
Kania semakin salah tingkah saat Devan menyentuh dagunya, dan mengangkatnya sedikit sehingga Kania bisa menatap Devan dengan jarak yang begitu dekat.
Kedua tangan Kania yang mencengkeram kaos Devan pada bagian pinggang pun semakin kencang. Jantungnya berdebar menanti apa yang akan Devan lakukan selanjutnya.
Ini pertama kalinya mereka sedekat ini. Selama dua bulan pernikahan, tak sekalipun Kania mengijinkan Devan menyentuhnya sedikit saja. Kecuali saat bersalaman setiap pagi sebelum Devan berangkat bekerja.
Atau saat pagi hari mereka terbangun dalam keadaan berpelukan di atas ranjang. Tentu hal itu tak disadari oleh keduanya. Atau hanya Kania sendiri yang tidak sadar karena tidurnya yang terlalu nyenyak.
Kania seperti tidak peduli dengan Devan yang tersiksa hampir setiap malam karena harus menahan gejolaknya. Tidur satu ranjang, bersama istri sah, halal untuk melakukan apapun, tapi Devan tak diijinkan untuk itu. Rasanya begitu tersiksa dan kadang membuatnya harus mandi tengah malam untuk meredakan apa yang menyiksanya sepanjang malam.
Perlahan, kedua bibir itu menyatu membuat Kania memejamkan matanya saat itu juga. Keduanya semakin larut diiringi tangan Devan yang semakin aktif bergerak.
Hingga satu dorongan kecil pada dada Devan yang Kania lakukan menghentikan semuanya. "Kenapa?" tanya Devan dengan sorot matanya yang begitu sayu, menahan sesuatu.
"Aku belum bilang kalau aku belum selesai datang bulan. Main nyosor aja, sih!"
"Apa?" seru Devan dan langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
Devan segera berlalu dari hadapan Kania dan berjalan ke kamar mandi sambil menggerutu kesal. "Tega banget nyiksa suami," ujarnya yang membuat Kania tertawa geli.
***
Malam ini, ada yang berbeda dari Devan dan Kania. Biasanya, mereka akan tidur tanpa menunggu satu sama lain. Terutama Kania. Biasanya dia akan tidur terlebih dahulu tanpa menunggu Devan masuk ke kamar. Tak peduli dengan apa yang dilakukan Devan, selama Devan sudah sampai rumah, Kania tidak akan khawatir.
Namun malam ini keduanya berbaring menatap langit-langit kamar dan Kania menjadikan lengan Devan sebagai bantalnya.
Tidak dipungkiri bahwa hati keduanya kini telah berbunga. Meskipun belum ada kata cinta yang terucap diantara keduanya, namun interaksi antara Devan dan Kania menunjukkan bahwa mereka saling nyaman jika berdekatan.
Mereka pernah melalui suatu hal yang membuat mereka takut untuk kehilangan satu sama lain. Kecelakaan Devan pagi tadi membuat Kania belajar untuk memaafkan kesalahan orang lain dan dia pun meminta maaf pada orang lain jika memang dia bersalah.
Umur tidak ada yang tahu. Semua tinggal menunggu giliran karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Satu tangan Kania digenggam erat oleh Devan. Sesekali ibu jarinya mengusap tangan Kania. Sentuhan lembut itu membuat hati Kania berbunga.
"Aku minta maaf," ucap Devan pelan. Kania mendongak, memandang wajah Devan.
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang telah aku lakukan dan membuat hidup serta mimpimu berantakan."
Kania menunduk lagi. Memandang tangannya yang masih berada di genggaman Devan.
"Ceritakan hari burukmu setelah malam itu, Ka," pinta Devan.
Sebenarnya, Kania tak mau lagi mengingat semua itu. Bisa dikatakan dirinya kini sudah bahagia meskipun Kania yakin masih banyak ujian lagi bagi keduanya di hari-hari berikutnya.
Kania menghembuskan napas panjang sebelum mulai membagi kisah hidupnya dimana Devan adalah penyebab utamanya. "Tentu saja hari-hariku begitu buruk saat itu. Aku nggak tenang, dihantui rasa takut, merasa diriku sangat kotor, dan tidak ada lagi yang bisa aku banggakan sebagai seorang perempuan. Aku cuma bisa berharap, malam itu tidak membuatku hamil. Tapi ternyata Allah tidak mengabulkan doaku. Aku hamil, dan diusir Bapak."
Devan memejamkan matanya, terdiam mendengar cerita Kania.
"Aku bingung, semakin hancur, tidak tahu harus kemana, tidak tahu harus berbuat apa. Balik ke kos-an aku juga malu. Mikirin kuliahku juga, dan sudah pasti aku didrop out dari kampus jika ketahuan hamil di luar nikah. Aku berpikir kalau aku mati, semua akan selesai. Nggak ada gunanya aku hidup. Sudah tidak dianggap anak, menanggung malu sendirian, hamil, mengasuh anak sendiri. Aku rasa aku nggak sanggup sampai akhirnya aku memutuskan untuk terjun dari jembatan agar hidupku berakhir. Hampir saja aku melakukannya sebelum Rama datang dan dia menjadi malaikat penolongku."
Rasa cemburu itu menyusup ke dalam hati Devan saat Kania menyebut nama lelaki lain. Namun dia sadar, dia tak berhak marah karena semua juga salah Devan sendiri.
Saat itu dia terlalu santai dengan tidak memperdulikan keadaan Kania setelah malam itu. Bahkan berusaha mencari Kania untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pun tidak.
Baru saat Devan merasakan gejala ngidam, Devan berinisiatif untuk mencari Kania. Namun sayangnya, saat itu Kania sudah pergi jauh dari kota Surabaya.
"Terus kenapa Mama bisa ketemu kamu di tempat yang jauh dari Surabaya?"
"Rama bawa aku ke rumahnya yang ada di kampung. Aku nggak mikir-mikir lagi karena memang aku butuh tempat untuk menepi. Menghindari cibiran orang yang mengenalku. Bahkan di sana pun aku berusaha menggugurkan kandungan aku, Van. Andai Rama tidak datang tepat waktu, mungkin Shaka tidak akan pernah lahir."
Hati Rama semakin tersiksa. Lagi-lagi Rama yang menjadi pahlawan bagi Kania. Memang semua sudah berlalu. Tapi mendengar ceritanya saja Devan sudah sangat cemburu. Apakah ini tanda kalau hatinya mulai mencintai Kania?
"Hentikan berbicara tentang Rama, Ka."
Kania terdiam. Lalu menatap Devan dengan penuh tanya. "Kenapa?"
"Kamu pikir membicarakan lelaki lain di antara kita itu baik?"
"Kan, kamu yang minta aku cerita tentang hidup aku."
"Mana aku tahu kalau semua kisah hidup kamu ternyata ada Rama di dalamnya."
Kania tertawa kecil mendengar jawaban Devan yang terlihat kesal. Wajahnya pun terlihat begitu kesal sehingga tak ingin menatap Kania.
"Kok, malah ketawa? Emang ada yang lucu?" seru Devan yang semakin kesal.
"Enggak. Aku nggak cemburu." Devan mengelak.
"Oh, nggak cemburu. Ya udah, besok rencananya aku mau meet up gitu sama teman kuliah aku dulu. Ada Rama juga, sih."
"Nggak ada! Nggak ada meet up sama teman. Besok kamu ikut aku ke kantor." Dengan cepat Devan memotong ucapan Kania. Pikirannya mendadak tak tenang kalau besok Kania benar-benar bertemu dengan Rama.
Padahal, Kania berbohong soal bertemu dengan teman kuliah. Kenyataannya tak ada satupun teman kuliahnya dulu yang menghubunginya atau dekat dengannya kecuali Tasya. Semua dia lakukan demi memancing reaksi Devan.
"Ngapain aku ikut ke kantor?"
"Biar kamu nggak pergi kemana-mana."
Kania tertawa kecil dengan hati yang terasa bahagia. Fix, Devan cemburu! batinnya bersorak.
"Aku nggak mau ikut ke kantor, Van," ucap Kania lagi.
Namun Devan justru merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Kania. Matanya terpejam seiring dengan tarikan lembut pada pinggang Kania agar Kania semakin menempel dengan tubuh Devan.
"Aku nggak terima penolakan. Sekarang tidur."
"Ih, maksa banget!"
"Tidur, Kania! Sebelum kamu tidak akan bisa tidur setiap malam setelah kamu selesai datang bulan nanti."
Kania langsung terdiam. Sedikit ngeri dengan ucapan Devan yang membuat tubuhnya terasa panas saat itu juga.
Tidak ada pilihan lain bagi Kania selain memejamkan matanya, menyusul Devan ke alam mimpi.
***
Shaka terlihat kesal melihat Ayah dan bundanya tidur berpelukan tanpa mengajak dirinya. Sejak sore sudah merengek minta tidur bersama Ayah dan bundanya, namun ternyata dia dipindahkan ke kamarnya sendiri setelah ketiduran di depan televisi.
Dan di tengah malam, Shaka terbangun dan diam-diam meninggalkan kamarnya yang dia tiduri bersama kakek dan neneknya, lalu membuka pintu kamar kedua orangtuanya yang tidak dikunci.
Melihat kedua orangtuanya yang tak menyadari kehadirannya, Shaka langsung tidur di tengah-tengah Devan dan Kania.
"Ayah sama Bunda tidurnya nyenyak, ya? Shaka masuk dan tidur di antara mereka saja mereka nggak bangun," gumam pria kecil yang sebentar lagi akan genap berusia enam tahun itu.
Shaka akhirnya memejamkan matanya untuk kembali tidur dengan dipeluk kedua orangtuanya. Ada kebahagiaan di hati Shaka yang belum bisa Shaka jelaskan. Hatinya terasa lengkap.
***
"Ini anak kapan pindahnya ke sini?"
Devan memandang Shaka yang masih tertidur, menjadi pembatas antara dirinya dan Kania.
"Ka, kamu yang mindahin Shaka ke sini?" tanya Devan saat Kania mulai membuka matanya.
"Enggak. Emang Shaka tidur sini?"
"Iya. Di tengah-tengah kita gini."
Kania langsung terperanjat menyadari Shaka berada di sampingnya dan masih tertidur lelap. "Kapan dia pindahnya?"
"Aku nggak tahu. Aku bangun dia udah di sini. Pintunya nggak kamu kunci ya, semalam?"
Kania menggeleng. Memang semalam dia yang terakhir masuk ke dalam kamar.
"Ck. Untung kita nggak ngapa-ngapain. Bisa gawat kalau Shaka tiba-tiba masuk dan kita lagi..."
"Apa?" sahut Kania dengan cepat sebelum Devan meyelesaikan ucapannya. "Pagi-pagi udah mesum!" rutuknya pelan.
"Mesum apa, sih? Emang aku tadi mau ngomong apa kok, kamu mikirnya aku mesum?"
Kania salah tingkah. Merutuki dirinya sendiri kenapa harus berpikiran seperti itu.
"Tau, ah! Ngeselin kamu," ucap Kania menghindar. Kania segera beranjak dari tempat tidurnya dan membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
🌼🌼🌼
kemarin ada yang nanyain Rama sama Dita. jadi rencananya mereka mau aku buatkan lapak sendiri. tapi setelah ini tamat. kira-kira mau masuk sini aja atau di lapak sendiri?
oh, iya. yang di sebelah bisa cek di ig aku namanya apa (follow dulu ig nya ). follow biar dapat notifikasinya. 🤣🤣🤣 nama ig : dhee.author