Benih CEO

Benih CEO
Bab 78


Tasya meringis ngilu melihat ibu hamil yang sebentar lagi akan lahiran itu duduk di balik kemudi. Kalau saja Devan tau akan hal ini, bisa-bisa Devan marah besar pada Tasya. Mengira kalau Tasya yang mengajak Kania pergi dan membiarkan Tasya menyetir mobil sendiri.


"Aku aja deh, Ka, yang nyetir. Kalau Devan tau, aku habis sama dia."


"No, Tasya. Ayolah. Biarin aku menyetir sendiri. Habis ini bakalan lama nggak bisa nyetir mobil sendiri, pergi-pergi begini."


"Perkiraan lahir kapan, sih?"


"Seminggu lagi."


"Hah?" Berbeda dengan Kania yang terlihat santai, Tasya sudah panik sendiri. Seminggu lagi itu cuma perkiraan dokter. Tapi Kania bisa melahirkan kapan saja. Bahkan hari ini pun bisa. "Udah, pinggirin mobilnya. Biar aku yang nyetir. Atau kita nggak jadi pergi hari ini,"perintah Tasya dengan tegas.


Kania menggeleng santai dan masih tetap melajukan mobilnya. "Nanti pas pulang aja kamu yang nyetir, ya. Sekarang biarin aku yang bawa. Udah dekat, kok. Sepuluh menit lagi juga sampai. Yang tenang ya, calon istri Om Ryan."


Tasya mengalah. Membiarkan Kania mengemudikan mobilnya sampai ke klinik kecantikan tempat mereka akan melakukan perawatan.


Sebelum melahirkan, Kania ingin melakukan perawatan. Karena setelah melahirkan nanti, belum tau kapan dia bisa melakukan perawatan lagi yang biasanya rutin dia lakukan setiap bulan.


Saat baru saja turun dari mobil, Kania merasakan adanya kontraksi.


"Kenapa, Ka?" Tasya terlihat panik dan mendekati Kania yang menghentikan langkahnya dan memegangi perutnya.


Kania menggeleng. "Enggak apa-apa. Dedeknya nendang."


"Yakin?"


Kania mengangguk pasti. Tak ingin membuat Tasya khawatir karena belum tentu yang dia rasakan adalah kontraksi yang sebenarnya. Bisa saja hanya kontraksi palsu seperti yang sudah terjadi kemarin-kemarin.


"Yuk, masuk." Ajaknya membuyarkan kekhawatiran Tasya.


Meskipun tak yakin Kania baik-baik saja, Tasya tetap mengikuti langkah Kania yang sudah masuk ke dalam klinik langganan mereka.


Kania melakukan berbagai perawatan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tubuh, tangan dan kakinya juga mendapat pijatan lembut sehingga terasa lebih rileks dan siap jika setelah ini sudah waktunya melahirkan karena sejak tadi kontraksi itu datang semakin sering.


Tiga jam lamanya mereka melakukan perawatan. Tasya dan Kania sudah bersiap untuk pulang.


"Sya."


"Ya, Ka?"


"Ke rumah sakit langsung, ya?"


"Hah? Kenapa? Ngapain ke rumah sakit?"


"Kayaknya mau lahiran ini."


"Apa?"


Dengan cepat Tasya meminta bantuan untuk membawa Kania ke dalam mobil. Dalam pikiran Tasya, Kania harus segera sampai ke rumah sakit sebelum Kania melahirkan di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Nggak usah panik, Sya. Masih bisa ditahan, kok."


"Iya."


Meskipun begitu, Tasya tetaplah merasa panik. Bagaimanapun juga ini adalah pengalaman pertama baginya berada di dekat orang yang akan melahirkan. Dia tidak tau harus melakukan apa selain mempercepat laju mobil menuju rumah sakit.


"Maaf, ya, malah ngerepotin kamu jadinya. Aku nggak tau kalau bakal lahiran sekarang."


"Memangnya tadi anak kamu nggak bilang dulu kalau mau lahir hari ini?" Tasya berusaha mencairkan suasana. Berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak terlalu panik.


Kania terkekeh pelan mendengar pertanyaan Tasya yang terdengar sangat konyol. "Tadi pas aku WhatsApp tanya kapan mau lahir, nggak dibalas sama dia. Kuota internet dia mungkin habis," balas Kania tak kalah konyolnya.


Keduanya lantas tertawa. Kekhawatiran di wajah Tasya sudah sedikit berkurang melihat Kania yang terlihat biasa saja.


Namun tawa Tasya terhenti saat melihat Kania meringis menahan sakit dan meremas dress-nya dengan erat. "Sakit, ya, Ka? Sebentar, ya."


Tasya sempat tercenung sebentar. Dia membayangkan kelak akan merasakan apa yang Kania rasakan. Hamil dan melahirkan seorang anak. Tasya tak sabar menanti hari itu. Rasanya ingin mempercepat hari pernikahannya dengan Ryan.


Sesampainya di rumah sakit, Kania langsung dibantu untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Sedangkan Tasya sibuk menelepon Devan beserta kedua orangtua Devan untuk mengabarkan kalau Kania sedang berada di rumah sakit dan akan segera melahirkan.


🌼🌼🌼


Kania mencengkeram erat tangan Devan saat kontraksi datang. Buliran keringat membasahi dahi Kania. Dokter mengatakan kalau sekarang sudah pembukaan delapan. Sebentar lagi, mereka akan bertemu dengan malaikat kecil yang selama sembilan bulan lamanya berada di dalam kandungan Kania.


Berkali-kali Devan mengecup kening Kania dan membisikkan kata-kata cinta untuk menguatkan dan memberi semangat kepada Kania.


Devan juga memijat pelan pinggul Kania, berharap bisa sedikit membantu meredakan nyeri meskipun kenyataannya tak berefek sedikitpun.


"Sakit, Mas," rintih Kania sambil meneteskan air mata. Tangannya mencengkram erat tangan. Devan tak peduli rasa perih yang tercipta karena kuku Kania yang menggores tangan dan lengan Devan.


Karena Devan tau, sakit yang dia rasakan tak sebanding dengan sakit yang Kania rasakan.


"Iya, Sayang. Yang kuat, ya." Devan pun turut meneteskan air matanya. Tak tega melihat sang istri kesakitan melewati perjuangan kali ini.


Sebelumnya Devan sudah menawarkan untuk operasi saja saking tidak teganya dia melihat Kania kesakitan.


Namun dengan tegas Kania menolak. Dokter mengatakan dia tidak memiliki kendala apapun untuk bisa melahirkan normal. Sebab itu Kania kekeh ingin menjalani persalinan normal.


Meskipun mau melahirkan secara normal ataupun operasi sama saja. Sama-sama berjuang untuk melahirkan. Tapi Kania tidak ingin berada di dalam ruang operasi kecuali jika dalam keadaan terpaksa.


Perjuangan seorang ibu tidak diukur dari cara dia melahirkan anak-anaknya ke dunia.


Para orangtua, dan tak ketinggalan Shaka, yang berada dil luar ruang bersalin pun turut was-was menanti kehadiran keluarga baru mereka.


Ingin tahu bagaimana keadaan Kania sekarang. Namun, sayangnya hanya satu orang saja yang diperbolehkan untuk menemani Kania di dalam. Jadi hanya Devan-lah yang berada di dalam untuk menemani Kania.


"Mas, aku minta maaf, ya, kalau aku banyak salah."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan karena kamu tidak pernah berbuat salah, Sayang. Kamu sempurna di mataku."


Bukan tanpa alasan Kania mengucapkannya.


Melahirkan adalah sebuah perjuangan antara hidup dan mati. Kania pun hanya bisa berpasrah jika memang hari ini adalah hari terakhirnya di dunia asalkan anaknya bisa lahir dengan selamat.


Tapi dia selalu berdoa agar Allah memberinya keselamatan agar bisa membersamai anak-anaknya sampai mereka dewasa. Dan bisa terus bersama Devan, lelaki yang dicintainya.


"Pembukaan sudah lengkap, ya, Bu. Ikuti instruksi saya, ya, Bu. Ibu hanya boleh mengejan kalau ada instruksi dari saya. Tarik nafas, ibu."


Kania mengikuti instruksi dokter untuk mengejan. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Devan. Devan terus menerus membisikkan kata-kata yang menguatkan Kania.


Sepuluh menit berlalu, namun Kania belum berhasil mengeluarkan bayinya. Tenaganya semakin lemah. "Aku udah nggak kuat, Mas."


"Sebentar lagi anak kita lahir, Sayang. Yang kuat, ya. Kamu hebat," sahut Devan sambil menciumi kening Kania.


"Ayo, Bu Kania. Kepala dedek bayinya sudah terlihat. Maasyaaallah."


Devan mengusap perut Kania dan menciumnya berulangkali sambil berucap, "bantu bunda ya, Sayang. Kita berjuang bersama."


Kania seperti mendapatkan kekuatan baru. Tangannya kembali mencengkeram erat tangan Devan dan mengejan sekuat-kuatnya dengan sisa tenaga yang dia miliki.


Hingga ada sesuatu yang mengganjal keluar dari sela pahanya, disertai dengan tangisan keras seorang bayi yang menggema di seluruh sudut ruangan.


"Alhamdulillah. Alhamdulillah, Sayang. Kamu berhasil, kamu hebat." Tangis Devan pecah menyaksikan sendiri bagaimana wanitanya berjuang melahirkan anaknya yang kini sedang di bersihkan oleh para perawat dan diperiksa kelengkapan dan kesehatan tubuhnya.


Kania tersenyum dan meneteskan air mata haru, air mata bahagia. Kania tertawa lemah menerima ciuman Devan yang bertubi-tubi. Tak henti-hentinya bibir keduanya mengucap syukur atas lahirnya anggota keluarga baru yang mereka nantikan selama ini.


🌼🌼🌼


pendek dulu, ya. masih repot banget πŸ™πŸ™ siapin kadonya buat jenguk bayinya Devan dan Kania. πŸ˜„πŸ˜„