Benih CEO

Benih CEO
Bab 37


"Semua orang khawatir sama kamu, tapi kamu malah berduaan dengan lelaki itu. Ngapain? Mengulang masa lalu?"


Kania terperangah dengan ucapan Rama yang tak pernah dia duga Rama bisa mengatakan hal itu. Sebuah tamparan keras di berikan Kania untuk Rama sebagai hadiah atas apa yang dia ucapkan. Ucapan Rama begitu melukai hati dan harga diri Kania.


"Sampai hati kamu ngomong kayak gitu, Ram? Seburuk itu penilaian kamu tentang aku? Kita kenal udah berapa lama, sih? Kita dekat udah berapa lama?"


"Wajar, kan, kalau aku cemburu melihat kamu sama dia? Kamu kekasihku, Kania!"


"Tapi bukan berarti kamu bisa menuduhku seperti itu."


"Lalu jas lelaki itu kenapa bisa menempel di tubuh kamu?"


Kania menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk meredam emosinya.


"Percuma aku jelaskan sekarang. Kamu nggak akan percaya karena kamu sedang emosi. Lebih baik kamu pulang. Aku mau istirahat. Dan berhenti bersikap seolah kamu peduli."


"Apa maksud kamu?"


Kedua netra milik Kania menatap tajam mata Rama. "Kita selesai sampai di sini."


Rama tertawa hambar. Ucapan Kania hanya di anggap lelucon saja olehnya. "Jangan bercanda, Kania. Aku minta maaf kemarin aku_"


"Apa ini waktu yang pas untuk bercanda, Rama?" Dengan cepat Kania memotong ucapan Rama. "Kemana kamu di saat aku dan Shaka sedang ada masalah? Kemana kamu saat aku butuh dukungan kamu? Enggak ada, kan? Bahkan nomor kamu aja nggak aktif. Aku nggak minta bantuan kamu untuk menyelesaikan semuanya karena aku sadar, aku dan Shaka udah banyak ngerepotin kamu selama ini. Tapi setidaknya tanya, apa aku baik-baik saja. Apa Shaka baik-baik saja. Itu sudah cukup sebagai dukungan buat aku dan Shaka." Kania berusaha tetap tenang agar suaranya tak terlalu keras dan di dengar para tetangga.


"Aku minta maaf, Kania. Aku_"


"Sebenarnya hubungan apa yang kita jalani, Rama? Kita ini berusaha untuk bertahan atau hanya menunda perpisahan?"


Rama memegang kedua lengan Kania. Mengangkat dagu Kania agar Kania menatap kedua matanya. "Apa maksud kamu, Ka? Kamu tahu kita sedang berjuang untuk mendapatkan restu dari orangtuaku."


"Aku capek, Rama." Kania menghempaskan kedua tangan Rama dengan kasar. "Aku capek berjuang. Aku nggak mau menjadi pelangi untuk orang yang buta warna. Aku nggak mau berusaha menunjukkan bahwa aku ini orang baik di hadapan orang yang terlanjur menilaiku buruk. Fokus aku sekarang hanya Shaka. Aku nggak ada waktu untuk berjuang mendapatkan restu orangtua kamu."


Wajah Rama mulai panik mendengar semua ucapan Kania.


"Tolong jangan bicara seperti itu, Kania. Aku cinta sama kamu. Dan cuma kamu yang aku mau."


Kania menggelengkan kepalanya. "Cukup, Rama. Untuk apa kita bertahan dengan toxic relationship seperti ini? Hubungan kita udah nggak sehat semenjak aku tahu kedua orangtua kamu tidak menyukaiku. Hubungan kita udah rumit semenjak aku tahu Dita adalah wanita yang di jodohkan dengan kamu. Mari kita akhiri semua ini, Rama. Kita cari kebahagiaan kita sendiri-sendiri. Terimakasih sudah menjadi orang yang sangat baik untukku dan Shaka selama ini. Andai aku bisa mengganti semua itu, aku akan menggantinya. Asalkan tidak menggantinya dengan hati dan cintaku."


Tanpa menunggu jawaban Rama, Kania meninggalkan Rama untuk masuk ke dalam rumah.


Orang lain putus cinta biasanya menangis, meratapi dan sakit hati.


Tapi kali ini semua terasa lebih ringan bagi hati Kania setelah melepaskan Rama. Memang kedengarannya itu jahat. Tapi Kania juga tidak mau bertahan dengan hubungan yang sudah jelas akan berakhir bagaimana. Cepat atau lambat, hubungan Kania dan Rama akan berakhir.


Dan Kania lebih memilih untuk cepat-cepat mengakhirinya sebelum cintanya untuk Rama semakin dalam.


***


Tristan tertawa paling keras setelah mendengar cerita Kania yang terjebak di roof top sampai hampir pingsan karena kelaparan dan kedinginan.


Shaka yang sedang minta di ajari perkalian pun harus mencubit keras tangan Tristan karena lebih memilih mendengarkan cerita Kania daripada mengajari Shaka belajar.


"Sakit, Shaka," keluh Tristan sambil mengusap bekas cubitan Shaka di tangannya.


"Habisnya om suruh ngajarin malah asyik dengar cerita bunda. Satu-satu dulu di selesaikan. Ajarin Shaka dulu."


"Baiklah, Bos." Tristan menuruti keinginan Shaka. Mengajari Shaka soal perkalian dan pembagian angka. Padahal, di kelas Shaka belum di ajarkan materi tersebut. Tapi Shaka sudah bisa mengikuti pelajaran itu lebih cepat.


"Terus soal dua orang itu gimana sekarang, Ka?" Dua orang yang di maksud adalah Bu Renata dan Mama Helen.


"Suami Bu Renata katanya udah bisa kerja besok, Bu. Soal suami Mama Helen itu juga udah selesai. Lagian kasian juga kalau sampai rejeki mereka putus. Anak-anaknya sekolahnya gimana?"


"Ya sebenarnya itu pelajaran buat mereka juga, sih, Ka. Yang di lakukan Devan ada benarnya juga. Memberikan efek jera," timpal Karno.


"Aku pikir dengan seperti itu udah memberi efek jera, Pak. Udahlah. Masalah nggak perlu di perpanjang juga."


Karno dan Wening mengangguk setuju dengan ucapan Kania. Harapannya, semoga mereka benar-benar jera dan ke depannya bisa menjaga lisan mereka untuk tidak sembarang berucap.


"Semua pemberitaan yang beredar juga sudah di hentikan sama Devan. Untuk pelaku penyebar berita itu, Devan udah tahu, sih. Tapi dia nggak mau ngasih tahu dulu."


"Kalau kamu udah tahu siapa orangnya, kamu mau apa, Ka?"


Wening mengangguk paham dengan pemikiran Kania.


Kadang, orang memang seaneh itu. Urusan orang lain, masalah orang lain, merugikan dia juga tidak, tapi sempat-sempatnya dia ikut campur.


***


[ Kalau kamu mau tahu siapa yang menyebarkan berita tentang kita, kamu ke kantor sekarang. ]


Kania mengerutkan keningnya setelah membaca sebaris pesan dari nomor yang tidak di kenal. Perasaannya mengatakan kalau itu Devan. Tapi dia ragu. Dan memilih membalasnya agar mendapatkan jawaban yang pasti.


^^^[ Siapa? ]^^^


Tak sampai satu menit, balasan sudah masuk ke handphone Kania.


[ Devan ]


"Devan? Dapat nomor aku dari mana? Ah, aku lupa. Apa, sih, yang nggak bisa Devan dapatkan," gumam Kania sambil bersiap pergi ke kantor Devan.


Rasanya sangat penasaran, siapa yang menyebarkan berita tentang dirinya itu.


Setelah berpamitan pada orangtuanya lewat handphone karena orangtuanya sedang di sawah, Kania langsung pergi ke kantor Devan menggunakan ojek online yang sudah di pesannya.


Setengah jam kemudian, Kania sudah sampai di kantor Devan. Lagi-lagi dia kesusahan untuk masuk ke ruangan Devan karena Nindita menahannya lagi.


"Mbak ini yang kemarin nekat masuk, kan?" tanyanya penuh selidik.


Kania mengangguk mengiyakan. "Boleh saya masuk?"


"Udah ada janji dengan Pak Devan?"


"Udah. Nih." Kania menunjukkan isi pesannya dengan Devan. "Percaya?"


Nindita mengangguk. "Percaya. Silahkan masuk. Lain kali jangan di ulang lagi."


"Iya."


Selama di dalam lift, Kania memikirkan siapa yang akan dia temui di ruangan Devan nanti. Hatinya berdebar menunggu saat itu. Berharap lift akan berjalan lebih cepat lagi sehingga lebih cepat pula dia sampai ke ruangan Devan.


Kania menghembuskan napas lega saat pintu lift terbuka di lantai dua puluh satu. Saat itu juga matanya menangkap sosok yang dia kenali berjalan menuju ruangan Devan.


"Tasya!"


Tasya menoleh mendengar Kania memanggil namanya.


Kania mempercepat langkahnya untuk mendekati Tasya. "Jadi kamu yang udah nyebarin berita itu? Kenapa, sih, Tasya? Kamu ada masalah apa sama aku? Aku ada salah apa sama kamu sampai kamu tega menyebarkan berita itu?"


Kania langsung memberondong Tasya dengan berbagai pertanyaan. Rasanya begitu kesal karena tahu Tasya yang menyebarkan berita itu.


"Kania_"


"Kalau kamu nggak suka aku dekat dengan Devan, Bu Hanum dan Pak Bram, kamu bilang, Tasya. Kita bisa bicara baik-baik tanpa harus menyebarkan aib aku. Selain itu aku nggak pernah buat masalah sama kamu, kan? Tapi kenapa kamu tega melakukan ini sama aku?"


Tasya menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. "Kania, aku_"


"Aku kecewa sama kamu, Tasya. Kamu udah janji nggak akan nyebarin ini, kan? Ternyata kamu nggak bisa di percaya."


Tasya mulai kesal sendiri mendengar Kania yang mengomel sepanjang kereta.


"Jawab, Tasya! Kenapa kamu lsjdhxurhuwjeurnrh." Kania tak bisa melanjutkan ucapannya dengan jelas karena Tasya lebih dulu menyumpal mulut Kania dengan selembar tissue yang dia ambil dari tasnya dan sudah dia gulung menjadi bola kecil.


"Bisa diam dulu enggak, sih? Bukan aku pelakunya. Dia ada di dalam sana sama Devan. Ayo!"


Rasanya Kania ingin sembunyi di kolong meja. Malu. Malu sudah memarahi Tasya yang ternyata bukan pelakunya seperti yang dia kira tadi.


Tapi tangannya di tarik oleh Tasya. Di bawa mendekat dan masuk ke ruangan Devan.


🌼🌼🌼