Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
19. Ray mencari kebenaran


 Hai Readers!!


Welcome backk.. thor kini hadir dengan tema berbagi cinta. Memang Thor bukan penikmat cerita poligami. Tenang saja, pelakor bakal thor basmi. Kalau ada yang gereget sama cerita beginian, skip dulu ga pa pa. Tenang saja happy end, karena thor juga kesel ama pelakor dan pengkhianat!!!


Jangan lupa tap like, gift yang banyak juga kasi vote, tolongggggggggg!!;


Happy reading!!


***


" Tenang !! Ale sudah dalam kondisi yang stabil, baik ibu dan anaknya sudah baik-baik saja. Tapi dokter tidak bisa menjamin kalau hal ini terjadi lagi kemungkinan efeknya bisa jadi parah. Lalu aku tadi kepikiran untuk menjauhkan Ale dari suaminya terlebih dahulu karena bisa jadi suaminya akan menjadi marah karena dia tidak mendapatkan harta itu lalu menyakiti Ale." kata Zaki menjelaskan kepada Gani dan Melva. Mereka sudah pasti setuju karena melihat apa yang dilakukan oleh Ray, mereka takut Ale kenapa kenapa.


“Syukurlah kalau begitu! Aku setuju dengan perkataanmu, kita akan lindungi Ale dan tidak usah mengijinkan Ray bertemu dengan Ale maupun Alex.” Kata Gani sambil menahan giginya yang bergemeletuk karena geram bercampur kesal.


“Hmm baiklah, kamu atur saja tempat yang oke buat Ale dan Alex, dan biarlah Alex homeschooling dulu saja sementara, biar si kepar*t itu tidak bisa menemui anak dan istrinya. Heran deh aku sama Ray itu, kurang apa seebenarnya Ale itu, sudah cantik, bisa kerja sendiri tapi kok masih aja di duain. Segala bull **** bilang dijebak lah … gombal, emang Ray ini type laki laki tak bisa menahan shawat.” Kata Melva tidak kalah ganas dari ucapan Gani. Zaki juga setuju dengan perkataan mereka berdua. Ia sudah membuat siasat bagaimana melakukan pelaporan ke kepolisian tanpa melibatkan Ale, dan yang lainnya. Ia marah sekaligus iri dengan keberuntungannya si Ray yang bisa mendapatkan Ale dan memiliki anak setampan Alexander yang ia yakini merupakan gen dari Ale.


Tanpa mereka sadari, Ray yang sudah disana menatap mereka dengan tatapan nanar. Sepertinya dia cukup menyesal, apakah iya dia menyesal? Karena pada dasarnya ia masih penasaran dengan anak yang ada di dalam kandungan Ale. Kalau ia ingin menanyakan pada Gani atau Zaki yang ada ia bakal malah dapat bogem mentah karna kekesalan mereka kepada dirinya. Tapi dia punya pemikiran kalau ia bakal dapat info yang berharga dari seseorang.


Dari ruang IGD, Ray langsung menemui dr Sava yang memang merupakan dokter yang sudah dikenal baik oleh Ray dan juga menjadi dokter di keluarga mereka. Sesampainya dirinya ke ruangan dr Sava, kebetulan dr Sava sudah selesai praktek dan ia keluar bersamaan dengan  Ray yang hendak mengetuk pintu.


“Loh, pak Ray ada disini?” tanya dr Sava dengan raut heran yang kentara di wajahnya, Ia memang belum tahu kalau Ale dirawat kembali di rumah sakit itu.


“Dok, maaf boleh kita berbincang sebentar?” tanya Ray dengan nada sedikit memaksa, ia bingung kepada siapa lagi ia dapat bertanya. Semuanya tentunya akan lebih nge pro dengan Ale. Ia merasa tersisih dan tidak dianggap. Bahkan Suci sebagai sekertaris di kantor tidak mau menjawab apapun dan lebih menyerahkan semua jawaban dari pertanyaan Ray kepada Gani atau bu Ale.


“Boleh, bokeh silahkan masuk!” kata dr Sava sambil mempersilahkan Ray untuk masuk ke dalam ruangannya, kebetulan perawat yang biasa menjadi asistennya pun masih berada di sana karena masih membereskan tempat itu.


“Maaf pak Ray, ada keperluan apa, bertanya kepada saya?” tanya dr Sava dengan raut bingung yang tidak ia sembunyikan, maklumlah dia kan tidak tahu akan kehidupan pribadi pasiennya itu. Ia pikir semuanya baik baik saja.


“Dokter saya ingin bertanya apa baru baru ini istri saya pernah berkonsultasi dengan dokter?” tanya Ray membuka percakapannya dengan dokter itu. Dokter Sava mengernyitkan keningnya karena bingung.


“Ehm iya, kira kira beberapa waktu yang lalu, saya lupa tepatnya. Bu Ale pingsan karena ternyata hamil anak keduanya kan? Bapak sudah tahu kehamilan ibu Ale kan? ”


“Ehm mungkin istri saya ingin mengejutkan saya, karena saya justru tahunya dari anda dok!” Kata Ray dengan nada sendu.


“ Saya berjanji akan pura pura terkejut dengan berita ini dok! Tapi tolong, saya juga ingin tahu berapakah usia kandungan istri saya itu. Karena  memang belum terlihat ya. Supaya say bisa menjaganya selama dirinya masih menyembunyikan ini kepada saya.” Kata Ray berusaha memancing dr Sava lagi.


“ 3 bulan kurang kalau waktu itu, kalau gak salah 11 minggu waktu pemeriksaan saya waktu itu. Tapi mungkin kalau dihitung sekarang mungkin sudah lebih dari 3 bulan ya pak Ray! Kalau mau lebih jelasnya, bisa menghubungi dr Ningsih di bagian obgyn. Sayangnya kandungan ibu Ale itu agak sedikit bermasalah karena ibu Ale pikiran dan stress. Itu yang pernah dr Ningsih keluhkan dengan saya. Sampai kalau tidak salah, pak Gani khusus mencari dokter yang stand by 24 jam sehari agar menolong kondisi ibu Ale yang selalu stress.” Jelas dr Sava yang membuat Ray semakin yakin kalau sebenarnya itu adalah anaknya. Emang sebelum ke Batam ia sudah berjanji dengan Ale untuk program anak ke 2. Ia semakin menyeesal mendengar kalau Ale dan anak dalam kandungannya bermasalah karena dirinya. Ia yakin Ale pasti sudah tahu dari  bulan kemarin karena tak mungkin Ale stress kalau bukan karena itu.


Ray menyesali kebodohannya, ia menyesali nafsunya yang membuatnya ia bakal kehilangan istri yang baik dan kedua anak yang lucu.


“Baiklah, dok! Saya akan mencoba menghubungi dokter kandungannya, dr Ningsih untuk emndapatkan rekap jelas tentang kelemahan kandungannya dan apa yang menganggu pikirannya selamaa ini.” Kata Ray sambil menjabat tangan dokter Sava dan pamit undur diri.


Ia menimbang nimbang apakah ia akan menemui dr Ningsih atau kah cukup dengan penjelasan dari dr Sava. Tapi ia bertekat untuk mengetahui dari mula, kalau dnegan dokter Ningsih ia akan dapat penjelasan yang lebih jelas daripada dari dr Sava.


Di luar ruangan, ia mencari bagian reception agar ia bisa menemukan ruangan dr Ningsih. Dan sekalian mendaftar di ruangan dr Ningsih memakai nama istrinya. Kebteulan ia menjadi orang terakhir di dokter kandungan itu. Ketika ia dipanggil dengan nama istrinya, ia langsung masuk membuat dr Ningsih jadi kebingungan.


“Ada perlu apakah ya pak? Saya tadi memanggil ibu Alesya, dan saya masih di jam praktek jadi kalau menawarkan obat bisa menunggu sesudah sessi pemeriksaan pasien saya.” Kata dr Ningsih yang juga ragu apakah orang di hadapannya itu merupakan sales obat. Karena penampilannya sama sekali tidak mirip dengan sales obat, lebih mirip jadi artis atau model.


“Saya..”


 .


.


.


TBC


Wk wk gantung ah , jangan lupa dengan vote dan like serta giftnya yaaa!! Besok pasti ku up lagi satu… makasih