itu


masih sangat besar.


Bulan Agustus awal adalah


bulan dimana aku mengembangkan AleRa dan mencari pegawai untuk membantu diriku


mengembangkan AleRa.


Karena memang belum terlalu


membutuhkan banyak orang disana, aku hanya memakai 1 orang sekretaris, 2 orang


staf untuk kepentingan ticketing dan 2 orang untuk front office, serta satpam


untuk kebutuhan keamanan kantor.


Semuanya aku mengambil


pegawai wanita, karena memang wanita lebih teliti dalam pekerjaan yang


dimaksud.


Pada akhirnya, memang aku


mengambil Laura sebagai sekretaris aku, awalnya bukan karena tubuhnya yang


menggoda iman, namun memang kinerjanya yang bagus dan sertifikasi kelulusannya


juga menunjang lowongan yang aku inginkan.


Kalau masalah keseksian dan


godaan aku anggap hanya sebagai bonus lah, lagian selama ini aku kuat kuat saja


menghadapi wanita cantik yang ingin menggoda aku. Bukannya apa apa, kadang aku


masih membandingkan dengan istriku yang ada di rumah. Sekalipun mereka yang


mencoba menggoda aku rata rata berparas cantik dan bertubuh seksi, aku masih


saja tidak rela kalau melepaskan istriku yang dirumah.


Bagiku istriku cantik dan


seksi dengan cara yang lebih elegan, bukan murahan!


hubunganku dengan istriku masih intens terjalin, baik dengan videocall ataupun


dengan pertemuan langsung. Yang berarti di hari sabtu aku berangkat dari Batam


dan hari senin flight pertama aku balik lagi kesini. Toh  aku  sudah mengambil staf ticketing yang mumpuni.


Namun di awal bulan


berikutnya yaitu di bulan September, kejadian besar itu terjadi. Kejadian itu membuat aku terjebak dalam hubungan pernikahan paksa dengan Rara. Mungkin ini pernikahan terpaksa pada awalnya tapi kemudian aku merasa ketagihan dengan tubuh sintal istri mudaku yang membuat aku selalu ingin melakukan hubungan


intim dengannya lagi dan lagi. Sehingga aku melupakan kebaikan istri pertama ku


dan bahkan aku tidak mengatakan padanya kalau aku menikah lagi, itu semua


kulakukan secara sembunyi sembunyi karena aku tidak ingin Ale tahu tentang ini.


Flashback


“Anak anak ticketing sudah


pulang pak!” kata Rara dengan nadanya yang sedikit manja menggoda. Hari ini ia


menggunakan kemeja warna putih tanpa lengan yang sangat tipis sehingga bra


hitamnya terlihat jelas, ia kemudian membalutnya dengan blazer warna hitam yang


senada dengan rok diatas lututnya yang berwana sama dengan blazernya. Tapi aku


hanya biasa saja melihat hal itu.


“Baiklah, tinggalkan dulu


berkas mereka, Aku akan mengeceknya sebelum pulang. Kalau kamu mau pulang, kamu


bisa pulang dulu.” Kataku sambil memijit keningku yang berdenyut saat melihat


pekerjaanku yang belum selesai.


“Saya kan sekretaris jadi


saya ngikut aja, jam pulangnya bapak! Mau saya bikinkah teh atau kopi, pak?”


tanyanya lagi. Aku hargai kebaikannya membuatkan minuman untukku. Aku lantas


mengangguk dan berkata.


“Teh saja! Setelah itu


pulanglah! Aku akan ada acara dengan teman temanku sehabis ini.” Kataku sedikit


memkasa dia untuk pulang, karena habis ini aku dan beberapa orang rekan akan


bertemu dan berbincang bisnis.


Setelah tehh yang dibuatkan


oleh Rara kuminum, Rara tidak juga beranjak pulang. Ia masih setia disana,


bahkan ia mulai menggoda aku dengan melepas blazernya sambil  memijat pundakku.


“Kayaknya otot otot bapak


kaku, mungkin  tegang pak, Biar saya


pijit terlebih dahulu. Ini untuk melancarkan sirkulasi darah!” katanya dengan


suara lembut.


“Tidak usah!” awalnya memang


aku menolak, tapi entah kenapa tubuhku menjadi panas dan ada sesuatu di tubuhku


yang minta dipuaskan.


Pijatan Rara mulai


tendensius, ia melepas dasi dan kemeja ku yang melekat ditubuh kekarku. Setelah


itu aku melihat Rara yang hanya menggunakan bra saja. Tanganku yang kekar


dibiarkannya membelai bagian intim dirinya dan kemudian tanpa sadar *******


demi ******* lolos begitu saja dari bibir kami. Bahkan aku tidak ingat kapan


tepatnya pakaian kami lepas dan berserakan di lantai.


Bangun bangun kami sudah


polos bagaikan bayi yang baru lahir diatas sofa tempat aku biasa menerima tamu


dengan noda darah yang menandakan bahwa aku baru saja mengambil hartanya yang


paling berharga, aku heran karena dengan kelakuannya yang suka menggodaku.  Mestinya dia adalah pemain yang pro.


Tapi karena ia menangis jadi


aku mengambil kesimpulan kalau ini adalah kali yang pertama kali untuknya.


Ternyata aku dibuatnya


terkejut, ia berkata karena ia takut kalau nantinya aku tidak mengakui telah


mengambil keperawanannya maka ia membuat video panas yang pelakunya adalah aku


dan dia. Dan ia ingin kalau hubungan kita diresmikan walau hanya dengan


pernikahan di bawah tangan. Karena ia mengatakan kalau dirinya sudah kagum


dengan aku sedari awal, dan ia juga tidak keberatan kalau menjadi istri kedua


dari seorang Raymond Izaac.


Pada akhirnya aku menuruti


keinginannya untuk menikah dibawah tangan dengannya. Dia meminta mas kawin yang


cukup besar dariku, sebesar 5 miliar, katanya itu mahar  untuk menggantikan keperawanannya yang sudah


aku nikmati secara paksa. Padahal seingatku dialah yang berinisiatif menggodaku


terlebih dahulu.


Setelah aku menyetujuinya,


dia kembali berperan sebagai istri yang baik, membelikan makanan melalui


aplikasi online sampai akhirnya kejadian panas itu terjadi lagi berulang ulang,


entah kenapa aku seperti orang yang tidak sadar melakukan hubungan intim dengannya


seakan tidak pernah puas akan tubuhnya, saat dia melayani  aku dengan caranya yaitu dengan memberiku makanan dan minuman, layaknya seorang istri.


.


.


.


TBC