Benih CEO

Benih CEO
Bab 57


"Berhenti bersikap seolah kamu peduli."


Devan tercenung dengan sikap Kania yang berubah menjadi begitu dingin padanya. Kania tak memberi ruang sedikit pun bagi Devan untuk menjelaskan semuanya.


Lagipula apa yang akan dia jelaskan? Kenyataan dia menikahi Kania hanya karena tidak ingin kehilangan jabatan, itu sudah jelas.


Tidak. Secara tidak langsung Devan hanyalah mencari pembenaran untuk dirinya sendiri. Berusaha meminta Kania untuk mengerti posisinya tanpa memikirkan perasaan Kania.


Hanya Devan merasa ada sesuatu yang hilang saat Kania mendiamkannya.


Devan tidak lagi melihat wanita itu mengomel sepanjang malam karena baju kotor Devan diletakkan begitu saja di lantai.


Devan tidak mendengar suara penggorengan yang begitu berisik di pagi hari.


Devan tidak mendengar teriakan menggema dari dapur saat Devan masih asyik bersantai padahal waktu sudah semakin siang.


Devan juga tidak mendengar cerewetnya ibu dan anak yang saling bertukar tanya dan pendapat sembari bersiap-siap.


Pagi harinya terasa sepi. Dan semua karena ulahnya sendiri.


"Aku minta maaf, Ka. Bukan maksud aku untuk memanfaatkan kamu. Tapi_"


"Ya karena memang kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri. Kamu nggak mikirin perasaan aku dan Shaka. Andai Shaka sudah paham, dia pasti juga akan marah sama kamu. Aku menerima kamu itu demi Shaka. Tapi ternyata kamu memintaku untuk menjadi istri kamu karena kamu tidak mau kehilangan harta kamu. Egois."


"Maaf," ucap Devan pelan.


"Kamu tahu, Van. Selama ini aku mati-matian meyakinkan diri aku bahwa ini takdir hidupku. Perlahan bisa menerima kamu dan berusaha untuk menjadi istri yang baik setiap harinya. Tapi kemarin, kamu mematahkan semua usaha aku, Van. Kepercayaanku sudah hilang, hancur. Aku pikir aku berjuang dan bertahan untuk orang yang tepat. Ternyata aku memperjuangkan orang yang hanya memanfaatkan aku."


Meskipun tubuhnya masih terasa lemas dan kepalanya masih sangat pusing, Kania menguatkan diri untuk beranjak dari tempat tidur. Turun ke dapur dan menyiapkan makanan sendiri.


Dalam waktu tiga puluh menit, sup ayam sudah tersaji di atas meja. Penuh perjuangan bagi Kania untuk bisa menyelesaikan masakannya karena Kania harus sering-sering duduk akibat kepalanya yang masih sakit. Padahal, biasanya Kania hanya butuh waktu dua puluh menit untuk memasak sup ayam.


Devan menghela napas kecewa saat makanannya tak disentuh sama sekali oleh Kania. Dan Kania lebih memilih memasak makanannya sendiri ketimbang bubur yang dibawa Devan.


"Devan, Kania!"


Suara Hanum menggema di seluruh ruangan. Mengejutkan Devan dan Kania yang sedang perang dingin di meja makan.


"Katanya Kania sakit?" tanya Hanum yang langsung menghampiri keduanya di meja makan.


Kania melirik Devan. Langsung bisa berpikir kalau Devan mungkin yang memberitahu Hanum.


"Mama tahu dari mana?" tanya Devan. Mematahkan pemikiran Kania.


"Tau dari Pak Heru. Sopir Mama sakit, terus telepon Pak Heru buat jemput Mama. Pak Heru cerita sama Mama kalau Kania sakit. Ya udah Mama kesini dulu sebelum ke kantor. Kania udah makan, ya? Mama bawa buah-buahan."


Kania tersenyum meskipun bibirnya terlihat pucat. Melihat Hanum, mungkin Hanum juga tahu alasan Devan menikahi dirinya.


Entah harus marah atau tidak, Kania sendiri bingung. Sikap Hanum begitu baik, bahkan memperlakukan dirinya seperti anak Hanum sendiri. Tak jarang Hanum lebih membela Kania daripada Devan.


"Cuma pusing aja, Ma. Aku nggak apa-apa, kok."


"Atau mungkin lagi hamil?"


Kania membelalakkan matanya. Hamil? Darimana dia bisa hamil sedangkan berhubungan dengan Devan saja belum pernah.


"Enggak kok, Ma." Kania menggeleng tegas.


"Udah ditest?"


"Nggak perlu, Ma. Aku lagi datang bulan, kok."


Hanum sedikit kecewa mendengar Kania sedang datang bulan. Raut wajahnya dibuat biasa saja tanpa menunjukkan kekecewaannya. "Ya sudah, namanya juga pengantin baru. Biar pacaran dulu, mungkin. Kalau udah waktunya nanti juga dikasih."


Kania tersenyum sungkan dan mengiyakan ucapan Hanum.


Melihat Kania dan Devan yang duduk berjauhan dan saling diam, Hanum rasa mereka sedang ada masalah.


Namun Hanum tak ingin bertanya banyak, tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tangga anaknya. Mereka berdua sudah dewasa, tentu bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Kalau dulu Devan belum menikah dengan Kania, Hanum akan memberikan pendapat dan nasihat tanpa diminta.


Tapi keadaannya sekarang sudah berbeda. Devan sudah menjadi kepala rumah tangga dan sudah seharusnya dia bisa mencari solusi untuk masalah mereka sendiri.


"Iya, Ma." Kania mengangguk mengerti.


"Mau aku antar aja, Ma?" Devan bersuara.


"Enggak usah. Kamu temani Kania di rumah."


"Baik, Ma. Hati-hati, ya."


"Iya."


***


Setelah menikmati sarapan dan minum obat yang sebenarnya Kania tak bernafsu untuk memakannya, Kania kembali beranjak ke dapur. Lanjut masak makan siang sederhana saja untuk Shaka dan Devan.


Dalam keadaan hatinya yang begitu kecewa, Kania masih berusaha menjadi istri yang baik dengan tidak melupakan tugasnya untuk menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya.


"Udah, Ka. Nanti pesan makanan matang aja. Kamu istirahat biar cepat sehat."


"Orang kaya, maklumlah. Apa-apa beli, apa-apa di ukur pakai uang."


Devan menarik napas panjang. Membisikkan kata sabar untuk dirinya sendiri. Padahal, bukan hanya orang kaya saja yang bisa pesan makanan matang. Siapapun bisa melakukannya asalkan uangnya cukup.


"Kan, uangnya juga bisa berguna bagi yang lain. Yang jual makanan dia bisa untung, yang ngantar makanannya juga dapat untung. Hitung-hitung berbagi sesama, Ka. Bukannya justru kamu yang lebih peka dalam hal membagi rejeki begini?"


Iya juga, ya? Kania membatin, membenarkan ucapan Devan. Ah, orang kalau lagi marah suka tidak dipikirkan terlebih dahulu kalau bicara.


Dengan pesan makanan, dia bisa memberi keuntungan untuk orang lain. Dia juga bisa istirahat dengan tenang dan bisa segera pulih.


"Kalau mau pesan makan, pesan untuk kamu dan Shaka aja. Aku pengen makan masakan aku sendiri." Untuk menutupi rasa malunya, Kania menyelesaikan masakannya yang sudah terlanjur berada di atas kompor.


🌼🌼🌼


[ Ka, udah baca berita belum? Ada tabrakan beruntun dan salah satunya mobil Devan. Semua korban dievakuasi ke rumah sakit terdekat. ]


[ Devan benar-benar ada di mobil itu, Ka. Dia menjadi korban di kecelakaan itu. Aku baru mau ke rumah sakit sekarang. Angkat telpon aku, Kania. ]


[ Kania, kamu dimana? Devan kecelakaan. ]


[ Ka, ya Allah... Kamu dimana, Nak? Mama perjalanan ke rumah sakit sekarang. Devan kecelakaan. ]


Jantung Kania berpacu lebih cepat setelah membaca pesan dari Tasya, dan juga ibu mertuanya.


Sejak pagi dia sibuk di toko dan handphonenya dalam mode silent. Sehingga puluhan panggilan dan puluhan chat dari kedua orang tersebut tidak diketahui oleh Kania.


Mencoba mencari berita di internet, ternyata benar. Plat nomor mobil Devan tertulis di artikel.


Devan Aditama, CEO Aditama Group terlibat kecelakaan beruntun di...


Mobil ringsek, kondisi Devan Aditama belum diketahui.


Devan Aditama menjadi korban kecelakaan. 3 orang meninggal dunia dan lainnya luka-luka.


Kaki Kania terasa lemas membacanya. Perasaannya begitu takut, takut kalau Devan sampai terluka parah.


Apalagi dia masih mendiamkan Devan semenjak tiga hari yang lalu. Bahkan pagi tadi Devan masih berusaha meminta maafnya. Tapi Kania masih enggan membuka suara.


Bagaimana kalau Devan pergi dan dia belum sempat memaafkan Devan?


"Kenapa, Ka?" Imas terlihat begitu panik melihat Kania yang terlihat kacau.


"Devan kecelakaan, Mbak," jawab Kania dengan suara bergetar. "Aku belum sempat maafin dia. Kalau dia kenapa-kenapa gimana, Mbak?"


"Ssstt... Udah, udah. Sekarang Mbak antar kamu ke rumah sakit. Kamu yang tenang, ya. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu."


Keadaan toko begitu ramai saat kecelakaan itu terjadi. Barang datang bersamaan dengan pengunjung yang membludak. Hingga tak ada satupun yang memegang handphone dan mengetahui perihal kecelakaan tersebut.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Kania hanya bisa berharap dan berdoa semoga Devan tidak kenapa-kenapa.


🌼🌼🌼


Apakah ini kurang banyak? πŸ˜‚ mau buat mereka saling cinta dulu lah. author aja gemes sama Mas Devan dan Mbak Kania πŸ˜…πŸ˜