Benih CEO

Benih CEO
Bab 43


Kania sudah mulai bekerja di toko kue milik Rinda. Setelah kemarin melewati sesi interview meskipun hanya untuk formalitas saja, Kania di minta untuk mengelola toko kue tersebut karena pengalaman yang dia miliki.


Jadi Rinda hanya sesekali datang ke sana untuk mengecek perkembangannya. Laporan dan segala macamnya bisa Kania kirimkan lewat email.


Senangnya Kania tak terkira lagi. Mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Meskipun kepercayaan yang di berikan untuknya cukup besar, tapi Kania berusaha untuk mampu melaksanakannya.


Di bantu Lula sebagai kasir, Bu Ratna dan Bu Ayu sebagai pembuat kue. Sesekali Kania juga ikut serta dalam pembuatannya. Hitung-hitung sebagai sarana untuk mengasah kemampuannya lagi dalam membuat kue.


Perihal Devan, anak itu masih terus saja menghubunginya lewat telepon dan spam chat. Sempat berusaha menemuinya di rumah, tapi Kania meminta kedua orangtuanya untuk tidak mengijinkan Devan masuk.


Tadinya seperti itu, tapi Shaka tidak terima ayahnya itu di usir begitu saja. Shaka malah menahan Devan berjam-jam di rumah sederhana itu. Membuat Kania harus rela berdiam diri di kamar sampai Devan pergi dari rumah Kania.


Demi kenyamanan hati dan pikirannya, Kania sengaja memblokir nomor handphone Devan agar manusia itu tak bisa lagi menghubungi Kania.


Tapi bukan Devan namanya kalau dia tak berhasil mengganggu hidup Kania lagi.


Tiba-tiba saja Devan sudah muncul di depan toko kue. Kania membelalakkan matanya dan mencari cara untuk bersembunyi. "Lula, kalau ada yang cari aku, bilang kalau aku udah pulang, ya."


"Tapi, Mbak_"


Kania sudah lari terbirit-birit ke arah dapur tanpa menunggu jawaban Lula. Dalam hati Kania berharap anak itu bisa di ajak bekerja sama.


"Permisi. Di sini ada yang namanya Kania?"


Kania yang menguping di balik dinding pembatas pun berdebar hatinya setelah mendengar suara berat Devan.


"Ada, Pak."


"Bisa saya bertemu dengan Kania?"


"Emm... Tadi udah pulang, Pak." Jawaban Lula membuat Kania bernapas lega. "Baru aja lewat pintu belakang," lanjut Lula yang membuat Kania menepuk keningnya sendiri.


Dia lupa kalau Lula tipe orang yang tidak bisa di ajak berbohong. Memang anak yang baik. Pintarnya Bu Rinda pilih kasir. Jujur banget anaknya. Bohong dikit nggak bisa. Kania membatin.


Devan yang kelewat cerdas pun tak bisa di bohongi begitu saja. Kania pikir, Devan belum sempat melihatnya.


Kania salah. Bahkan sejak Devan masih di dalam mobil pun Devan sudah bisa melihat Kania di balik etalase kue bersama gadis polos yang ada di hadapan Devan.


Devan juga tahu betapa paniknya wajah Kania saat melihat Devan keluar dari dalam mobil. Hanya saja Devan yang mengenakan kacamata hitam membuat Kania tidak sadar kalau diam-diam Devan memperhatikan Kania.


"Ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu." Devan berpamitan dan keluar dari toko kue tersebut. Kania bisa bernapas lega sekarang sebab Devan tidak dapat menemuinya.


***


"Dor!"


"Aaaa!!!"


Kania memekik kaget karena seseorang dengan kurang ajarnya membuat Kania mengagetkan dirinya.


"Iih, rese banget, sih! Nyebelin, kurang kerjaan!!!" Dengan tenaganya yang kuat, Kania memukuli lengan pelaku utamanya.


"Kenapa, sih, harus menghindar?" Devan, sang pelaku menangkap kedua tangan Kania yang masih memukulinya.


Kania menyentak tangan Devan dengan kasar. "Jangan pegang-pegang!"


"Oke, fine!" Devan mengangkat kedua tangannya. Menyerah, tak lagi berusaha untuk menahan kedua tangan Kania.


Pikir Kania, Devan sudah pergi dari toko. Tapi ternyata Devan sengaja menunggu Kania sampai jam kerja Kania usai.


Baru kali ini Devan di buat menunggu seseorang. Apalagi orang yang sebenarnya tidak terlalu penting dalam hatinya, namun penting bagi kelangsungan jabatannya di kantor papanya sendiri.


"Aku cuma mau minta maaf."


Memaafkan Devan sudah Kania lakukan. Tapi tidak untuk tetap berbuat baik pada Devan. Tak apa Kania di bilang menyimpan dendam atau apalah itu. Devan memang pantas mendapatkan hal itu meskipun Kania yakin Devan tak peduli dengan apa yang di rasakan Kania.


"Kalau begitu, menikahlah denganku."


Tatapan tajam Kania berikan untuk Devan. Entah ada angin apa Devan terus menerus meminta Kania untuk menjadi istrinya. "Kenapa maksa banget, sih? Apa alasan kamu? Apa yang kamu dapat dari menikahi aku?"


"Tentu saja untuk memberi status yang jelas untuk anakku. Kamu pikir sampai dia besar nanti nggak butuh nama ayahnya?" Devan menjawabnya dengan santai. Tentu dengan memutar alasan. Tidak mungkin juga Devan akan mengatakan kalau jabatannya di pertaruhkan. Bisa-bisa Kania menolak mentah-mentah ajakannya untuk menikah.


"Kenapa harus kamu? Aku bisa menikah dengan laki-laki lain dan memakai nama laki-laki itu untuk menjadi ayah Shaka."


"Ya karena aku ayahnya Shaka. Aku tidak mau jika ada orang lain lagi yang dia panggil ayah selain aku."


"Egois! Aku nggak mau. Jangan harap aku mau menikah dengan kamu."


Devan menghembuskan napas kesal. Kenapa begitu susahnya meminta Kania untuk menjadi istrinya.


Seandainya sejak awal dia bisa bersikap baik pada Kania, mungkin tidak begini ceritanya. Akan mudah bagi Devan untuk meminta Kania menjadi istrinya.


Sayangnya, pemikiran Devan tidak sampai di sana.


"Oke. Kita buat perjanjian."


"Perjanjian apa lagi!?" Kania memekik kesal. Sebenarnya sudah lelah dan tak ingin lagi berurusan dengan Devan.


"Kalau dalam dua Minggu ke depan kita bisa bertemu tanpa di sengaja sebanyak lima kali, maka kamu harus mau menikah denganku."


"Hah?" Kania terperangah mendengar ucapan Devan. Perjanjian macam apa yang Devan berikan? Jelas itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Setiap weekend Kania sudah pasti mengantar Shaka ke rumah Devan untuk shooting. Dan sudah pasti akan bertemu Devan di sana. "Perjanjian macam apa itu? Enggak mau! Orang setiap weekend aku ke rumah kamu."


"Itu namanya sengaja ketemu. Maksud aku kalau kita ketemu di jalan, misalnya. Mall, atau lainnya."


"Oke." Kania menyetujui setelah memikirkan apa yang di katakan Devan. Tidak mungkin rasanya mereka akan bertemu di jalan, mall, atau tempat umum lainnya. Yang Kania tahu, dunia Devan hanya kantor dan rumah saja. "Kalau ternyata nggak bisa ketemu sebanyak lima kali, jangan lagi kamu mengganggu hidupku. Urusan kamu hanya dengan Shaka."


Devan tersenyum licik. "Oke!" jawabnya tanpa ragu. Karena semua bisa Devan dapatkan dengan cara apapun itu.


🌼🌼🌼


"Masih berani pulang ke rumah setelah mempermalukan keluarga?"


Sapto sudah berdiri di ambang pintu saat Rama baru saja menghentikan mobilnya di parkiran rumahnya.


Seminggu setelah Rama kabur dari acara pertunangannya, baru hari ini Rama kembali menginjakkan kakinya di pelataran rumahnya.


"Usia kamu berapa, Rama? Kenapa kamu tidak bisa berpikir jernih saat akan bertindak? Kamu nggak paham kalau tindakan kamu itu membuat semua orang malu?"


Rama mengangkat wajahnya. Memandang ayahnya tanpa rasa takut dan bersalah sedikitpun. "Harusnya kalian juga sudah berpikir apa akibat dari memaksakan sesuatu yang tidak aku sukai. Kalau begini akhirnya, itu bukan hanya kesalahanku saja."


Plak!


"Berani kamu melawan Papa? Mau jadi anak durhaka kamu?" Satu tamparan keras mendarat di pipi Rama seiring dengan amarah Sapto yang memuncak.


"Kalau kamu masuk ke dalam rumah, itu artinya kamu memilih melanjutkan pertunangan dengan Dita. Tapi kalau tidak ada niatan untuk melanjutkan, lebih baik kamu pergi lagi dan jangan pernah pulang lagi. Papa dan mama tidak butuh anak yang suka membangkang seperti kamu."


Rama mengangguk paham. Dan dia sudah menentukan pilihan. Rama memutar kembali badannya dan kembali masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan kembali rumah yang dia tempati selama dua puluh lima tahun ini.


Rama akan memperjuangkan Kania kembali. Dia akan membuktikan bahwa dia benar-benar mencintai Kania dan akan memperjuangkan Kania bagaimanapun caranya.


🌼🌼🌼


Dikit dulu di sela-sela antri vaksin.. 😁😁